Bisnis

Spotify Kerek Harga Langganan, Pasar AS Kena Imbas

×

Spotify Kerek Harga Langganan, Pasar AS Kena Imbas

Sebarkan artikel ini
Spotify Kerek Harga Langganan, Pasar AS Kena Imbas

Jurnalekbis.com– Spotify kembali menyesuaikan tarif layanannya. Setelah lebih dulu menaikkan harga paket berlangganan di Inggris dan Swiss, raksasa streaming musik asal Swedia itu kini resmi mengerek harga langganan di Amerika Serikat. Kenaikan ini menandai langkah lanjutan Spotify dalam menjaga profitabilitas di tengah tekanan biaya lisensi dan persaingan ketat industri streaming global.

Perubahan harga mulai berlaku bagi pelanggan baru di AS, sementara pengguna lama akan menerima pemberitahuan resmi sebelum tarif baru diterapkan. Spotify menyebut penyesuaian ini diperlukan agar perusahaan dapat terus berinvestasi pada konten, fitur, dan ekosistem kreator.

Harga Paket Spotify di AS Naik

Spotify menaikkan harga hampir seluruh paket berlangganannya di Amerika Serikat. Paket Individual Premium kini dibanderol US$11,99 per bulan, naik dari sebelumnya US$10,99. Paket Duo naik menjadi US$16,99, sementara Family Plan meningkat menjadi US$19,99 per bulan.

Untuk paket Student, Spotify juga melakukan penyesuaian dari US$5,99 menjadi US$6,99 per bulan. Kenaikan ini menjadi yang kedua dalam dua tahun terakhir, setelah sebelumnya Spotify menaikkan harga di AS pada pertengahan 2023.

Baca Juga :  PJ Gubernur NTB ; Menjaga Netralitas Tidak Melanggar Hukum

Dalam pernyataan resminya, Spotify menyebut penyesuaian harga sebagai langkah untuk menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dan kualitas layanan.

Inggris dan Swiss Jadi Negara Awal

Sebelum Amerika Serikat, Spotify lebih dulu menaikkan harga di Inggris dan Swiss. Di Inggris, harga paket Individual naik menjadi £11,99, sementara di Swiss mencapai CHF 13,95 per bulan.

Analis industri menilai pemilihan Inggris dan Swiss sebagai pasar awal bukan tanpa alasan. Kedua negara tersebut memiliki tingkat penetrasi pengguna premium yang tinggi serta daya beli yang relatif kuat.

Tekanan Biaya dan Target Profitabilitas

Kenaikan harga ini terjadi di tengah upaya Spotify mengejar profitabilitas jangka panjang. Meski memiliki lebih dari 600 juta pengguna aktif bulanan secara global, termasuk lebih dari 230 juta pelanggan premium, Spotify masih menghadapi tekanan biaya lisensi yang besar.

Laporan keuangan Spotify menunjukkan bahwa sekitar 70 persen pendapatan perusahaan dialokasikan untuk pembayaran royalti kepada label rekaman, penerbit musik, dan pemegang hak cipta.

Baca Juga :  OJK Luncurkan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perusahaan Pembiayaan 2024-2028

Selain itu, Spotify juga terus berinvestasi pada pengembangan konten non-musik seperti podcast dan audiobook, yang membutuhkan biaya produksi dan lisensi tambahan.

Respons Pasar dan Kekhawatiran Pelanggan

Kebijakan kenaikan harga ini memicu beragam reaksi dari pengguna. Sebagian pelanggan menyatakan memahami langkah Spotify, namun tak sedikit yang mengkhawatirkan kenaikan berulang dalam waktu singkat.

Di media sosial, sejumlah pengguna menyebut harga langganan streaming kini semakin mendekati layanan hiburan lain seperti video streaming.

Namun, Spotify tampaknya cukup percaya diri. Data internal perusahaan menunjukkan tingkat churn atau pelanggan berhenti berlangganan relatif rendah pasca kenaikan harga sebelumnya.

Persaingan dengan Apple Music dan YouTube Music

Langkah Spotify menaikkan harga juga tak lepas dari dinamika persaingan. Apple Music, pesaing utama Spotify, lebih dulu menaikkan harga langganannya di AS pada 2023, disusul YouTube Music.

Dengan harga yang kini relatif sejajar, Spotify bertaruh pada keunggulan fitur personalisasi, algoritma rekomendasi, serta katalog musik yang luas untuk mempertahankan dominasinya.

Baca Juga :  Tingkatkan PDRB dan PDB Sektor Industri, Disperin Terapkan Basis Kemitraan Investor Dengan Pengusaha Lokal

Dampak Global, Termasuk Pasar Berkembang

Meski kenaikan harga saat ini baru berlaku di AS serta beberapa negara Eropa, pasar mulai berspekulasi apakah langkah serupa akan menyusul di negara berkembang, termasuk Asia Tenggara.

Spotify belum memberikan sinyal resmi terkait kenaikan harga di Indonesia. Namun, tren global menunjukkan penyesuaian tarif kerap dilakukan bertahap mengikuti kondisi ekonomi dan daya beli masing-masing negara.

Bagi Spotify, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pengguna di pasar berkembang dan peningkatan pendapatan di pasar matang.

Langkah Strategis di Tengah Industri yang Berubah

Kenaikan harga langganan Spotify di Amerika Serikat menegaskan perubahan strategi industri streaming musik global. Setelah bertahun-tahun fokus pada ekspansi pengguna, kini perusahaan mulai memprioritaskan keberlanjutan bisnis.

Dengan tekanan biaya yang terus meningkat dan ekspektasi investor terhadap kinerja keuangan, Spotify tampaknya memilih jalan realistis: menaikkan harga sambil mempertahankan loyalitas pengguna.

Apakah strategi ini akan berhasil tanpa menggerus basis pelanggan, masih akan diuji dalam beberapa kuartal ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *