Lombok Tengah, Jurnalekbis.com – Puluhan siswa dari dua sekolah dasar di Desa Darmaji, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengalami gejala keracunan massal yang diduga terjadi setelah mengonsumsi makanan bergizi (MBG) yang dibagikan di sekolah, Sabtu (17/1/2026). Akibat kejadian tersebut, dua siswa harus menjalani perawatan inap, sementara puluhan lainnya sempat mendapatkan penanganan medis di puskesmas.
Peristiwa ini menimpa siswa SDN 1 Darmaji dan MI Hidayatus Sholihin NW Lanji. Para siswa dilaporkan mengalami keluhan seperti pusing, mual, hingga sakit perut sesaat setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan dalam program MBG.
Petugas kesehatan mencatat para siswa datang ke fasilitas kesehatan hampir bersamaan dengan kondisi yang serupa. Sahrun, petugas surveilans Puskesmas Muncan, mengungkapkan bahwa gelombang pasien mulai berdatangan sekitar pukul 09.30 WITA.
“Sekitar jam 9.30 tiba-tiba datang bersamaan. Yang pertama datang sekitar 12 orang sekaligus dengan keluhan pusing, mual, dan perut terasa mulas atau melilit,” ujar Sahrun saat ditemui di Puskesmas Muncan.
Menurutnya, sebagian siswa bahkan mengeluhkan pusing berat hingga tidak mampu bertahan, sehingga harus segera dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan pertolongan medis.
“Alhamdulillah semua pasien yang dibawa sudah ditangani, diperiksa dokter, dan diberikan obat sesuai gejalanya,” jelasnya.
Dari total 14 pasien yang masuk ke Puskesmas Muncan, sebanyak 12 siswa dinyatakan cukup menjalani rawat jalan setelah diobservasi selama satu hingga dua jam. Namun, dua siswa lainnya harus menjalani perawatan lanjutan.
“Ada dua pasien yang memang indikasinya harus rawat inap. Dari pemeriksaan dokter, diinstruksikan untuk dipasang infus karena gejalanya berbeda dengan yang lain,” kata Sahrun.
Hingga siang hari, kedua siswa tersebut masih menjalani perawatan dan pemantauan medis di puskesmas.
Sementara itu, Putra Wangsa, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Kesehatan Lingkungan (P3KL) Dinas Kesehatan Lombok Tengah, mengonfirmasi bahwa jumlah siswa yang terdampak lebih banyak.
“Kasus ini terjadi di wilayah SPPG Desa Darmaji. Sampai siang ini, di Puskesmas Muncan tercatat 14 kasus dan di Puskesmas Pengadang ada 24 kasus,” ungkap Putra Wangsa.
Ia memastikan bahwa mayoritas siswa hanya mengalami gejala ringan dan sudah diperbolehkan pulang.
“Alhamdulillah hampir semua sudah pulang karena rawat jalan. Tinggal dua yang masih dalam perawatan, tapi Insya Allah segera dipulangkan,” ujarnya.
Dinas Kesehatan Lombok Tengah telah mengamankan sampel makanan yang dikonsumsi para siswa, khususnya produk susu kemasan yang diduga menjadi pemicu awal keluhan.
“Sampel makanan sudah kita pegang. Yang kita fokuskan adalah makanan kemasan, yaitu susu, karena distribusi terakhir keluhan di lapangan mengarah ke sana,” kata Putra Wangsa.
Sahrun menambahkan, dari dua sampel susu yang diamankan, ditemukan kejanggalan pada informasi kemasan.
“Satu sampel susu tercantum tanggal kedaluwarsa 16 Januari 2026. Satu lagi tidak tertera tanggal kedaluwarsa di kemasan luarnya,” jelasnya.
Sampel tersebut telah diserahkan kepada Dinas Kesehatan dan akan dikirim ke laboratorium untuk uji lebih lanjut.
Berdasarkan hasil anamnesis dan investigasi awal, gejala muncul tidak lama setelah siswa meninggalkan lokasi pembagian makanan.
“Sekitar 30 meter dari lokasi, anak-anak mulai merasa panik, lemas, pusing, bahkan hampir kolaps. Karena dianggap tidak wajar, akhirnya dibawa ke puskesmas,” terang Sahrun.
Ia menegaskan bahwa tidak ditemukan tanda-tanda reaksi alergi berat seperti ruam serius. “Gejalanya dominan mual, pusing, dan perut mulas,” katanya.
Dinas Kesehatan Lombok Tengah menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme distribusi MBG, termasuk proses penyaringan makanan sebelum dibagikan.
“Kami minta ke mitra, tim SPPG, SPPI, dan ahli gizi untuk melakukan screening ketat. Semua harus dipastikan aman sebelum distribusi,” tegas Putra Wangsa.
Ia menambahkan, karena program masih dalam tahap awal, pengawasan akan diperketat agar kejadian serupa tidak terulang.
“Karena ini baru awal, evaluasi menjadi penting supaya ke depan tidak terjadi lagi,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. Pemerintah daerah memastikan akan mengambil langkah tegas jika ditemukan pelanggaran dalam pengadaan maupun distribusi makanan.
Kasus ini menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan siswa sekolah dasar, sekaligus menjadi peringatan penting dalam pelaksanaan program makanan bergizi di daerah.













