Opini

Ketika Ilmu Menjadi Senjata Negara

×

Ketika Ilmu Menjadi Senjata Negara

Sebarkan artikel ini
Ketika Ilmu Menjadi Senjata Negara
Oleh: Yudistira (Mahasiswa Pascasarjana Unram, Kabid KP KAMMI NTB 2024-2026)

Dunia hari ini lagi panas. Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel bukan sekadar adu pernyataan politik atau pamer kekuatan militer. Yang sedang dipertontonkan ke dunia sebenarnya adalah adu kecerdasan, adu teknologi, adu kapasitas riset.

Drone yang bisa terbang ribuan kilometer dengan presisi tinggi. Rudal yang bisa dikendalikan dengan akurasi nyaris tanpa celah. Sistem pertahanan yang mampu membaca ancaman dalam hitungan detik. Itu semua bukan muncul tiba-tiba. Itu lahir dari kampus-kampus yang serius, laboratorium yang hidup 24 jam, dan negara yang benar-benar menaruh pendidikan dan riset sebagai tulang punggung kedaulatan.

Perang modern bukan lagi soal siapa punya tentara paling banyak. Tapi siapa yang punya ilmuwan paling siap.

Baca Juga :  Belajar Cinta dan Kepercayaan dari Mangrove

Lalu lihat negeri kita sendiri, Indonesia..

Kita memang tidak sedang dihujani rudal. Tidak ada drone asing yang melintas di langit kita. Tapi jangan salah, kita juga sedang berperang. Bedanya, musuh kita bukan negara lain. Musuh kita adalah ketertinggalan, ketergantungan teknologi, dan mentalitas instan.

Pertanyaannya sederhana: apakah pendidikan di negeri ini sudah benar-benar diposisikan sebagai prioritas masa depan? Atau masih sebatas slogan di spanduk dan pidato seremoni?

Negara-negara yang hari ini terlihat “menyeramkan” di panggung geopolitik, puluhan tahun lalu mungkin juga sedang membangun fondasi. Mereka investasi di sains, teknologi, matematika, riset pertahanan, bahkan kecerdasan buatan. Mereka sadar, kedaulatan tidak hanya dijaga dengan senjata, tapi dengan pengetahuan.

Baca Juga :  Libatkan Aktivisi Kampus dalam riset, KAMMI berikan apresiasi dan catatan kritis kepada Menristekdikti.

Kita sering bangga dengan bonus demografi. Tapi tanpa pendidikan yang kuat, bonus itu bisa berubah jadi beban demografi.

Sebagai orang yang berkecimpung di dunia akademik dan gerakan mahasiswa, saya makin yakin: perjuangan hari ini bukan hanya soal wacana politik lima tahunan. Bukan cuma soal siapa menang pemilu. Tapi soal siapa yang serius membangun manusia Indonesia yang unggul.

Kalau hari ini kita tidak bisa membuat drone canggih, minimal kita bisa mulai dengan memperbaiki kualitas guru dan prioritas pendidikan lainnya. Kalau kita belum punya sistem pertahanan pintar, minimal kita bisa membangun ekosistem riset yang tidak alergi pada kritik dan perbedaan gagasan.

Kita tidak sedang berperang dengan senjata. Tapi kita sedang berperang dengan ketertinggalan.

Baca Juga :  Politik Uang: Musuh Dalam Selimut Demokrasi di Pilkada NTB

Dan senjata kita seharusnya jelas: pendidikan yang serius, riset yang didukung penuh, dan keberanian politik untuk menjadikannya prioritas utama bukan pelengkap anggaran.

Karena di era geopolitik modern, yang lemah bukan yang tidak punya tentara, tapi yang tidak punya ilmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *