News

Longsor Landa Lombok Barat, Jembatan Penghubung Desa Ambruk

×

Longsor Landa Lombok Barat, Jembatan Penghubung Desa Ambruk

Sebarkan artikel ini
Longsor Landa Lombok Barat, Jembatan Penghubung Desa Ambruk

Lombok Barat, Jurnalekbis.com – Bencana tanah longsor melanda Desa Sekotong Timur, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, Minggu (22/2/2026) pagi sekitar pukul 07.30 WITA. Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sepanjang malam menyebabkan jembatan di Dusun Kambeng Dese ambruk dan material longsor menutup akses jalan di Dusun Kambeng Timur. Akibatnya, aktivitas warga terganggu dan akses antar desa terputus.

Informasi yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyebutkan, jembatan yang ambruk merupakan satu-satunya akses penghubung antara Desa Sekotong Timur dan Desa Mareje, yang sama-sama berada di Kecamatan Lembar. Putusnya akses ini membuat mobilitas warga, termasuk distribusi kebutuhan pokok, terhambat.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB, Sadimin, mengatakan pihaknya langsung menerjunkan Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) untuk melakukan survei dan pendataan dampak di lokasi kejadian. “Hujan yang terjadi semalaman mengakibatkan longsor dan ambruknya jembatan penghubung. Saat ini tim masih melakukan asesmen untuk langkah penanganan darurat,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Baca Juga :  Fihirudin: Pemda Lombok Tengah Harus Bertindak Tegas

Selain jembatan yang ambruk di Dusun Kambeng Dese, longsor juga terjadi di Dusun Kambeng Timur. Material tanah dan bebatuan menutup badan jalan dusun sehingga kendaraan tidak dapat melintas. Warga setempat bersama aparat desa dan unsur TNI/Polri berupaya membersihkan material secara manual sembari menunggu bantuan peralatan.

BPBD mencatat tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, dampak kerusakan infrastruktur dinilai cukup signifikan karena menyangkut akses vital masyarakat. Sejumlah kebutuhan mendesak telah diidentifikasi, antara lain pembangunan jembatan darurat, karung untuk penanganan tanggul sementara, alat kebersihan, serta distribusi air bersih dan makanan siap saji bagi warga terdampak.

Sadimin mengingatkan bahwa wilayah NTB saat ini memasuki periode puncak musim hujan. Berdasarkan prakiraan cuaca dasarian III Februari 2026 (21–28 Februari), peluang hujan dengan intensitas di atas 50 mm per dasarian mencapai 80 hingga lebih dari 90 persen di hampir seluruh wilayah NTB. Bahkan, potensi hujan di atas 100 mm per dasarian dengan peluang yang sama diperkirakan terjadi di Kota Mataram dan sebagian wilayah Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara, serta sebagian Sumbawa Barat dan Sumbawa.

Baca Juga :  Rahasia Memasak Daging Kambing agar Gurih dan Bebas Bau Amis

“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor, terutama yang tinggal di daerah lereng, bantaran sungai, dan wilayah rawan,” katanya.

Pemerintah daerah melalui BPBD Kabupaten Lombok Barat saat ini berkoordinasi dengan aparat kecamatan dan desa untuk menentukan langkah penanganan lanjutan, termasuk kemungkinan penetapan status tanggap darurat bila situasi memburuk. Sementara itu, akses alternatif tengah diupayakan agar aktivitas warga dapat kembali berjalan meski terbatas.

Bencana ini menjadi pengingat bahwa infrastruktur di wilayah rawan longsor membutuhkan perhatian serius, terutama saat intensitas hujan meningkat. Warga diimbau segera melapor kepada aparat setempat jika menemukan retakan tanah atau tanda-tanda pergerakan lereng guna mencegah risiko yang lebih besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *