Lombok Tengah, Jurnalekbis.com – Balap ketahanan Pertamina 6 Hours Endurance yang akan digelar di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok Tengah, pada 1 Februari 2026, diproyeksikan menjadi salah satu ajang balap roda empat paling menantang di Indonesia. Tidak sekadar adu kecepatan, ajang ini menguji daya tahan, strategi, konsistensi, serta kekompakan tim selama enam jam balapan tanpa henti di lintasan Mandalika yang dikenal menuntut.
Balap endurance enam jam ini menempatkan seluruh elemen tim—mulai dari pembalap, kru, hingga mekanik—dalam tekanan yang sama besar. Kesalahan kecil dalam membaca situasi, terutama cuaca dan strategi pit stop, dapat berdampak signifikan terhadap hasil akhir.
Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA), Priandhi Satria, menegaskan bahwa rencana menggelar Pertamina 6 Hours Endurance memang dirancang untuk menghadirkan tantangan menyeluruh. MGPA merupakan perusahaan yang ditunjuk InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) untuk mengelola sirkuit Mandalika.
“Balap ketahanan enam jam ini akan sangat menantang. Bukan hanya pembalap yang harus menjaga konsistensi dan fokus, tetapi juga kru dan mekanik yang dituntut menyiapkan strategi terbaik untuk menaklukkan balapan dalam waktu enam jam,” ujar Priandhi Satria.
Menurutnya, endurance race merupakan format balapan paling kompleks dalam dunia motorsport. Kecepatan saja tidak cukup. Ketahanan fisik pembalap, ketepatan strategi, serta koordinasi tim menjadi faktor yang sama pentingnya.
Salah satu tantangan utama Pertamina 6 Hours Endurance adalah kondisi cuaca Mandalika yang dikenal dinamis dan sulit diprediksi. Dalam durasi enam jam, lintasan bisa mengalami perubahan drastis—dari panas terik khas pesisir selatan Lombok hingga hujan yang datang tiba-tiba.
Perubahan cuaca ini memaksa tim untuk terus melakukan penyesuaian strategi secara real time. Pemilihan jenis ban, setelan mobil, hingga waktu masuk pit harus diambil dengan cepat dan akurat.
“Kesalahan membaca kondisi cuaca bisa berdampak besar. Salah strategi ban saja bisa membuat tim kehilangan banyak waktu,” kata Priandhi.
Kondisi ini menjadikan Mandalika sebagai lintasan yang tidak hanya menguji kemampuan teknis, tetapi juga kecermatan analisis tim balap.
Dalam balap endurance, satu mobil tidak dikendarai oleh satu pembalap saja. Setiap tim wajib melakukan pergantian pembalap, dengan aturan maksimal setiap dua jam satu pembalap berada di balik kemudi.
Proses pergantian ini menjadi salah satu momen paling krusial dalam balapan. Pembalap harus keluar dari kokpit yang sempit, kemudian pembalap berikutnya masuk, menyesuaikan posisi duduk, setelan kemudi, hingga pengencangan seatbelt semuanya dilakukan dalam tekanan waktu.
“Setiap detik sangat berarti. Pergantian pembalap yang tidak rapi bisa membuat tim kehilangan posisi,” ungkap Priandhi.
Koordinasi antara pembalap dan kru pit menjadi kunci agar proses ini berjalan cepat, aman, dan efisien.
Selain pergantian pembalap, strategi pit stop dan penggantian ban menjadi faktor penentu lainnya. Selama enam jam balapan, tim diperkirakan harus melakukan penggantian ban minimal dua hingga tiga kali, tergantung kondisi lintasan dan gaya mengemudi pembalap.
Ban yang terlalu aus dapat menurunkan performa dan meningkatkan risiko kesalahan, sementara pit stop yang terlalu sering juga bisa merugikan waktu. Karena itu, keputusan kapan masuk pit menjadi bagian dari strategi yang sangat krusial.
Di sinilah peran kru dan mekanik benar-benar diuji. Kecepatan kerja di pit lane harus diimbangi dengan ketepatan teknis agar mobil tetap kompetitif hingga garis finis.
Priandhi Satria menegaskan bahwa melalui Pertamina 6 Hours Endurance, MGPA tidak hanya ingin menghadirkan tontonan balap yang berbeda, tetapi juga menaikkan standar motorsport nasional.
“Endurance race adalah ajang yang mengajarkan disiplin, strategi, dan kerja tim. Ini bukan hanya balapan cepat, tapi balapan cerdas. Mandalika sangat ideal untuk itu,” ujarnya.
Dengan lintasan berstandar internasional dan karakter cuaca yang menantang, Mandalika dinilai cocok menjadi rumah bagi balap ketahanan di Indonesia.
Dengan kombinasi tantangan cuaca, strategi pergantian pembalap, manajemen ban, serta ketahanan fisik dan mental seluruh tim, Pertamina 6 Hours Endurance dipastikan menjadi ujian sesungguhnya bagi para peserta.
Di Mandalika, enam jam balapan bukan sekadar durasi. Ia adalah perjalanan panjang untuk menaklukkan lintasan, strategi, dan kemampuan tim secara menyeluruh—sebuah pembuktian siapa yang paling siap menghadapi tekanan hingga detik terakhir.













