Jakarta, Jurnalekbis.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa 75,3% wilayah Indonesia atau setara 526 Zona Musim (ZOM) telah resmi memasuki musim hujan. Kondisi ini menandai fase puncak periode basah yang mulai merata di sebagian besar wilayah Tanah Air.
Menurut BMKG, wilayah yang kini berada dalam musim hujan mencakup sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Peningkatan curah hujan ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer dan laut yang mulai mendukung pembentukan awan hujan secara intensif di wilayah tropis Indonesia.
Kawasan yang sudah mengalami hujan merata meliputi sebagian Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, serta sebagian Bengkulu dan Lampung. Pulau Bangka Belitung juga masuk dalam kategori wilayah yang telah stabil memasuki musim hujan.
Di Pulau Jawa, BMKG mencatat hampir seluruh zona telah memasuki musim hujan, mulai dari Banten, Jawa Barat, Daerah Khusus Jakarta (DKJ), Jawa Tengah, DI Yogyakarta (DIY), hingga sebagian besar wilayah Jawa Timur. Curah hujan diperkirakan meningkat secara signifikan dalam beberapa pekan ke depan, terutama pada wilayah dataran tinggi, pesisir utara, dan daerah rawan banjir.
Untuk wilayah Bali dan sebagian Nusa Tenggara Barat (NTB) serta Nusa Tenggara Timur (NTT), awal musim hujan datang sedikit lebih lambat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, pola hujan mulai menunjukkan peningkatan dan diprediksi mencapai puncaknya antara Desember hingga Januari mendatang.

Di Kalimantan, intensitas hujan mulai meningkat di sebagian Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Sementara di Sulawesi, wilayah yang telah memasuki musim hujan meliputi sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, serta sebagian Sulawesi Utara. Pola curah hujan di wilayah ini cenderung bergelombang, namun diperkirakan stabil memasuki bulan Desember.
Sementara itu di wilayah timur Indonesia, beberapa bagian Maluku dan sebagian wilayah Papua juga telah memasuki fase basah. Konsentrasi awan hujan diprediksi meningkat di pesisir selatan Papua dan wilayah tengah yang memiliki topografi pegunungan.
BMKG mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah terhadap potensi cuaca ekstrem yang biasanya menyertai pergantian musim, seperti hujan lebat, angin kencang, banjir, hingga tanah longsor. Fenomena ini kerap muncul akibat pemanasan permukaan laut yang mendorong pembentukan awan cumulonimbus secara masif.
Pemerintah daerah diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya pada daerah-daerah dengan topografi rawan bencana hidrometeorologi. Daerah perkotaan juga diminta mengantisipasi genangan dan banjir akibat buruknya sistem drainase.
BMKG menambahkan bahwa perubahan iklim global turut memengaruhi pola musim di Indonesia, sehingga potensi ketidakpastian cuaca bisa semakin tinggi. Masyarakat diimbau untuk rutin memantau informasi prakiraan cuaca harian, peringatan dini, serta kabar terbaru dari BMKG untuk menghindari risiko aktivitas luar ruangan.
Dengan 75% wilayah Indonesia telah masuk musim hujan, pemerintah dan masyarakat diharapkan lebih waspada terhadap potensi bencana sambil tetap memanfaatkan momentum musim basah untuk persiapan sektor pertanian, air bersih, dan energi.














