Lombok Barat, Jurnalekbis.com – Di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Lombok Barat, sebuah kisah inspiratif tentang pemberdayaan dan harapan tumbuh subur. Para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di sana tidak hanya menjalani hukuman, tetapi juga bertransformasi menjadi petani multitalenta yang gigih. Mereka berhasil menyulap lahan tidur di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas menjadi ladang produktif yang menanam berbagai jenis tanaman, mulai dari pepaya california unggul, padi sawah, kangkung segar, hingga beragam tanaman holtikultura lainnya.
Keberhasilan ini bukan hanya sekadar bercocok tanam biasa. Di bawah bimbingan Lapas Lombok Barat, para WBP ini dibekali dengan pengetahuan mendalam tentang teknik budidaya modern, termasuk cara menanam pepaya california yang baik dan benar, serta metode pengendalian hama tanaman yang ramah lingkungan, tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya.
Kepala Lapas Lombok Barat, M Fadli, mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian para WBP ini. “Awalnya lahan ini tidak tergarap, bisa dibilang tidur. Namun, dengan semangat dan bimbingan yang tepat, para warga binaan kami mencoba menanam bibit pohon pepaya california. Alhamdulillah, hasilnya sangat memuaskan,” ujar M Fadli pada Senin (5/5/2025).
Lebih lanjut, Kalapas Fadli menjelaskan bahwa kegiatan pertanian terpadu ini telah membuahkan hasil yang signifikan. “Pada tahun sebelumnya, dalam seminggu kami bisa memanen sekitar 40 hingga 50 biji pepaya. Hasil panen ini kemudian dijual kepada masyarakat luas,” imbuhnya.
Menariknya, keuntungan dari penjualan hasil panen ini tidak hanya disetorkan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Para WBP yang terlibat langsung dalam kegiatan pertanian ini juga mendapatkan upah atau premi sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras mereka. Hal ini tentu menjadi motivasi tersendiri bagi para WBP untuk terus mengembangkan diri dan berkontribusi secara positif.
Inisiatif pemberdayaan WBP melalui pertanian terpadu ini sejalan dengan program Ketahanan Pangan yang dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia. Lapas Kelas IIA Lombok Barat di bawah kepemimpinan M Fadli menunjukkan komitmen yang kuat untuk mendukung program nasional tersebut.
Selain itu, kegiatan ini juga merupakan implementasi dari 13 program akselerasi yang digagas oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan. Salah satu fokus utama dari program-program tersebut adalah peningkatan pembinaan kemandirian bagi WBP agar setelah bebas nanti, mereka memiliki bekal keterampilan dan tidak kembali melakukan tindak pidana.
“Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan produktivitas di lahan SAE ini. Pembinaan kemandirian melalui pertanian adalah salah satu cara efektif untuk membekali para warga binaan dengan keterampilan yang bermanfaat,” tegas Kalapas Fadli.












