Gaya Hidup

Tren Diet OMAD: Janji Langsing Sekejap, Risiko Metabolisme Mengintai?

×

Tren Diet OMAD: Janji Langsing Sekejap, Risiko Metabolisme Mengintai?

Sebarkan artikel ini
Tren Diet OMAD: Janji Langsing Sekejap, Risiko Metabolisme Mengintai?

Mataram, NTB – Popularitas diet One Meal a Day (OMAD) atau makan hanya sekali sehari tengah menjadi perbincangan di kalangan pelaku gaya hidup sehat. Metode ini menjanjikan penurunan berat badan yang cepat dengan cara yang sederhana: mengonsumsi seluruh kebutuhan kalori harian dalam satu kali makan, biasanya dalam kurun waktu satu jam. Namun, di balik kemudahannya, muncul kekhawatiran serius mengenai dampaknya terhadap metabolisme tubuh. Benarkah diet ekstrem ini berisiko mengganggu sistem metabolisme yang vital bagi fungsi tubuh?

Pakar gizi dan kesehatan ramai-ramai memperingatkan potensi bahaya yang mengintai di balik tren diet OMAD. Meskipun beberapa orang mungkin merasakan penurunan berat badan awal, efek jangka panjang terhadap metabolisme dikhawatirkan justru kontraproduktif. Bagaimana sebenarnya diet OMAD dapat memengaruhi metabolisme tubuh kita? Mari kita telaah lebih dalam.

Sebelum membahas risiko diet OMAD, penting untuk memahami apa itu metabolisme. Secara sederhana, metabolisme adalah serangkaian proses kimiawi yang terjadi di dalam tubuh untuk mengubah makanan dan minuman menjadi energi. Proses ini sangat penting untuk menjalankan berbagai fungsi tubuh, mulai dari bernapas, bergerak, hingga menjaga suhu tubuh. Kecepatan metabolisme setiap orang berbeda-beda, dipengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin, massa otot, dan genetika.

Baca Juga :  Polwan dan PNS Wanita Polda NTB Asah Kemampuan Personal Branding Demi Kesetaraan Gender

Diet yang sehat dan seimbang umumnya mendukung metabolisme yang efisien. Asupan nutrisi yang teratur membantu tubuh untuk terus membakar kalori sepanjang hari. Lalu, bagaimana dengan diet OMAD yang memangkas frekuensi makan secara drastis?

Berikut adalah beberapa risiko diet OMAD yang perlu diwaspadai terkait dengan gangguan metabolisme:

  • Penurunan Tingkat Metabolisme Basal (BMR): Ketika tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dalam waktu yang lama, mekanisme pertahanan alaminya akan aktif. Tubuh akan cenderung memperlambat pembakaran kalori untuk menghemat energi. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan Tingkat Metabolisme Basal (BMR), yaitu jumlah kalori yang dibakar tubuh saat istirahat. Akibatnya, meskipun makan hanya sekali, tubuh membakar lebih sedikit kalori secara keseluruhan, yang justru dapat menghambat penurunan berat badan dalam jangka panjang dan bahkan memicu kenaikan berat badan setelah kembali ke pola makan normal (yo-yo effect).
  • Kehilangan Massa Otot: Pembatasan kalori yang ekstrem dan periode puasa yang panjang pada diet OMAD dapat memaksa tubuh untuk mencari sumber energi lain selain lemak, yaitu otot. Kehilangan massa otot sangat merugikan karena otot berperan aktif dalam membakar kalori. Semakin sedikit massa otot, semakin lambat pula metabolisme tubuh. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa diet rendah kalori yang ekstrem seringkali menyebabkan kehilangan massa otot yang signifikan.
  • Resistensi Insulin: Pola makan OMAD yang ekstrem dapat memicu lonjakan gula darah yang besar setelah makan tunggal, diikuti oleh penurunan drastis setelahnya. Fluktuasi gula darah yang berulang ini dapat mengganggu sensitivitas tubuh terhadap insulin, hormon yang membantu gula darah masuk ke sel-sel untuk dijadikan energi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya resistensi insulin, yang merupakan prekursor diabetes tipe 2. Penelitian dalam jurnal Nutrients menyoroti adanya hubungan antara pola makan yang tidak teratur dengan peningkatan risiko resistensi insulin.
  • Gangguan Hormonal: Diet yang sangat membatasi asupan kalori dan nutrisi dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh, termasuk hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang (seperti ghrelin dan leptin), serta hormon tiroid yang berperan penting dalam metabolisme. Ketidakseimbangan hormonal ini dapat menyebabkan masalah seperti rasa lapar yang tidak terkontrol, kelelahan kronis, dan gangguan siklus menstruasi pada wanita.
  • Defisiensi Nutrisi: Mengonsumsi seluruh kebutuhan nutrisi harian dalam satu kali makan sangatlah sulit. Diet OMAD berpotensi tinggi menyebabkan defisiensi berbagai vitamin, mineral, dan serat yang penting untuk fungsi metabolisme yang optimal dan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Kekurangan nutrisi tertentu dapat secara langsung mengganggu proses metabolisme energi dan fungsi organ vital lainnya.
Baca Juga :  Fifty Fifty, Girl Group Rookie yang Menggugah Perhatian

Para ahli gizi umumnya tidak merekomendasikan diet OMAD sebagai pendekatan yang sehat dan berkelanjutan untuk menurunkan berat badan atau menjaga kesehatan metabolisme. Mereka lebih menyarankan pola makan yang seimbang, terdiri dari berbagai jenis makanan bergizi, dan dikonsumsi secara teratur sepanjang hari. Makan dengan frekuensi yang lebih sering dalam porsi yang lebih kecil dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil, mencegah penurunan BMR yang drastis, dan memastikan asupan nutrisi yang memadai.

“Metabolisme tubuh bekerja paling baik ketika mendapatkan asupan energi secara teratur. Diet OMAD justru dapat ‘mengacaukan’ ritme alami tubuh dan berpotensi menimbulkan efek negatif jangka panjang,” ujar Dr. Tania Putri, seorang ahli gizi klinis di Jakarta, saat dihubungi melalui sambungan telepon. Beliau menambahkan bahwa penurunan berat badan yang sehat dan berkelanjutan lebih baik dicapai melalui defisit kalori moderat yang dipadukan dengan aktivitas fisik yang teratur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *