NewsNusantara

Hujan Dua Hari, Desa Perampuan Lombok Barat Dikepung Banjir Kiriman

×

Hujan Dua Hari, Desa Perampuan Lombok Barat Dikepung Banjir Kiriman

Sebarkan artikel ini
Hujan Dua Hari, Desa Perampuan Lombok Barat Dikepung Banjir Kiriman

Lombok Barat, Jurnalekbis.com – Cuaca ekstrem berupa hujan berintensitas tinggi yang disertai angin kencang sejak Selasa sore hingga Rabu dini hari menyebabkan banjir besar melanda Desa Perampuan, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Air bah merendam permukiman warga hingga setinggi dada orang dewasa, memaksa ratusan kepala keluarga mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Kepala Desa Perampuan, M. Zubaidi, menyebut banjir kali ini dipicu hujan deras yang turun terus-menerus selama lebih dari dua hari. Kondisi tersebut diperparah oleh kiriman air dari sejumlah sungai kecil yang bermuara ke wilayah Perampuan.

“Kalau sudah hujan lebih dari dua hari, pasti akan terjadi seperti ini. Air masuk ke rumah-rumah warga, bahkan tingginya sampai dada orang dewasa, sekitar 1,5 meter lebih,” ujar Zubaidi saat ditemui di lokasi banjir, Rabu (21/1).

Menurut Zubaidi, luapan air tidak hanya berasal dari hujan lokal, tetapi juga dari kiriman wilayah hulu. Sungai-sungai kecil yang awalnya berukuran sempit berubah menjadi aliran besar dan meluap ke permukiman warga.

Baca Juga :  Lumpuh Permanen, Korban Dugaan TPPO Lapor ke Polda NTB

“Ini akibat kiriman hujan deras. Aliran sungai-sungai kecil membesar dan semuanya mengarah ke sini. Saat ini ada sekitar tiga dusun yang terdampak cukup parah,” katanya.

Ia menjelaskan, hampir seluruh dusun di Desa Perampuan terdampak banjir. Namun, kondisi terparah terjadi di Dusun Repet, di mana hingga Rabu siang air masih terus mengalir dan belum menunjukkan tanda-tanda surut.

“Di wilayah Dusun Repet ini air masih mengalir sampai sekarang. Kita belum tahu sampai kapan kondisi ini akan bertahan,” ucapnya.

Zubaidi menuturkan, banjir sebenarnya mulai terjadi sejak Selasa sore dengan intensitas kecil. Awalnya, air hanya menggenangi jalan dan halaman rumah warga setinggi mata kaki hingga lutut.

“Awalnya kecil-kecilan, hanya sebatas mata kaki. Tapi hujan terus turun dari sore sampai malam, tidak berhenti dan semakin deras. Itu yang membuat air naik dengan cepat,” jelasnya.

Kondisi semakin parah ketika air kiriman dari wilayah lain turut masuk ke Desa Perampuan. Sejumlah daerah seperti Lendang Re, Bajur, hingga wilayah di timur disebut turut menyumbang aliran air ke desa tersebut.

Baca Juga :  Pelabuhan Ikan Teluk Awang Terbengkalai, Gubernur NTB Desak Pengambilalihan Aset Pusat

“Kami ini posisi terakhir, sebagai penyangga. Semua aliran air akhirnya berkumpul di Perampuan,” katanya.

Banjir tersebut berdampak pada sekitar 600 kepala keluarga atau hampir 1.000 jiwa. Sebagian besar warga terpaksa meninggalkan rumah mereka demi keselamatan.

“Warga dengan kesadaran sendiri sudah terbiasa menghadapi banjir seperti ini. Mereka langsung mengamankan barang-barang berharga, lalu mengungsi,” tutur Zubaidi.

Sebagian warga memilih mengungsi ke rumah keluarga di luar desa, termasuk ke wilayah Kota Mataram. Sementara itu, pemerintah desa telah menyiapkan sejumlah titik pengungsian darurat di masing-masing dusun.

“Di Dusun Penunan ada Musala Baitur Rahmat, di Dusun Repet ada Balai Jajar dan Masjid Bayanuddin, di Pensong ada langgar, dan di Kapitan ada balai dusun. Semua sudah kami siapkan,” katanya.

Di tengah kondisi darurat ini, Pemerintah Desa Perampuan mengaku sangat membutuhkan bantuan logistik dan peralatan evakuasi. Salah satu kebutuhan paling mendesak adalah perahu karet untuk membantu memindahkan warga dan menyelamatkan barang-barang penting.

“Yang paling kami butuhkan sekarang adalah perahu karet. Bukan hanya untuk evakuasi warga, tapi juga untuk mengamankan barang berharga milik warga,” kata Zubaidi.

Baca Juga :  Bulog NTB Ubah Beras Biasa Jadi Premium dengan Teknologi Canggih RTR

Selain itu, bantuan obat-obatan, makanan siap saji, tenda pengungsian, serta perlengkapan dasar seperti kasur, selimut, pakaian, hingga popok bayi dan kebutuhan lansia juga sangat dibutuhkan.

“Kemarin kami cukup kelabakan. Warga tidak bisa beraktivitas, anak-anak dan lansia harus segera diamankan. Kami butuh tenda untuk dapur umum dan kebutuhan kemanusiaan lainnya,” ujarnya.

Zubaidi mengakui keterbatasan anggaran desa menjadi tantangan dalam penanganan banjir. Ia menyebut anggaran desa saat ini sangat minim dan belum mampu mengakomodasi kebutuhan darurat bencana secara maksimal.

“Di desa ini, maklum, anggaran terbatas. Bahkan di tahun anggaran terbaru ini hampir tidak ada alokasi. Karena itu kami sangat berharap bantuan dari pemerintah daerah, provinsi, maupun pihak lain,” katanya.

Meski demikian, Zubaidi menegaskan bahwa keselamatan jiwa warga tetap menjadi prioritas utama.

“Yang terpenting sekarang jiwanya kita selamatkan dulu. Urusan lainnya nanti kita atur bersama setelah kondisi membaik,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *