Mataram, Jurnalekbis.com — Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai mematangkan persiapan menghadapi Operasi Ketupat Rinjani 2026. Melalui kegiatan Analisa dan Evaluasi (Anev) bulanan, seluruh personel diminta meningkatkan kesiapan operasional, terutama dalam pengamanan arus mudik dan arus balik Lebaran yang tahun ini berdekatan dengan perayaan Hari Raya Nyepi.
Kegiatan evaluasi tersebut digelar di Aula Hanggar Polda NTB pada Kamis (12/3/2026). Anev dipimpin langsung Direktur Polairud Polda NTB Kombes Pol Boyke F.S. Samola dan diikuti para pejabat utama Ditpolairud. Sementara itu, Komandan Kapal (Danpal) serta Kepala Satuan Polisi Air dan Udara (Kasatpolairud) dari wilayah Pulau Sumbawa mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom Meeting.
Dalam arahannya, Boyke menekankan pentingnya pendataan seluruh kegiatan kepolisian secara akurat dan real-time. Menurutnya, dokumentasi kegiatan menjadi dasar penting untuk menilai kinerja sekaligus memastikan setiap operasi berjalan sesuai rencana.
“Seluruh hasil kegiatan harus didata secara real dan akurat. Dengan data yang jelas, kita bisa melihat kegiatan mana yang sudah berjalan sesuai target dan mana yang perlu diperbaiki,” ujar Boyke dalam kegiatan tersebut.
Ia menilai evaluasi rutin menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga profesionalitas dan kesiapan personel, terutama bagi satuan yang bertugas di wilayah perairan yang memiliki karakteristik operasi berbeda dengan wilayah darat.
Selain mengevaluasi kinerja, Anev juga difokuskan pada kesiapan menghadapi Operasi Ketupat Rinjani. Operasi kepolisian tahunan ini digelar untuk mengamankan arus mudik dan arus balik Lebaran, termasuk aktivitas penyeberangan laut yang biasanya mengalami peningkatan signifikan.
Boyke meminta seluruh jajaran memastikan kesiapan sarana dan prasarana, termasuk Alat Utama (Alut) serta Alat Khusus (Alsus) yang digunakan dalam patroli laut dan pengawasan wilayah perairan.

“Seluruh sarana operasional harus dipastikan dalam kondisi siap digunakan. Ini penting agar pengamanan di wilayah perairan dapat berjalan optimal selama Operasi Ketupat,” katanya.
Wilayah NTB sendiri memiliki sejumlah jalur pelayaran yang cukup padat, terutama yang menghubungkan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa dengan daerah lain di Indonesia. Pada periode mudik Lebaran, aktivitas di pelabuhan dan jalur penyeberangan laut biasanya meningkat tajam.
Karena itu, Boyke juga menginstruksikan seluruh personel untuk melakukan pengecekan terhadap pelabuhan-pelabuhan di wilayah NTB. Pengawasan tidak hanya menyangkut keamanan, tetapi juga memastikan keselamatan pelayaran, termasuk memantau kapasitas dan muatan kapal.
Selain itu, koordinasi lintas lembaga dinilai menjadi kunci keberhasilan pengamanan. Ditpolairud Polda NTB diminta memperkuat komunikasi dengan PT ASDP Indonesia Ferry sebagai operator penyeberangan, terutama terkait pengawasan muatan kapal.
Koordinasi juga dilakukan dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna memantau perkembangan kondisi cuaca yang dapat mempengaruhi aktivitas pelayaran di wilayah perairan NTB.
Menurut Boyke, informasi cuaca yang akurat sangat penting untuk mendukung keselamatan pelayaran, terutama di tengah potensi perubahan cuaca yang kerap terjadi di wilayah perairan Indonesia.
“Koordinasi dengan BMKG harus terus dilakukan agar kita dapat mengetahui kondisi cuaca secara cepat dan mengambil langkah antisipasi jika diperlukan,” ujarnya.
Melalui kegiatan evaluasi bulanan tersebut, Ditpolairud Polda NTB berharap seluruh personel semakin siap menghadapi berbagai potensi kerawanan di wilayah perairan, khususnya selama masa mudik Lebaran.
Dengan kesiapan personel, kapal patroli, serta dukungan koordinasi lintas instansi, kepolisian menargetkan pengamanan jalur laut selama Operasi Ketupat Rinjani dapat berjalan lancar dan memberikan rasa aman bagi masyarakat yang melakukan perjalanan melalui jalur penyeberangan laut di NTB.














