Mataram, Jurnalekbis.com – Gempabumi tektonik berkekuatan Magnitudo 4,1 mengguncang sebagian wilayah Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Sabtu (15/11/2025) malam sekitar pukul 21.33 WITA. Getaran terasa nyata di sejumlah daerah, membuat warga sempat panik dan keluar rumah untuk memastikan kondisi lingkungan sekitar. BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami.
Berdasarkan informasi resmi dari Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Sumawan, S.T., M.M, gempa berpusat di laut pada jarak sekitar 75 km tenggara Kuta Selatan, Bali. Titik episenter berada pada koordinat 9,36° LS dan 115,61° BT dengan kedalaman 36 km. “Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa memiliki kekuatan M 4,1 dan termasuk kategori dangkal,” jelas Sumawan dalam keterangannya.
Menurut BMKG, gempa ini dipicu aktivitas sesar aktif di dasar laut. Dengan kedalaman yang relatif dangkal, guncangan kemudian terasa cukup kuat di beberapa daerah di NTB dan Bali. Laporan masyarakat menunjukkan intensitas guncangan mencapai III MMI di Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Kota Mataram, sementara wilayah Denpasar merasakan getaran pada level II MMI. Pada skala tersebut, getaran umumnya dirasakan jelas di dalam rumah dan terasa layaknya ada truk besar yang sedang melintas.
Meski getaran sempat menimbulkan kekhawatiran, hingga berita ini diturunkan belum ada laporan kerusakan bangunan maupun korban jiwa. BMKG juga menegaskan bahwa hasil pemodelan menunjukkan gempa ini tidak berpotensi tsunami, sehingga masyarakat diminta tidak terpancing isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
“Hingga pukul 21.56 WITA, monitoring BMKG belum menunjukkan adanya gempa susulan atau aftershock,” tambah Sumawan. Kondisi ini diharapkan dapat memberikan ketenangan bagi warga yang sempat cemas, apalagi mengingat beberapa wilayah NTB dan Bali cukup sensitif terhadap aktivitas kegempaan.
Meski tidak menimbulkan ancaman tsunami, BMKG tetap mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan memeriksa kondisi rumah masing-masing sebelum kembali beraktivitas di dalamnya. Bangunan yang retak atau mengalami kerusakan struktural berisiko membahayakan jika terjadi getaran susulan. “Pastikan bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa dan tidak ada kerusakan yang membahayakan kestabilan struktur,” kata Sumawan.
BMKG juga memberi peringatan agar masyarakat menghindari informasi tidak valid yang sering beredar di media sosial saat terjadi gempa. Menurutnya, informasi resmi hanya dikeluarkan melalui kanal resmi BMKG seperti Instagram dan Twitter @infoBMKG, laman web bmkg.go.id dan inatews.bmkg.go.id, serta aplikasi mobile resmi WRS-BMKG dan InfoBMKG.
Peristiwa gempa pada Sabtu malam ini kembali mengingatkan bahwa wilayah NTB dan Bali merupakan kawasan aktif secara tektonik. Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat, pemeriksaan bangunan secara berkala, dan mengikuti informasi resmi dari BMKG menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bencana.
Dengan kondisi saat ini yang telah dipastikan aman dan tanpa potensi tsunami, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tetap melakukan pengecekan mandiri terhadap bangunan demi keselamatan bersama. BMKG akan terus melakukan pemantauan dan menyampaikan informasi terbaru jika terjadi perkembangan lanjutan terkait aktivitas kegempaan di wilayah Bali dan NTB.













