Mataram, Jurnalekbis.com– Cuaca ekstrem berupa angin kencang disertai hujan lebat melanda wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Selasa sore (20/1/2026). Dampaknya, belasan tiang listrik dilaporkan roboh dan menyebabkan pemadaman listrik di sejumlah wilayah terdampak. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB menyatakan saat ini penanganan masih berlangsung, terutama untuk pemulihan jaringan kelistrikan.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB, Sadimin, ST., MT, mengatakan peristiwa cuaca ekstrem tersebut terjadi sekitar pukul 16.00 WITA. Angin kencang yang datang bersamaan dengan hujan berintensitas sedang hingga lebat memicu kerusakan infrastruktur, khususnya jaringan listrik.
“Cuaca ekstrem berupa angin kencang disertai hujan terjadi pada Selasa sore. Dampaknya, terdapat 12 tiang listrik yang rubuh dan mengakibatkan listrik padam di wilayah terdampak,” ujar Sadimin dalam keterangannya, Selasa (20/1/2026).
Cuaca Ekstrem Terjadi Sore Hari
Berdasarkan laporan BPBD, kejadian cuaca ekstrem berlangsung relatif singkat namun berdampak signifikan. Angin kencang bertiup saat hujan turun dengan intensitas sedang hingga lebat, sehingga meningkatkan risiko pohon tumbang dan kerusakan fasilitas umum.
Peristiwa ini tercatat terjadi pada Selasa, 20 Januari 2026, sekitar pukul 16.00 WITA. Meski tidak dilaporkan adanya korban jiwa, gangguan layanan listrik menjadi dampak utama yang dirasakan masyarakat.
Sadimin menjelaskan bahwa fenomena cuaca ekstrem seperti ini merupakan bagian dari dinamika musim hujan yang saat ini tengah berlangsung di wilayah NTB, bahkan sebagian daerah telah memasuki fase puncak musim hujan.
Tiang Listrik Roboh, Listrik Padam
Dampak paling nyata dari kejadian tersebut adalah robohnya 12 tiang listrik, yang berujung pada pemadaman aliran listrik. Kerusakan ini menghambat aktivitas warga, terutama pada sore hingga malam hari.
“Tiang listrik yang roboh menyebabkan jaringan terganggu dan listrik padam. Saat ini penanganan sedang dilakukan oleh PLN,” kata Sadimin.
PLN bersama BPBD dan unsur terkait telah diterjunkan ke lapangan untuk melakukan perbaikan dan pemulihan jaringan. Proses penanganan dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan keselamatan petugas dan masyarakat sekitar.
BPBD Lakukan Koordinasi dan Asesmen
Menindaklanjuti kejadian tersebut, BPBD Provinsi NTB langsung melakukan koordinasi lintas instansi. BPBD kabupaten/kota, aparat keamanan, serta unsur teknis lainnya bergerak cepat melakukan asesmen dampak di lokasi kejadian.
“BPBD Provinsi NTB berkoordinasi dengan BPBD kabupaten dan stakeholder terkait. Tim Reaksi Cepat (TRC) juga melakukan asesmen dampak bencana di lapangan,” jelas Sadimin.
Hasil asesmen sementara menunjukkan kerusakan terfokus pada infrastruktur kelistrikan. Hingga laporan ini disusun, belum ada laporan kerusakan rumah warga atau fasilitas publik lainnya.
Personel Gabungan Diterjunkan
Penanganan bencana melibatkan personel gabungan dari berbagai unsur. Selain BPBD, aparat TNI dan Polri turut membantu pengamanan lokasi dan kelancaran proses penanganan. Aparatur desa dan kecamatan setempat juga dilibatkan untuk memastikan kondisi masyarakat tetap terkendali.
“Personel yang terlibat terdiri dari BPBD, TNI/Polri, PLN, aparatur desa dan kecamatan, serta masyarakat setempat,” ujar Sadimin.
Keterlibatan berbagai pihak ini diharapkan dapat mempercepat proses penanganan dan meminimalkan dampak lanjutan akibat cuaca ekstrem.
PLN Fokus Pemulihan Jaringan
Saat ini, kondisi di lapangan masih dalam tahap penanganan oleh PLN. Petugas melakukan perbaikan tiang listrik yang roboh serta memastikan jaringan aman sebelum kembali dialiri listrik.
BPBD memastikan bahwa pemulihan dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan, mengingat potensi cuaca buruk masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan.
“Untuk kondisi saat ini, penanganan masih berlangsung dan fokus pada pemulihan jaringan listrik,” kata Sadimin.
Imbauan Waspada Cuaca Ekstrem
BPBD Provinsi NTB juga mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Mengingat wilayah NTB telah memasuki musim hujan dan sebagian daerah berada pada puncaknya, potensi cuaca ekstrem diperkirakan masih akan terjadi.
“Adanya potensi hujan dengan intensitas tinggi pada dasarian III Januari 2026, masyarakat diharapkan mewaspadai kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologis,” tegas Sadimin.
Ia menambahkan, bencana hidrometeorologis yang perlu diantisipasi meliputi angin kencang, banjir, dan tanah longsor yang dapat terjadi secara tiba-tiba.
BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, menghindari aktivitas di luar rumah saat cuaca buruk, serta segera melaporkan ke aparat setempat apabila terjadi kondisi darurat.













