Sumbawa, Jurnalekbis.com – Upaya menanamkan kesadaran lingkungan sejak usia dini terus digencarkan oleh jajaran kepolisian perairan dan udara (Polairud) di Nusa Tenggara Barat. Kasat Polairud Polres Sumbawa, IPTU Baiq Shinta Dewi, S.H., bersama Yayasan Bentang Alam menggelar kegiatan Sosialisasi dan Sekolah Konservasi di SDN Prajak, Desa Batu Bangka, Kabupaten Sumbawa, Senin (19/1/2026).
Kegiatan tersebut menyasar pelajar sekolah dasar sebagai bagian dari strategi jangka panjang membangun generasi yang peduli terhadap lingkungan hidup, ekosistem, serta keberlanjutan sumber daya alam. Program ini dikemas secara edukatif dan interaktif agar mudah dipahami oleh anak-anak.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan pembekalan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, pelestarian lingkungan hidup, pemanfaatan sumber daya alam secara bijak, serta perlindungan keanekaragaman hayati. Materi disampaikan melalui metode yang ramah anak, mulai dari diskusi ringan, simulasi sederhana, hingga pembiasaan perilaku peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan interaktif dipilih agar pelajar tidak hanya menerima teori, tetapi juga memahami dampak nyata dari kerusakan lingkungan dan pentingnya peran manusia dalam menjaga alam.
“Kami ingin anak-anak mengenal lingkungan bukan sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka, tetapi sebagai bagian yang harus dijaga bersama,” ujar IPTU Baiq Shinta Dewi di sela kegiatan.
IPTU Baiq Shinta Dewi menegaskan bahwa kegiatan Sekolah Konservasi bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bentuk kepedulian Polairud terhadap masa depan lingkungan, khususnya di wilayah pesisir dan perairan yang rentan terhadap kerusakan.
Menurutnya, pendidikan lingkungan harus dimulai sejak dini agar nilai-nilai kepedulian terhadap alam tertanam kuat dan menjadi bagian dari karakter generasi muda.
“Kami berharap para pelajar dan masyarakat dapat berperan aktif menjaga kelestarian ekosistem. Kesadaran lingkungan harus dibangun sejak usia dini agar berkelanjutan hingga dewasa,” kata Baiq Shinta Dewi.
Ia menambahkan, Polairud tidak hanya bertugas dalam penegakan hukum di wilayah perairan, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga alam sebagai sumber kehidupan.
Kegiatan Sekolah Konservasi ini terlaksana berkat kolaborasi Polairud Polres Sumbawa dengan Yayasan Bentang Alam, lembaga yang bergerak di bidang edukasi dan konservasi lingkungan. Kolaborasi ini dinilai penting untuk memperkuat materi edukasi sekaligus menghadirkan pendekatan yang lebih kontekstual bagi para pelajar.
Perwakilan Yayasan Bentang Alam menjelaskan bahwa pendidikan lingkungan di tingkat sekolah dasar menjadi fondasi utama dalam membentuk perilaku ramah lingkungan di masa depan.
“Anak-anak adalah agen perubahan. Jika sejak dini mereka memahami pentingnya menjaga alam, maka ke depan kita punya harapan besar terhadap keberlanjutan lingkungan,” ujar salah satu fasilitator.
Pelaksanaan kegiatan ini mendapat apresiasi dari Direktur Polairud Polda NTB, Kombes Pol Boyke F.S. Samola, S.I.K., M.H. Ia menilai program Sosialisasi dan Sekolah Konservasi sebagai langkah strategis dalam menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan.
Menurut Boyke, pendekatan edukatif kepada pelajar merupakan investasi jangka panjang dalam menjaga kelestarian alam, terutama di wilayah NTB yang memiliki kekayaan laut dan pesisir yang besar.
“Kegiatan ini sangat positif karena membentuk karakter generasi muda yang sadar akan pentingnya menjaga alam demi keberlanjutan di masa depan,” ujar Boyke dalam keterangannya.
Ia juga mendorong agar kegiatan serupa dapat diperluas ke sekolah-sekolah lain, khususnya di wilayah pesisir dan daerah rawan kerusakan lingkungan.
NTB dikenal memiliki kekayaan alam yang melimpah, mulai dari wilayah pesisir, laut, hingga ekosistem darat. Namun, tantangan kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia masih menjadi ancaman serius. Edukasi lingkungan sejak usia dini dinilai menjadi salah satu solusi efektif untuk memutus rantai kerusakan tersebut.
Melalui program Sekolah Konservasi, diharapkan pelajar tidak hanya memahami konsep lingkungan secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan lingkungan sekolah, serta menghargai alam di sekitarnya.
Kegiatan di SDN Prajak ini menjadi contoh nyata bahwa upaya pelestarian lingkungan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar, tetapi bisa dimulai dari ruang kelas dan kesadaran anak-anak.
Dengan sinergi antara kepolisian, lembaga konservasi, sekolah, dan masyarakat, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan dan keberlanjutan alam Indonesia.













