Mataram, Jurnalekbis.com — Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 3,6 mengguncang wilayah Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, Senin (16/2/2026) malam. Getaran dilaporkan terasa di sejumlah daerah, termasuk Kota Bima. Hingga pukul 20.10 WITA, belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa.
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada pukul 19.42.16 WITA. Episenter berada pada koordinat 8,60° Lintang Selatan dan 118,41° Bujur Timur, atau sekitar 9 kilometer barat daya Dompu, dengan kedalaman 114 kilometer.
Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Sumawan, menjelaskan gempa tersebut tergolong gempa menengah yang dipicu aktivitas deformasi batuan di dalam lempeng Indo-Australia atau dikenal sebagai intra-slab earthquake.
“Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa ini merupakan gempa menengah akibat aktivitas deformasi batuan dalam lempeng Indo-Australia. Mekanisme sumbernya menunjukkan pola turun dengan kombinasi mendatar atau oblique normal fault,” kata Sumawan dalam keterangan tertulis, Senin malam.

BMKG mencatat intensitas guncangan di wilayah Sumbawa Besar mencapai III MMI. Pada skala ini, getaran dirasakan nyata di dalam rumah dan terasa seperti ada kendaraan berat melintas. Sementara di Kota Bima, guncangan berada pada level II MMI, yakni dirasakan oleh sebagian orang dan membuat benda ringan yang digantung bergoyang.
Meski sempat membuat warga terkejut, hingga saat ini tidak ada laporan dampak kerusakan bangunan maupun korban akibat peristiwa tersebut. BMKG juga memastikan, sampai pukul 20.10 WITA, belum terpantau adanya aktivitas gempa susulan (aftershock).
Sumawan mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan. Ia meminta warga memastikan setiap kabar kebencanaan hanya berasal dari kanal resmi BMKG.
“Kami mengajak masyarakat untuk tetap waspada namun tidak panik. Pastikan informasi gempa hanya dari sumber resmi BMKG melalui media sosial terverifikasi, situs web, maupun aplikasi mobile,” ujarnya.
BMKG menegaskan, pemantauan aktivitas seismik di wilayah NTB terus dilakukan secara intensif. Masyarakat juga diimbau mengecek kondisi bangunan tempat tinggal masing-masing dan memastikan tidak ada kerusakan struktural yang membahayakan, terutama jika merasakan getaran cukup kuat.
Sebagai langkah antisipasi, warga diminta memahami prosedur keselamatan gempa bumi, seperti menjauhi bangunan retak, menghindari tiang listrik atau papan reklame saat berada di luar ruangan, serta menyiapkan tas siaga bencana.
NTB sendiri merupakan salah satu wilayah rawan gempa karena berada di jalur pertemuan lempeng tektonik. Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko apabila gempa dengan magnitudo lebih besar terjadi di kemudian hari.













