News

Pencarian Pemuda Hilang di Rinjani: SAR Gunakan Drone Thermal

×

Pencarian Pemuda Hilang di Rinjani: SAR Gunakan Drone Thermal

Sebarkan artikel ini
Pencarian Pemuda Hilang di Rinjani: SAR Gunakan Drone Thermal
Kunjungi Sosial Media Kami

Lombok Timur, Jurnalekbis.com –sar-terus-mencari-pendaki-hilang-di-jurang-gunung-rinjani/" target="_blank" rel="noopener">Gunung Rinjani, yang terletak di Pulau Lombok, dikenal sebagai salah satu destinasi pendakian populer indonesia/">di Indonesia. Namun, keindahan alamnya seringkali menyimpan bahaya yang tidak terduga bagi para pendaki. Salah satu insiden yang menyita perhatian publik baru-baru ini adalah hilangnya seorang pemuda asal Jakarta, Kaifat Rafi Mubarok (16), setelah terjatuh ke jurang saat mendaki Gunung Rinjani pada Minggu (29/9) sore. Kejadian tersebut terjadi di punggungan arah Pelawangan menuju puncak Rinjani, yang memiliki medan curam dan penuh tantangan.

Kaifat Rafi Mubarok, yang dilaporkan hilang setelah terperosok ke dalam jurang dengan kedalaman sekitar 500 meter, terakhir terlihat ketika ia tengah dalam perjalanan menuju puncak. Peristiwa ini terjadi di lokasi yang terkenal sulit dijangkau oleh pendaki, terutama karena kondisi medan yang terjal dan licin. Puncak Rinjani sendiri merupakan tujuan yang sangat diminati oleh pendaki, namun perjalanan ke puncaknya kerap menuntut kewaspadaan ekstra, terutama di area sekitar Pelawangan yang curam.

Kantor SAR Mataram, yang dipimpin oleh Kepala SAR Lalu Wahyu Efendi, telah mengerahkan upaya maksimal untuk menemukan korban. Pencarian ini tidak hanya mengandalkan metode manual seperti penyisiran fisik, tetapi juga menggunakan teknologi canggih untuk mempercepat proses pencarian.

Baca Juga :  Tak Ingin Ada Manipulasi Hasil Pemilu, Mi6 Sebut Indonesia Butuh Pemantau Pemilu Internasional

Salah satu upaya inovatif yang diterapkan oleh tim SAR adalah penggunaan drone thermal. Drone ini dilengkapi dengan teknologi sensor panas yang mampu mendeteksi keberadaan manusia melalui panas tubuh. Dalam medan yang sulit dijangkau seperti di Gunung Rinjani, penggunaan drone ini menjadi sangat penting karena mampu menyisir area yang luas dan berbahaya.

Kepala SAR Mataram, Lalu Wahyu Efendi, menjelaskan bahwa penggunaan drone thermal diharapkan dapat membantu mempercepat pencarian. “Penggunaan drone untuk menyisir area yang lebih luas dan yang sulit dijangkau,” kata Wahyu pada Jumat (4/10). Teknologi ini memungkinkan tim SAR untuk mendeteksi tanda-tanda keberadaan korban di jurang yang curam dan hutan lebat yang sulit diakses secara manual.

Selain menggunakan drone, tim SAR juga menurunkan dua personel yang secara langsung melakukan penyisiran di tebing tempat korban diduga terjatuh. Tebing tersebut memiliki kedalaman sekitar 500 meter, yang tentunya menyulitkan upaya pencarian. Tim SAR yang dilengkapi dengan alat keselamatan melakukan pencarian dengan sangat hati-hati, mengingat risiko jatuh yang tinggi di medan tersebut.

Baca Juga :  ITDC dan Angkasa Pura I Latih Warga Lokal untuk Sukseskan MotoGP Mandalika

Lalu Wahyu Efendi menambahkan, “Hingga sore korban belum ditemukan, pencarian dilanjutkan besok pagi.” Kondisi medan yang ekstrem dan cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan tambahan dalam proses pencarian ini. Tim SAR harus menghadapi cuaca yang kerap berubah-ubah di pegunungan, yang bisa mengganggu visibilitas dan keamanan tim penyelamat.

Gunung Rinjani dikenal dengan medannya yang menantang. Selain tebing yang curam, area ini juga sering tertutup kabut tebal, terutama di musim hujan yang bisa tiba-tiba melanda. Tim SAR harus menghadapi cuaca yang tidak dapat diprediksi, di mana hujan dan kabut dapat mengganggu visibilitas serta menghambat penggunaan drone.

Cuaca di Gunung Rinjani juga terkenal tidak stabil, di mana hujan lebat sering tiba-tiba mengguyur meskipun pagi hari terlihat cerah. Faktor cuaca ini menjadi salah satu hambatan utama dalam upaya penyelamatan, karena selain mempengaruhi keamanan tim penyelamat, juga memperkecil peluang mendeteksi korban dalam waktu singkat. Oleh karena itu, pencarian harus dilakukan dengan sangat hati-hati, memastikan setiap langkah diambil dengan pertimbangan matang.

Hilangnya Kaifat Rafi Mubarok tentu menjadi pukulan berat bagi keluarganya yang kini hanya bisa berharap akan kabar baik dari tim penyelamat. Proses pencarian yang berlangsung beberapa hari tanpa hasil tentu menambah beban psikologis bagi keluarga korban yang menunggu dengan cemas. Kondisi ini menggambarkan betapa pentingnya pendampingan psikologis bagi keluarga korban yang tengah berduka dan berharap akan keselamatan orang yang mereka cintai.

Baca Juga :  Tingkatkan Keterampilan Industri Lokal, Disperin NTB Gelar Latihan CPPOB dan Pengemasan

Selain itu, berbagai upaya pencarian yang dilakukan oleh tim SAR juga menjadi harapan utama bagi keluarga korban. Namun, proses ini tentu membutuhkan waktu, kesabaran, serta dukungan dari berbagai pihak agar dapat berjalan lancar.

Teknologi drone thermal yang digunakan dalam pencarian ini menjadi salah satu inovasi yang sangat membantu, terutama di medan sulit seperti Gunung Rinjani. Teknologi ini memungkinkan tim penyelamat untuk melakukan pemantauan di area yang tidak bisa dijangkau manusia dengan mudah, sehingga mempercepat proses penyelamatan.

Drone thermal telah digunakan dalam berbagai operasi penyelamatan di seluruh dunia, terutama dalam situasi di mana korban hilang di area pegunungan atau hutan lebat. Sensor panas yang terdapat dalam drone ini mampu mendeteksi keberadaan manusia dengan membaca suhu tubuh yang kontras dengan lingkungan sekitar. Dalam kondisi seperti di Gunung Rinjani yang memiliki banyak jurang curam dan hutan lebat, penggunaan drone thermal sangat efektif untuk menemukan korban yang terjebak atau terluka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *