NewsNusantara

Balita 2,5 Tahun yang Hilang di Sembalun Ditemukan Meninggal, Jasadnya 3 Km dari Rumah

×

Balita 2,5 Tahun yang Hilang di Sembalun Ditemukan Meninggal, Jasadnya 3 Km dari Rumah

Sebarkan artikel ini
Balita 2,5 Tahun yang Hilang di Sembalun Ditemukan Meninggal, Jasadnya 3 Km dari Rumah

Lombok Timur, Jurnalekbis.com – Pencarian terhadap Muhammad Rafid Zaki (2,5), balita yang dilaporkan hilang di Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, akhirnya berakhir duka. Setelah tiga hari pencarian, korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Rabu (11/3) sore.

Jasad balita tersebut ditemukan sekitar pukul 15.30 WITA di area DAM aliran sungai oleh warga yang hendak mandi di lokasi tersebut. Titik penemuan berada sekitar tiga kilometer ke arah barat dari lokasi awal korban dilaporkan hilang.

Koordinator Pos SAR Kayangan, M. Darwis, mengatakan korban ditemukan setelah tim gabungan bersama masyarakat melakukan penyisiran intensif di sepanjang aliran sungai dan area sekitar desa sejak hari pertama laporan diterima.

“Korban ditemukan oleh warga yang sedang mandi di area DAM. Lokasinya sekitar tiga kilometer ke arah barat dari titik awal perkiraan hilangnya korban,” kata Darwis dalam keterangan yang diterima, Rabu (11/3).

Baca Juga :  Indosat Ooredoo Hutchison Semarakkan Ramadan dengan "Indosat Berkah Ramadan 2024"

Setelah ditemukan, tim SAR gabungan segera melakukan proses evakuasi terhadap jasad korban. Selanjutnya, korban diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses pemakaman.

Darwis menjelaskan, operasi pencarian yang berlangsung selama tiga hari itu melibatkan puluhan personel dari berbagai unsur, termasuk tim SAR, aparat pemerintah daerah, relawan, hingga masyarakat setempat.

Tragedi ini bermula pada Minggu (8/3) pagi. Berdasarkan keterangan keluarga, korban saat itu sedang bermain di depan rumahnya di Desa Sembalun Lawang.

Ibu korban sempat meninggalkan anaknya selama sekitar 30 menit untuk melakukan aktivitas di dalam rumah. Namun ketika kembali ke depan rumah, balita tersebut sudah tidak terlihat.

Kondisi tersebut membuat keluarga panik dan langsung melakukan pencarian di sekitar rumah dan lingkungan desa.

“Keluarga bersama warga langsung mencari di sekitar rumah hingga ke aliran sungai yang jaraknya sekitar 10 meter dari rumah korban,” ujar Darwis.

Karena tidak kunjung ditemukan, keluarga akhirnya melaporkan kejadian tersebut kepada aparat setempat yang kemudian diteruskan kepada Kantor SAR Mataram untuk meminta bantuan pencarian.

Baca Juga :  Deklarasi di Mataram, Ni Putu Virgi Siap Pimpin PP KMHDI 2026–2028

Mendapatkan laporan tersebut, tim SAR segera mengerahkan personel untuk melakukan operasi pencarian bersama unsur gabungan.

Operasi pencarian dilakukan dengan menyisir area permukiman warga, ladang, serta aliran sungai yang berada tidak jauh dari rumah korban. Tim juga memperluas radius pencarian hingga beberapa kilometer dari titik awal hilangnya korban.

Sejumlah peralatan SAR turut digunakan untuk mendukung proses pencarian, termasuk peralatan evakuasi dan penyisiran di sepanjang aliran sungai.

Tim SAR gabungan yang terlibat dalam operasi ini berasal dari berbagai instansi, di antaranya Tim Rescue Kantor SAR Mataram, Pos SAR Kayangan, Camat Sembalun, SAR Unit Lombok Timur, Polsek Sembalun, Satpol PP, Damkar dan Penyelamatan Lombok Timur, BPBD Lombok Timur, serta pemerintah desa setempat.

Baca Juga :  Desa Segala Anyar dan Desa Ketara Sepakat Berdamai.

Selain itu, sejumlah organisasi relawan seperti Tagana, TSBK Bima, TSBD Sembalun, dan masyarakat setempat juga turut membantu proses pencarian.

Darwis menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam operasi tersebut.

“Terima kasih kepada semua unsur yang telah membantu proses pencarian sejak hari pertama hingga korban ditemukan,” ujarnya.

Dengan ditemukannya korban, operasi SAR terhadap balita tersebut secara resmi dinyatakan selesai dan ditutup.

Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat setempat. Warga Desa Sembalun Lawang yang sejak awal turut membantu pencarian terlihat berkumpul saat proses evakuasi berlangsung.

Tragedi tersebut juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap keselamatan anak-anak, terutama yang masih berusia balita, agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *