Jakarta, Jurnalekbis.com – Gangguan tidur atau insomnia tak lagi identik dengan orang dewasa dan lansia. Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena sulit tidur justru semakin banyak dialami anak muda. Pola hidup modern, tekanan sosial, hingga paparan gawai berlebihan disebut menjadi faktor utama yang mendorong meningkatnya kasus insomnia di usia produktif.
Data menunjukkan tren ini bukan sekadar keluhan individu. Insomnia kini menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berdampak langsung pada produktivitas, kesehatan mental, hingga kualitas hidup generasi muda.
Insomnia Tak Lagi Soal Kurang Tidur
Insomnia bukan sekadar tidur larut malam. Gangguan ini ditandai dengan kesulitan memulai tidur, sering terbangun di malam hari, atau bangun terlalu pagi dan tidak bisa tidur kembali. Kondisi tersebut bisa terjadi meski waktu tidur sudah cukup.
Dokter spesialis kesehatan jiwa, dr. Andri Prasetyo, SpKJ, menjelaskan bahwa insomnia pada anak muda umumnya bersifat kronis dan berkaitan erat dengan faktor psikologis.
“Banyak pasien muda yang secara fisik sehat, tetapi otaknya tidak bisa ‘off’. Pikiran terus aktif, terutama akibat stres, kecemasan, dan tekanan sosial,” ujar dr. Andri.
Jika berlangsung lebih dari tiga bulan dan terjadi setidaknya tiga kali dalam sepekan, insomnia sudah masuk kategori kronis dan perlu penanganan serius.
Tekanan Sosial dan Mental Jadi Pemicu Utama
Berbeda dengan generasi sebelumnya, anak muda saat ini menghadapi tekanan yang lebih kompleks. Tuntutan akademik, persaingan kerja, ketidakpastian ekonomi, hingga standar kesuksesan di media sosial menjadi beban mental yang terus menumpuk.
Psikolog klinis, Maya Lestari, M.Psi, menyebut fenomena “overthinking” sebagai salah satu pemicu dominan insomnia di kalangan generasi muda.
“Anak muda banyak memikirkan masa depan, karier, relasi, bahkan hal-hal kecil yang terus diputar di kepala saat malam hari. Ini membuat tubuh lelah, tapi pikiran tetap siaga,” kata Maya.
Kondisi ini diperparah oleh kecenderungan menunda tidur demi menyelesaikan pekerjaan atau sekadar scrolling media sosial.
Paparan Gawai Ganggu Ritme Alami Tubuh
Penggunaan gawai sebelum tidur menjadi penyebab insomnia yang paling sering ditemui. Cahaya biru (blue light) dari layar ponsel dan laptop terbukti menghambat produksi melatonin, hormon yang berperan mengatur siklus tidur.
Riset menunjukkan bahwa penggunaan gawai lebih dari satu jam sebelum tidur dapat menurunkan kualitas tidur secara signifikan. Otak tetap berada dalam kondisi waspada, sehingga sulit memasuki fase tidur nyenyak.
“Banyak anak muda tidur sambil memegang ponsel, bahkan terbangun tengah malam untuk mengecek notifikasi. Ini sangat merusak pola tidur,” ujar dr. Andri.
Akibatnya, meski durasi tidur terlihat cukup, tubuh tetap merasa lelah saat bangun pagi.
Dampak Insomnia Tak Bisa Dianggap Sepele
Insomnia yang dibiarkan berlarut-larut dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Dalam jangka pendek, penderita akan mengalami kelelahan, sulit konsentrasi, dan penurunan performa kerja atau belajar.
Dalam jangka panjang, risiko gangguan mental seperti depresi dan gangguan kecemasan meningkat. Selain itu, insomnia juga dikaitkan dengan masalah metabolik, penurunan daya tahan tubuh, hingga gangguan kardiovaskular.
“Tidur adalah fondasi kesehatan. Jika fondasi ini rusak, efeknya bisa menjalar ke mana-mana,” tegas Maya.
Solusi: Bukan Sekadar Tidur Lebih Awal
Mengatasi insomnia pada anak muda tidak cukup hanya dengan anjuran tidur lebih cepat. Pendekatan yang dibutuhkan bersifat menyeluruh, mencakup perubahan gaya hidup dan pengelolaan mental.
Disiplin Pola Tidur
Menjaga jam tidur dan bangun yang konsisten, termasuk di akhir pekan, membantu tubuh membangun ritme sirkadian yang sehat. Tidur terlalu siang atau begadang di hari libur justru memperparah insomnia.
Batasi Gawai Sebelum Tidur
Ahli menyarankan menghentikan penggunaan gawai setidaknya 60 menit sebelum tidur. Aktivitas santai seperti membaca buku atau mendengarkan musik ringan lebih dianjurkan.
Kelola Stres dan Kecemasan
Teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, meditasi, atau journaling terbukti membantu menenangkan pikiran sebelum tidur. Jika kecemasan sudah mengganggu aktivitas harian, konsultasi ke profesional kesehatan mental menjadi langkah penting.
Perhatikan Asupan dan Aktivitas Fisik
Konsumsi kafein di sore atau malam hari sebaiknya dihindari. Olahraga rutin membantu meningkatkan kualitas tidur, namun tidak disarankan dilakukan terlalu dekat dengan waktu tidur.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika insomnia berlangsung lebih dari tiga bulan, disertai perubahan emosi, penurunan fungsi kerja, atau ketergantungan obat tidur, pemeriksaan medis sangat dianjurkan.
“Insomnia bisa menjadi gejala dari masalah yang lebih besar. Semakin cepat ditangani, semakin baik hasilnya,” kata dr. Andri.
Insomnia di kalangan anak muda menjadi alarm penting bahwa kesehatan mental dan gaya hidup modern perlu perhatian serius. Tidur bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup generasi masa depan.













