Lombok Timur, Jurnalekbis.com — Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, warga Desa Gelanggang, Kecamatan Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur, kembali menggelar tradisi Roah 1001 Tebolaq Beaq, Kamis (12/2/2025). Ritual turun-temurun ini menjadi momentum silaturahmi sekaligus ziarah massal ke makam leluhur.
Sejak pagi, puluhan ibu-ibu tampak berbondong-bondong berjalan dari jalanan desa menuju pekuburan umum Batu Ngereng Gelanggang Buwuh. Mereka membawa berbagai sajian makanan yang ditutup dengan tudung saji berwarna merah, dikenal dalam bahasa Sasak sebagai tebolaq beaq.
Di lokasi pemakaman, warga berkumpul untuk memanjatkan doa dan zikir bersama. Tradisi ini tidak hanya dimaknai sebagai persiapan spiritual menyambut Ramadan, tetapi juga sebagai sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.
Ketua Panitia Roah 1001 Tebolaq Beaq, Ibrahim, mengatakan tradisi tersebut telah lama dijalankan masyarakat setempat secara turun-temurun, khususnya oleh kaum ibu yang membawa hidangan ke area makam.
“Ini wujud silaturahmi antar masyarakat. Tujuannya mempererat hubungan dari satu gubuk ke gubuk lain, dari masyarakat ke tokoh, dan dari tokoh ke pemerintah,” ujar Ibrahim di sela kegiatan.
Menurutnya, Roah Tebolaq Beaq juga menjadi momen penting untuk berziarah ke makam keluarga dan kerabat, sekaligus sebagai wadah mendekatkan diri kepada Sang Pencipta menjelang bulan suci.

“Ini sebagai simbol untuk meningkatkan kualitas keimanan,” tambahnya.
Usai zikir dan doa bersama yang diniatkan bagi para leluhur yang telah meninggal dunia, acara dilanjutkan dengan makan bersama atau yang dikenal dengan istilah begibung. Seluruh warga, tamu undangan, tokoh agama, tokoh pemuda, hingga perwakilan pemerintah desa duduk melingkar menikmati hidangan yang telah dibawa masing-masing keluarga.
Ibrahim menjelaskan, filosofi begibung memiliki makna kebersamaan yang kuat karena dilakukan tanpa membedakan latar belakang sosial.
“Tidak ada kasta, tidak melihat jabatan. Semua duduk bersama. Tradisi seperti ini perlu dilestarikan supaya tidak tergerus modernisasi,” katanya.
Selain sebagai ritual keagamaan, Roah 1001 Tebolaq Beaq juga dipandang sebagai ruang konsolidasi sosial masyarakat desa. Dalam suasana sederhana di pemakaman umum, warga saling bertukar cerita, mempererat hubungan kekeluargaan, serta meneguhkan kembali nilai gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Sasak.
Tradisi ini rutin digelar setiap menjelang Ramadan dan menjadi salah satu warisan budaya lokal yang masih dijaga hingga kini. Pemerintah desa bersama tokoh masyarakat berharap kegiatan tersebut terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas lokal sekaligus penguat harmoni sosial.
Dengan ziarah, doa bersama, dan begibung, warga Desa Gelanggang menandai datangnya Ramadan bukan hanya dengan ritual keagamaan, tetapi juga dengan kebersamaan sebuah pesan sederhana tentang pentingnya persatuan di tengah perubahan zaman. (Tony)













