Lombok Timur, Jurnalekbis.com – Sekelompok warga Desa Paok Lombok, Kecamatan Suralaga, Kabupaten Lombok Timur, melakukan aksi perusakan terhadap bangunan dapur MBG pada Selasa (17/2) malam. Aksi itu diduga dipicu kekecewaan warga yang menolak pembangunan dapur MBG di atas lahan wakaf.
Peristiwa tersebut terjadi setelah serangkaian pertemuan antara warga, pengelola yayasan, dan pemerintah desa belum menemukan titik temu. Akibat kejadian itu, gerbang area dapur MBG dilaporkan mengalami kerusakan. Pengurus yayasan pun telah melaporkan insiden tersebut ke Polres Lombok Timur.
Kepala Desa Paok Lombok, H. Rasidi, mengatakan pemerintah desa sejak awal telah berupaya memfasilitasi dialog agar persoalan tidak berujung pada tindakan anarkistis.
“Kalau dari pemerintah desa jelas kami menilai itu salah. Silakan sampaikan aspirasi, tapi jangan sampai melakukan perusakan,” kata Rasidi,Rabu (19/2).
Ia menjelaskan, penolakan bermula dari keberatan sebagian warga karena pembangunan dapur MBG dilakukan di lahan wakaf, serta minimnya koordinasi awal dengan masyarakat. Bahkan sebelum aksi perusakan terjadi, pihak desa sudah beberapa kali menggelar mediasi.
“Sudah tiga kali kita lakukan mediasi. Hearing juga sempat digelar di kantor desa, lalu rapat koordinasi di wilayah pesantren. Hari ini akhirnya kita sepakat pembangunan MBG dilanjutkan, karena menurut pengurus yayasan, ini juga bagian dari pengembangan usaha yayasan,” ujarnya.
Meski demikian, Rasidi mengakui masih ada kelompok warga yang belum puas dengan hasil kesepakatan tersebut. Pemerintah desa pun menyatakan siap menjadi mediator lanjutan agar kedua belah pihak tidak saling dirugikan.

Sementara itu, Kapolsek Suralaga, Lalu Masoan, membenarkan adanya aksi perusakan yang dilakukan oleh sekelompok pemuda. Menurutnya, pemicu utama adalah anggapan warga bahwa lokasi pembangunan merupakan tanah wakaf masyarakat, ditambah penggunaan ruang kelas yang sempat dialihkan untuk kegiatan MBG.
“Awalnya ada penolakan. Hearing sudah dilakukan tanggal 10, lalu pertemuan dengan tokoh masyarakat pada tanggal 12, tapi belum ada kesimpulan. Kemungkinan karena kecewa, akhirnya terjadi perusakan malam itu,” jelas Lalu Masoan.
Ia menambahkan, laporan resmi sudah masuk dari pihak yayasan ke Polres Lombok Timur. Saat ini, penanganan perkara berada di tingkat Polres.
“Pengurus yayasan sudah membuat laporan. Kita tunggu proses dari Polres. Untuk situasi wilayah sekarang masih kondusif,” katanya.
Terkait kerugian akibat perusakan, pihak kepolisian belum dapat memastikan nominalnya karena masih dalam tahap pendataan. Aparat bersama pemerintah desa dan kecamatan juga terus berkoordinasi untuk mencari solusi damai.
“Kami berharap kedua belah pihak tidak saling merugikan. Pemerintah desa juga sedang mencari langkah terbaik agar persoalan ini bisa diselesaikan secara baik-baik,” ujarnya.
Pemerintah desa menegaskan komitmennya membuka ruang dialog lanjutan, sekaligus menghimbau masyarakat agar menyampaikan aspirasi melalui jalur musyawarah, bukan tindakan destruktif. Dengan pendekatan persuasif, diharapkan konflik terkait pembangunan dapur MBG ini dapat segera diselesaikan tanpa menimbulkan dampak sosial yang lebih luas. (Tony).













