NewsNusantara

Cuaca Ekstrem Hantam Sekotong Barat, Ratusan Nelayan Lombok Barat Tak Melaut

×

Cuaca Ekstrem Hantam Sekotong Barat, Ratusan Nelayan Lombok Barat Tak Melaut

Sebarkan artikel ini
Cuaca Ekstrem Hantam Sekotong Barat, Ratusan Nelayan Lombok Barat Tak Melaut

Lombok Barat, Jurnalekbis.com – Gelombang tinggi dan cuaca ekstrem yang melanda perairan Lombok Barat lebih dari sepekan terakhir membuat aktivitas melaut nelayan di Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, terhenti total. Akibatnya, ratusan warga yang menggantungkan hidup dari laut kini kehilangan penghasilan.

Kepala Desa Sekotong Barat, Saharudin, mengatakan cuaca buruk tersebut sudah berlangsung lebih dari satu minggu dan belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Kondisi laut dinilai sangat berbahaya bagi keselamatan nelayan.

“Sudah satu minggu lebih nelayan kami tidak bisa melaut karena cuaca buruk. Ombaknya besar,” kata Saharudin, Rabu (28/1).

Menurut dia, sektor kelautan menjadi sumber penghidupan utama warga Desa Sekotong Barat. Selain nelayan tangkap, banyak warga bekerja sebagai boatman atau pemandu perahu. Saat cuaca ekstrem terjadi, seluruh aktivitas di laut otomatis berhenti.

Baca Juga :  Subaru 360: Si Mungil nan Legendaris

“Ada yang nelayan, ada juga yang boatman. Intinya sama-sama mencari penghasilan di laut,” ujarnya.

Cuaca buruk tidak hanya berdampak pada pendapatan warga, tetapi juga mengancam aset nelayan. Saharudin menyebut, perahu dan sampan milik warga harus dipindahkan dari bibir pantai ke tempat aman agar tidak rusak diterjang gelombang.

“Kadang-kadang sampan yang belum dinaikkan ke pantai harus dipindahkan semua. Kalau tidak, bisa hancur,” katanya.

Data pemerintah desa mencatat, lebih dari 200 nelayan terdampak langsung akibat kondisi tersebut. Jika dihitung secara keseluruhan, jumlah warga yang bergantung pada sektor kelautan di Sekotong Barat mencapai lebih dari 400 orang yang tersebar di beberapa dusun.

“Yang terdampak sekitar 200 lebih nelayan. Kalau satu desa, bisa 400 lebih warga,” ujar Saharudin.

Baca Juga :  IM3 Platinum: Nomor Eksklusif & Jaringan Stabil, Pilihan Gen Z!

Selama aktivitas melaut terhenti, sebagian besar nelayan tidak memiliki pekerjaan alternatif yang tetap. Mereka terpaksa mengandalkan pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara sebagian lainnya memilih menganggur karena terbatasnya lapangan kerja.

“Kalau tidak melaut, ya nganggur. Kadang-kadang cari kerja serabutan,” ucapnya.

Saharudin menjelaskan, cuaca ekstrem seperti ini memang kerap terjadi setiap tahun pada periode tertentu. Berdasarkan pengalaman warga, gelombang tinggi biasanya muncul pada bulan November hingga Januari. Namun, kali ini cuaca buruk berlangsung lebih lama dan nyaris tanpa jeda.

“Biasanya ada jeda beberapa hari. Kemarin sempat satu hari bagus, setelah itu cuaca buruk lagi,” katanya.

Pemerintah desa berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk membantu warga yang terdampak. Bantuan dinilai penting untuk menjaga ketahanan ekonomi keluarga nelayan selama tidak bisa melaut.

Baca Juga :  Ketidakpastian Global Meningkat, Tokoh Nasional Soroti Ketahanan Sosial dari Akar Masyarakat

“Harapan dari desa, mudah-mudahan ada bantuan dari pemerintah. Karena kondisi cuaca seperti ini tidak bisa ditolak, ini memang musimnya,” ujar Saharudin.

Ia menegaskan, tanpa dukungan dan solusi jangka pendek, tekanan ekonomi akan semakin dirasakan oleh keluarga nelayan, terutama mereka yang sepenuhnya bergantung pada hasil laut.

“Tidak ada alternatif lain selain jadi buruh atau kerja serabutan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *