Lombok Timur, Jurnalekbis.com – Banjir melanda Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (20/2/2026) sore sekitar pukul 15.30 WITA. Sedikitnya 150 kepala keluarga (KK) di Desa Obel-obel terdampak akibat luapan sungai setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut.
Data sementara yang dihimpun hingga Sabtu (21/2/2026) pukul 09.31 WITA menyebutkan, banjir terjadi di tiga dusun yakni Batumpak, Kesambik, dan Medas. Rinciannya, 100 KK terdampak di Dusun Batumpak, 20 KK di Dusun Kesambik, dan 30 KK di Dusun Medas.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB, Sadimin, ST., MT., mengatakan banjir dipicu curah hujan tinggi yang menyebabkan sungai meluap ke permukiman warga. Selain itu, kondisi sungai yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi memperparah luapan air.
“Hujan dengan intensitas tinggi terjadi di wilayah Kecamatan Sambelia dan sekitarnya. Ditambah adanya pendangkalan sungai akibat sedimentasi, sehingga air meluap ke rumah-rumah warga,” ujar Sadimin dalam keterangan resminya.
Menurut dia, banjir sempat merendam sejumlah rumah warga dengan ketinggian air bervariasi. Meski demikian, tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Saat ini, kondisi air dilaporkan telah surut dan warga mulai membersihkan sisa material lumpur yang masuk ke rumah.
BPBD Provinsi NTB langsung berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Lombok Timur dan sejumlah pemangku kepentingan setempat begitu menerima laporan kejadian. Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pendataan dan pendampingan.

“Kami melakukan koordinasi lintas instansi, termasuk dengan TNI, Polri, aparatur kecamatan dan desa, serta masyarakat setempat. Dukungan logistik, personel, dan peralatan juga sudah dikerahkan ke lokasi terdampak,” kata Sadimin.
Selain penanganan darurat, BPBD juga melakukan pelaporan serta diseminasi informasi kebencanaan kepada masyarakat guna mengantisipasi potensi kejadian susulan. Hingga saat ini, kebutuhan mendesak masih dalam proses pendataan oleh petugas di lapangan.
Sadimin mengimbau masyarakat NTB untuk meningkatkan kewaspadaan. Ia mengingatkan bahwa wilayah NTB kini telah memasuki periode puncak musim hujan. Berdasarkan prakiraan cuaca dasarian III Februari 2026 (21–28 Februari), terdapat peluang hujan dengan intensitas lebih dari 50 mm per dasarian sebesar 80 hingga lebih dari 90 persen yang berpotensi terjadi hampir di seluruh wilayah NTB.
Bahkan, peluang hujan dengan intensitas lebih dari 100 mm per dasarian dengan probabilitas 80 hingga lebih dari 90 persen diprediksi terjadi di Kota Mataram, sebagian wilayah Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara, serta sebagian kecil Sumbawa Barat dan Sumbawa.
“Kami mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir dan bantaran sungai agar tetap waspada, terutama saat hujan lebat berlangsung cukup lama. Segera laporkan jika terjadi peningkatan debit air yang signifikan,” ujarnya.
BPBD NTB juga mendorong pemerintah kabupaten/kota untuk memperkuat mitigasi, termasuk normalisasi sungai dan pembersihan saluran air guna mengurangi risiko banjir berulang. Dengan curah hujan yang masih tinggi dalam beberapa hari ke depan, potensi bencana hidrometeorologi dinilai masih perlu diantisipasi secara serius.













