Jakarta, Jurnalekbis.com – Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana mengikuti tahap akhir penilaian Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Tahun 2026 dengan melakukan presentasi langsung di hadapan dewan juri. Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor PWI Pusat, Gedung Dewan Pers, Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Presentasi Mohan mendapat apresiasi tinggi dari dewan juri, khususnya atas keberhasilannya mengangkat budaya Sasak melalui ikon Gerbang Sangkareang hingga dikenal di level nasional bahkan internasional. Dewan juri menilai, pendekatan pembangunan berbasis budaya yang dilakukan Pemerintah Kota Mataram mampu melahirkan identitas kota sekaligus memberi dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.
Dewan juri Anugerah Kebudayaan PWI 2026 terdiri dari sejumlah tokoh nasional lintas disiplin, yakni Dr. Nungki Kusumastuti (dosen IKJ, penari, dan artis film), Agus Dermawan T (pengamat dan penulis seni budaya, penerima Anugerah Kebudayaan RI), Sudjiwo Tejo (seniman dan budayawan), Akhmad Munir (Ketua Umum PWI Pusat periode 2025–2030), serta Yusuf Susilo Hartono (wartawan senior, pelukis, dan penyair).
Anggota dewan juri Agus Dermawan T menyoroti keberanian Pemerintah Kota Mataram menghidupkan kembali arsitektur lumbung yang sempat meredup popularitasnya di tingkat nasional. Menurut Agus, lumbung pernah menjadi daya tarik besar di mata dunia seni internasional, terutama melalui karya-karya pelukis I Wayang Pengsong.
“Kini, Pak Mohan mengaplikasikan arsitektur lumbung itu ke dalam Gerbang Sangkareang sebagai ikon kota. Bahkan motifnya dikembangkan menjadi Batik Mentaram dan dipentaskan hingga ke luar negeri. Saya berharap popularitas lumbung bisa kembali bangkit di tingkat nasional,” ujar Agus.
Ia juga menyatakan kesiapan dirinya bersama para seniman lain untuk datang ke Mataram guna mengangkat budaya lokal Lombok dalam karya seni. “Kami siap diundang dan datang ke Kota Mataram,” katanya.

Sementara itu, Sudjiwo Tejo menilai kekuatan Lombok terletak pada masyarakatnya yang masih memelihara tradisi dan budaya secara konsisten. Ia mencontohkan tradisi Perang Topat yang hanya dijumpai di Lombok dan tidak ditemukan di daerah lain di Indonesia. Sudjiwo pun berharap kepemimpinan Mohan terus memberi ruang bagi budaya dan tradisi lokal tersebut.
Dalam presentasinya, Mohan Roliskana menjelaskan bahwa Kota Mataram merupakan kota heterogen dengan berbagai suku yang hidup rukun dan harmonis, sekaligus terbuka terhadap kemajuan teknologi. Namun, nilai budaya dan sejarah tetap dijaga sebagai fondasi pembangunan.
Ia menyebut Gerbang Sangkareang sebagai transformasi dari lumbung padi masyarakat Sasak yang melambangkan kemakmuran, kesejahteraan, serta nilai sosial dan spiritual seperti rasa syukur, pengendalian diri, dan gotong royong. Ikon tersebut diresmikan pada 2022 dan kini menjadi trademark baru Kota Mataram.
“Gerbang Sangkareang tidak hanya simbol, tetapi katalisator yang melahirkan ekosistem budaya baru. Ada turunan ekonomi seperti Batik Mentaram, arsitektur kota, hingga produk kerajinan. Bahkan bros yang saya pakai hari ini juga merupakan turunan dari Gerbang Sangkareang,” ujar Mohan.
Menurutnya, Batik Mentaram kini telah menembus panggung internasional, termasuk tampil di Bellabric dan Melbourne, Australia, serta memberikan dampak ekonomi berupa penciptaan lapangan kerja, peningkatan UMKM, dan penguatan city branding.
Selain Mohan Roliskana, sejumlah kepala daerah lain juga mengikuti tahap presentasi akhir, baik secara langsung maupun daring. Penghargaan Anugerah Kebudayaan PWI 2026 dijadwalkan diserahkan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten, 9 Februari 2026.













