News

Jembatan Penghubung Dua Desa di Suela Putus Diterjang Banjir, Akses Warga Lumpuh Total

×

Jembatan Penghubung Dua Desa di Suela Putus Diterjang Banjir, Akses Warga Lumpuh Total

Sebarkan artikel ini
Jembatan Penghubung Dua Desa di Suela Putus Diterjang Banjir, Akses Warga Lumpuh Total

Lombok Timur, Jurnalekbis.com– Sebuah jembatan penghubung antar desa di Kecamatan Suela, Lombok Timur, putus tersapu banjir bandang setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama empat jam tanpa henti pada Rabu siang. Putusnya bagian beton tengah jembatan membuat akses utama antara Desa Perigi dan Desa Jeringo lumpuh total, memaksa warga mencari cara darurat untuk saling membantu dan menyalurkan bantuan.

Putusnya jembatan tersebut menjadi pukulan berat bagi aktivitas warga. Pasalnya, jalur itu merupakan satu-satunya akses yang menghubungkan dua desa. Saat ini, penyaluran bantuan maupun kebutuhan pokok terpaksa dilakukan menggunakan sistem tarik-ulur dengan tali karena tidak ada jalur lain yang memungkinkan kendaraan melintas.

Kepala Desa Perigi, Darmawan, mengatakan hujan ekstrem yang mengguyur sejak sebelum waktu zuhur menjadi pemicu terjadinya banjir bandang yang langsung menghantam pondasi dan badan jembatan. “Tadi sebelum zuhur itu hujan sangat lebat, sekitar empat jam. Setelah itu langsung terjadi banjir bandang dan mengakibatkan jembatan putus,” kata Darmawan.

Baca Juga :  Polres Loteng Berhasil Menghalau Massa Yang Akan Saling Serang di Pujut

Ia menegaskan bahwa tak ada jalan alternatif lain yang bisa digunakan warga untuk menuju fasilitas pemerintahan, sekolah, maupun layanan desa. Jika kondisi tidak segera ditangani, warga terpaksa memutar sejauh 20 kilometer melalui jalur Labuan Lombok, Seruni Mumbul, hingga Pringgabaya Utara. “Harus muter 20-an kilo. Ini satu-satunya jalan. Tanpa jembatan, warga yang mau ke kantor desa atau sekolah harus memutar jauh,” tambahnya.

Untuk mencegah jatuhnya korban jiwa, warga setempat menutup area jembatan menggunakan tumpukan batu dan kayu agar tidak ada yang mencoba melintas. Sementara itu, aktivitas sekolah serta pelayanan di desa kemungkinan diliburkan jika debit air sungai tetap tinggi hingga besok.

Baca Juga :  SJP, Kebutuhan yang Layak Kepada Pangan, Sandang dan Papan Prioritas Kami

Pemerintah desa bersama pihak kecamatan telah merencanakan pembangunan jembatan darurat menggunakan bambu. Namun rencana tersebut masih dalam kajian, mengingat panjang bentang jembatan yang cukup lebar dan memerlukan perhitungan struktur tambahan agar aman digunakan sementara.

Dari sisi cuaca, Kepala Stasiun Meteorologi ZAM, Satria Topan Primadi, menjelaskan bahwa wilayah NTB saat ini memang sudah memasuki musim hujan dengan intensitas yang cukup tinggi. “Saat ini hujan berada dalam kategori normal, hanya sifatnya dominan di atas normal. Artinya, intensitas hujan yang terjadi lebih tinggi dari biasanya,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pertengahan November hingga awal Desember merupakan periode yang perlu diwaspadai karena potensi hujan deras masih cukup tinggi, terutama di Pulau Sumbawa. Meski begitu, wilayah Lombok juga tetap berada dalam risiko bencana longsor dan banjir, khususnya di Lombok Tengah dan Lombok Barat.

Baca Juga :  Bripka Agus Salim Antar Dua Anak Yatim Belanja Perlengkapan Sekolah di Lombok Timur

Dengan kondisi tersebut, BMKG meminta masyarakat untuk tetap waspada, terutama bagi warga yang tinggal di daerah bantaran sungai atau dekat tebing. “Kita perlu waspadai area rawan longsor dan banjir. Hujan berpotensi meningkat dalam beberapa pekan ke depan,” ujar Satria.

Hingga Rabu malam, kondisi jembatan masih belum dapat dilalui. Warga berharap pemerintah kabupaten segera melakukan perbaikan darurat agar akses kedua desa bisa kembali normal secepat mungkin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *