Pertanian

NTP Petani NTB Naik ke 131, Gubernur Iqbal Dorong Pertanian Berbasis Teknologi

×

NTP Petani NTB Naik ke 131, Gubernur Iqbal Dorong Pertanian Berbasis Teknologi

Sebarkan artikel ini
NTP Petani NTB Naik ke 131, Gubernur Iqbal Dorong Pertanian Berbasis Teknologi

Lombok Barat, Jurnalekbis.com – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal mencatat lonjakan kesejahteraan petani di daerahnya. Hal itu ditandai dengan naiknya Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) dari angka 123 pada awal 2025 menjadi 131 di awal 2026.

Capaian tersebut disampaikan Iqbal saat menghadiri Serah Terima Jabatan (Sertijab) Kepala Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP/BRMP) NTB dari Dr. Ir. Awaludin Hipi, M.Si. kepada Hendro Cahyono, S.Pt., M.Sc., Selasa (10/2/2026).

“Saya menyaksikan sendiri kebahagiaan para petani. Indeks Pertanaman yang sebelumnya 100 kini naik menjadi 200, bahkan ada yang mencapai 300. Ini karena biaya produksi makin rendah, pupuk lebih mudah didapat, air tersedia, serta harga pembelian pemerintah (HPP) stabil di Rp6.500,” kata Iqbal.

Baca Juga :  Tekan Inflasi, PJ Gubernur Sidak Harga Kebutuhan di pasar    

Menurutnya, peningkatan tersebut merupakan hasil dari perbaikan sistem produksi pertanian, mulai dari distribusi pupuk hingga ketersediaan air irigasi. Namun ia menegaskan, tantangan ke depan bukan lagi sekadar menjaga stabilitas, melainkan meningkatkan produktivitas melalui pemanfaatan teknologi.

Iqbal menilai pertanian NTB tidak bisa lagi mengandalkan perluasan lahan. Dengan keterbatasan ruang, khususnya di Pulau Lombok, intensifikasi berbasis teknologi menjadi satu-satunya jalan.

“Tanah kita subur, cuaca mendukung. Tapi kenapa negara seperti Turki bisa menghasilkan 10 ton gabah kering per hektare, sementara kita masih 6–7 ton? Kuncinya teknologi,” ujarnya.

Ia pun mengajak petani mulai “memilenialkan” cara bertani. Penggunaan ponsel, kata dia, seharusnya dimanfaatkan untuk memantau kondisi lahan, bukan hanya media sosial atau aktivitas negatif.

“Kita harus ajak petani pakai smartphone untuk cek pH tanah dan kebutuhan unsur hara. Jangan jor-joran pupuk karena justru merusak tanah. Dengan teknologi, petani tahu apa yang dibutuhkan lahannya sebelum tanam,” tegasnya.

Baca Juga :  Pemerintah Perpanjang Relaksasi HET Beras, Pastikan Stabilitas Pasokan dan Harga

Gubernur juga mengungkapkan kedekatan personalnya dengan sektor pertanian. Kedua orang tuanya merupakan pelaku dan pejuang pertanian di NTB.

“Darah daging saya pertanian. Ibu saya sarjana pertanian, ayah saya petani. Dari kecil saya sudah sering diajak ke balai benih,” kenangnya.

Sementara itu, Kepala BRMP Pusat Prof. Dr. Fadjri Djufry menyebut NTB kini menjadi satu dari tujuh provinsi yang memiliki Balai Lahan Irigasi Pertanian (LIB) untuk mempercepat transformasi pertanian modern.

Ia menjelaskan, BRMP telah kembali menjalankan fungsi riset dan pengembangan di daerah, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Fokusnya kini pada perakitan, pengujian, dan penerapan teknologi spesifik lokasi.

Salah satu program strategis yang tengah disiapkan adalah menjadikan Sembalun, Lombok Timur, sebagai pusat benih bawang putih nasional. Saat ini Indonesia masih mengimpor 600–700 ribu ton bawang putih per tahun.

Baca Juga :  Rapat dengan DPR, Mentan Usulkan Rp5,1 Triliun untuk Pemulihan Pertanian Terdampak Bencana

“Kami sudah uji tujuh varietas unggul dengan potensi hasil 24–25 ton per hektare. Targetnya memutus ketergantungan impor lewat teknologi Proliga,” ujar Fadjri.

Ia berharap di bawah kepemimpinan baru BRMP NTB, kolaborasi pusat dan daerah semakin kuat demi mendorong kedaulatan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani di Bumi Gora.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *