Mataram, Jurnalekbis.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) sebesar 3,01 persen pada Desember 2025. Angka tersebut menunjukkan adanya kenaikan harga sejumlah komoditas strategis, terutama pada kelompok makanan serta perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang menjadi penyumbang terbesar inflasi di wilayah ini.
Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, M.M., menjelaskan bahwa inflasi y-on-y Desember 2025 tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) NTB yang mencapai 110,26. Dari seluruh kabupaten dan kota yang dipantau, inflasi tertinggi terjadi di Kota Mataram sebesar 3,21 persen dengan IHK 110,44. Sementara itu, inflasi terendah tercatat di Kabupaten Sumbawa sebesar 2,78 persen dengan IHK 109,98.
“Secara umum, inflasi tahunan di NTB masih berada pada level yang terkendali, meski ada beberapa kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan cukup signifikan,” ujar Wahyudin dalam keterangannya, Senin (5/ 1/2026).
BPS mencatat, inflasi y-on-y di NTB dipicu oleh kenaikan harga pada sembilan dari sebelas kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama dengan inflasi sebesar 3,83 persen. Kenaikan harga bahan pangan dinilai masih dipengaruhi oleh faktor musiman, distribusi, serta meningkatnya permintaan pada akhir tahun.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi mencapai 17,76 persen. Kenaikan ini antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya tarif berbagai jasa perawatan serta kebutuhan personal masyarakat. Kelompok pendidikan juga mengalami inflasi sebesar 2,79 persen, disusul kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,99 persen.
Kelompok pengeluaran lainnya yang turut mengalami kenaikan antara lain pakaian dan alas kaki sebesar 0,84 persen; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,89 persen; kesehatan sebesar 1,75 persen; transportasi sebesar 0,68 persen; serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 1,63 persen.
Di sisi lain, tidak semua kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. BPS mencatat adanya penurunan indeks pada kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,58 persen. Penurunan juga terjadi pada kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,34 persen, yang mencerminkan masih adanya stabilitas harga pada sektor-sektor tertentu.
Selain inflasi tahunan, BPS juga melaporkan tingkat inflasi bulanan atau month to month (m-to-m) Provinsi NTB pada Desember 2025 sebesar 0,72 persen. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan harga dibandingkan November 2025, seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat menjelang akhir tahun.
Sementara itu, tingkat inflasi year to date (y-to-d) NTB hingga Desember 2025 tercatat sebesar 3,01 persen, sejalan dengan inflasi tahunan. Wahyudin menegaskan, capaian tersebut menjadi indikator penting bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk terus menjaga stabilitas harga, terutama pada komoditas kebutuhan pokok.
“Pengendalian inflasi perlu terus diperkuat melalui sinergi pemerintah daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta seluruh pemangku kepentingan, agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” pungkasnya.
Dengan perkembangan tersebut, inflasi NTB di akhir 2025 mencerminkan dinamika harga yang masih perlu diwaspadai, khususnya pada kelompok pangan dan jasa, di tengah upaya menjaga stabilitas ekonomi daerah.













