Jakarta, Jurnalekbis.com – Pemerintah Indonesia mengamankan komitmen investasi besar dari Inggris senilai 4 miliar poundsterling atau sekitar Rp90 triliun, menyusul pertemuan Presiden RI dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Investasi tersebut mencakup kerja sama sektor konstruksi, maritim, hingga pembangunan ribuan kapal nelayan yang diproyeksikan menyerap ratusan ribu tenaga kerja di Indonesia.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya mengatakan, ada tiga kesepakatan utama yang dihasilkan dari pertemuan bilateral tersebut. Selain investasi, kedua negara juga menyepakati penguatan kerja sama maritim dan pembangunan 1.582 unit kapal nelayan.
“Intinya ada tiga. Pertama, komitmen investasi sebesar 4 miliar poundsterling atau sekitar Rp90 triliun. Kedua, kerja sama maritim. Ketiga, pembangunan 1.582 kapal nelayan,” ujar Teddy dalam keterangannya.
Yang menjadi sorotan, pembangunan kapal nelayan tersebut akan dilakukan di dalam negeri. Menurut Teddy, Menteri Kelautan dan Perikanan memperkirakan proyek ini dapat menyerap sekitar 600 ribu tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung.
“Produksi dan perakitan kapalnya dilakukan di Indonesia. Sekitar 30 ribu orang akan menjadi awak kapal, 400 ribu tenaga kerja terlibat langsung dalam proses produksi, dan sekitar 170 ribu lainnya berasal dari efek berganda atau multiplier effect,” jelasnya.
Teddy menilai proyek tersebut tidak hanya berdampak pada sektor kelautan dan perikanan, tetapi juga industri manufaktur, logistik, hingga ekonomi daerah, khususnya wilayah pesisir.
Selain agenda ekonomi, Presiden RI juga memperkuat kerja sama di bidang pendidikan tinggi. Pada kesempatan terpisah, Presiden bertemu dengan 24 profesor dari 24 universitas terkemuka di Inggris Raya, termasuk King’s College London, University of Oxford, Imperial College London, University of Edinburgh, dan sejumlah universitas lain yang tergabung dalam Russell Group.
“Intinya ada kerja sama pendidikan. Presiden ingin membangun 10 kampus baru di Indonesia, terutama di bidang kedokteran dan STEM—Science, Technology, Engineering, and Mathematics,” kata Teddy.
Kerja sama tersebut mencakup pendirian kampus afiliasi universitas Inggris di Indonesia, peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di dalam negeri melalui kolaborasi internasional, serta program pertukaran dosen dan profesor.
“Profesor dari universitas top Inggris nantinya akan mengajar di universitas kita. Selain itu, ada juga rencana pembuatan kampus mereka di Indonesia. Kita sebenarnya sudah punya contoh di Singosari,” ujarnya.
Presiden juga bertemu dengan Menteri Pendidikan Inggris dalam rangkaian kunjungan tersebut. Pemerintah berharap kolaborasi dengan universitas-universitas papan atas dunia dapat mendorong peningkatan kualitas pendidikan tinggi nasional sekaligus mendongkrak peringkat universitas Indonesia di level global.
“Harapannya, dengan kerja sama ini, ranking universitas di Indonesia bisa naik di tingkat dunia,” pungkas Teddy.
Serangkaian pertemuan tersebut menunjukkan fokus pemerintah dalam menggabungkan diplomasi ekonomi dan pendidikan sebagai strategi jangka panjang untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperkuat daya saing Indonesia di kancah internasional.













