Mataram, Jurnalekbis.com – Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 3,9 mengguncang wilayah Lombok Tengah, Lombok Barat, Lombok Timur, hingga Sumbawa pada Minggu (23/11/2025) siang. Meski getarannya dirasakan masyarakat, BMKG memastikan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi tsunami dan belum menimbulkan kerusakan.
Peristiwa gempa bumi tersebut terjadi pada pukul 13.57.42 WITA. Berdasarkan hasil analisis Stasiun Geofisika Mataram, episenter gempa berada pada koordinat 9,47° LS dan 116,53° BT, tepatnya di wilayah laut dengan jarak sekitar 87 km barat daya Sumbawa Barat, NTB, pada kedalaman 29 kilometer. Kedalaman dangkal ini menjadi salah satu indikasi bahwa sumber guncangan berasal dari aktivitas sesar aktif di dasar laut.
Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Sumawan, S.T., M.M., menjelaskan bahwa gempa kali ini termasuk kategori gempa dangkal yang umum terjadi pada wilayah dengan aktivitas tektonik aktif. “Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi ini merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif di dasar laut,” ujarnya dalam keterangan resmi.
BMKG mencatat, guncangan gempa dirasakan pada skala II MMI di beberapa wilayah. Getaran pada level tersebut membuat sebagian orang merasakan goyangan ringan, dan benda-benda menggantung seperti lampu atau hiasan tampak berayun. Warga di Lombok Tengah, Lombok Barat, Lombok Timur, dan Sumbawa melaporkan adanya getaran singkat, namun cukup jelas terasa.
Hingga berita ini rilis, tidak ada laporan kerusakan bangunan maupun dampak signifikan lainnya akibat guncangan tersebut. BMKG juga menegaskan bahwa hasil pemodelan menunjukkan gempa ini tidak memicu potensi tsunami, sehingga masyarakat di wilayah pesisir diminta tetap tenang.
Menurut Sumawan, masyarakat diimbau untuk tetap waspada, namun tidak perlu panik. Ia menekankan pentingnya memastikan keamanan bangunan setelah terjadi gempa, khususnya bagi warga yang menempati rumah atau gedung yang pernah mengalami keretakan sebelumnya. “Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal Anda cukup tahan gempa, atau tidak ada kerusakan akibat getaran yang dapat membahayakan kestabilan struktur sebelum kembali masuk ke dalam rumah,” tegasnya.
BMKG juga memastikan bahwa hingga pukul 14.30 WITA, atau sekitar 30 menit setelah kejadian, tidak ada aktivitas gempa bumi susulan (aftershock). Monitoring masih terus dilakukan untuk memastikan kondisi tektonik tetap aman bagi masyarakat.
Di tengah tingginya arus informasi yang beredar cepat di media sosial, BMKG kembali menekankan agar masyarakat tidak terpancing oleh kabar atau isu tidak bertanggung jawab terkait potensi gempa lanjutan maupun tsunami. Informasi resmi hanya disampaikan melalui kanal resmi BMKG atau instansi pemerintah terkait.
Gempabumi berkekuatan rendah hingga menengah seperti ini memang kerap terjadi di wilayah NTB, mengingat daerah tersebut berada pada zona rawan gempa akibat pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Meski tergolong kecil, BMKG tetap mengingatkan bahwa kewaspadaan masyarakat sangat penting untuk mengurangi risiko apabila terjadi gempa yang lebih besar.
Dengan kondisi saat ini yang terkendali, BMKG memastikan pihaknya akan terus memantau perkembangan aktivitas tektonik di wilayah Nusa Tenggara Barat. Masyarakat diminta tetap mengikuti informasi resmi sebagai acuan utama dalam mengambil langkah antisipasi.












