Lombok Barat, Jurnalekbis.com – Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak menghambat pelaksanaan program pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Lombok Barat. Di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu, kegiatan pertanian tetap berjalan dan dikelola langsung oleh warga binaan sebagai bagian dari pembinaan berbasis keterampilan kerja.
Program pertanian tersebut difokuskan pada pengelolaan lahan cabai seluas sekitar 0,8 hektare yang berada di kawasan berenggang, wilayah yang sebelumnya merupakan lahan tidur. Kini, lahan tersebut dimanfaatkan secara produktif melalui program aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Kepala Seksi Bimbingan Kerja melalui Kepala Sub Seksi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja (Bimker dan PHK) Lapas Lombok Barat, I Putu Ganesa Cakrawanasis, mengatakan pihaknya melakukan sejumlah penyesuaian teknis untuk menjaga produktivitas tanaman di tengah cuaca ekstrem.
“Di tengah cuaca ekstrem, kegiatan pertanian tetap berjalan. Kami melakukan pengelolaan yang lebih cermat, mulai dari penggunaan obat-obatan tanaman, pemupukan, hingga pengaturan sistem pengairan,” kata Ganesa, Jumat (23/1/2026).
Menurut Ganesa, perubahan cuaca yang kerap terjadi secara tiba-tiba berpotensi memengaruhi kondisi tanaman, terutama cabai yang rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Oleh karena itu, pihaknya menambah perlakuan khusus agar tanaman tetap tumbuh optimal hingga masa panen.
“Saat ini kegiatan berjalan seperti biasa, hanya ada penambahan obat-obatan dan pemupukan untuk menjaga kondisi tanaman,” ujarnya.
Dalam pengelolaan lahan tersebut, sebanyak 17 orang warga binaan dilibatkan secara aktif. Mereka mendapat pendampingan sejak tahap pengolahan lahan, penanaman, perawatan, hingga panen. Program ini diharapkan dapat membekali warga binaan dengan keterampilan pertanian yang dapat dimanfaatkan setelah mereka kembali ke masyarakat.
Kepala Lapas Kelas IIA Lombok Barat, M. Fadli, menegaskan bahwa program pembinaan kemandirian menjadi salah satu fokus utama lembaganya. Menurut dia, pembinaan tidak hanya bertujuan mengisi waktu warga binaan, tetapi juga memberikan bekal keterampilan yang memiliki nilai ekonomi.
“Kami berkomitmen menghadirkan program pembinaan yang benar-benar memberi manfaat bagi warga binaan sekaligus berdampak positif bagi masyarakat,” kata Fadli.
Ia menjelaskan, kegiatan pertanian dan perkebunan yang dikembangkan di Lapas Lombok Barat merupakan implementasi dari 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya pada aspek penguatan kemandirian dan ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan tidur.
Selain mendukung ketahanan pangan, program ini juga diharapkan mampu membentuk sikap disiplin, tanggung jawab, dan etos kerja warga binaan. Dengan tetap berjalannya aktivitas pertanian meski di tengah cuaca ekstrem, Lapas Lombok Barat berupaya memastikan pembinaan kemandirian berjalan berkelanjutan dan adaptif terhadap tantangan lapangan.













