NewsNusantara

Banjir Tak Surut Lebih dari Sebulan, Warga Jerowaru Hidup di Atas Genangan

×

Banjir Tak Surut Lebih dari Sebulan, Warga Jerowaru Hidup di Atas Genangan

Sebarkan artikel ini
Banjir Tak Surut Lebih dari Sebulan, Warga Jerowaru Hidup di Atas Genangan

Lombok Timur, Jurnalekbis.com – Sekitar 80 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Sungkun, Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, masih bertahan di tengah genangan banjir yang tak kunjung surut lebih dari satu bulan. Air menggenangi permukiman warga sejak musim hujan datang dan belum juga mengalir ke laut akibat minimnya saluran drainase.

Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Safari Ramadhan bertajuk Jelajah Sosial Autore yang menyambangi lokasi terdampak, belum lama ini. Kunjungan itu diisi dengan penyerahan bantuan logistik sekaligus dialog langsung dengan warga untuk memetakan kebutuhan mendesak di lapangan.

Pantauan di lokasi menunjukkan genangan air masih menutup akses antar rumah. Sejumlah warga terpaksa membuat rakit sederhana dari bambu dan papan bekas. Sebagian lainnya menggunakan sampan kecil untuk keluar-masuk rumah. Aktivitas harian praktis lumpuh.

Baca Juga :  Polres Lombok Tengah dan Bhayangkari Berbagi Berkah di Bulan Ramadan

“Sudah lebih dari sebulan air begini. Tidak bisa surut karena tidak ada saluran pembuangan. Air tertahan di sini,” ujar salah seorang warga Dusun Sungkun saat ditemui di lokasi.

Menurut warga, air bah yang datang saat hujan deras semestinya mengalir ke laut. Namun karena tidak tersedia parit atau drainase memadai, air justru mengendap dan merendam rumah dalam waktu lama. Ketinggian air bervariasi, mulai dari setinggi mata kaki hingga lutut orang dewasa di beberapa titik.

Kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak sebagian besar telah mengungsi ke rumah keluarga atau tetangga yang tidak terdampak. Namun para kepala keluarga dan sebagian warga lainnya memilih bertahan. Mereka khawatir meninggalkan rumah tanpa penjagaan.

“Kami tetap tinggal untuk jaga rumah dan barang-barang. Kalau ditinggal kosong, takut rusak atau hilang,” kata warga lainnya.

Banjir tak hanya merendam bangunan dan perabotan, tetapi juga mengganggu kebutuhan dasar. Untuk memasak, warga harus berjalan ke lahan yang lebih tinggi atau ke bukit terdekat yang tidak tergenang. Di lokasi itulah mereka memasak secara bersama-sama dengan peralatan seadanya.

Baca Juga :  Ketua Dekranasda NTB Dukung Tenun Semoyang Tembus Fashion Global

Koordinator Jelajah Sosial Autore dalam keterangannya menyebut kunjungan Safari Ramadhan ini merupakan bentuk kepedulian sosial terhadap warga terdampak. Selain menyerahkan bantuan kebutuhan pokok, tim juga menyerap aspirasi warga terkait solusi jangka panjang.

“Kami melihat langsung kondisinya memang memprihatinkan. Warga berharap ada pembangunan saluran pembuangan air agar banjir seperti ini tidak terus berulang,” ujarnya.

Data sementara di lapangan mencatat sekitar 80 KK masih terdampak langsung genangan. Sebagian rumah mengalami kerusakan ringan pada dinding dan lantai akibat terendam terlalu lama. Aktivitas ekonomi warga pun terhenti, terutama bagi mereka yang menggantungkan penghasilan dari sektor perikanan dan usaha rumahan.

Kondisi Dusun Sungkun menjadi potret persoalan banjir yang tak semata dipicu curah hujan tinggi. Minimnya infrastruktur drainase dan tata kelola aliran air disebut menjadi faktor utama lambatnya surut genangan.

Baca Juga :  WBAC NTB Loloskan 4 Tim ke Perempat Final Airsoft FORNAS VIII

Memasuki bulan Ramadhan, warga berharap perhatian lebih serius dari pemerintah daerah untuk menghadirkan solusi permanen. “Kami tidak ingin setiap musim hujan selalu seperti ini. Harus ada jalan keluarnya,” kata seorang tokoh masyarakat setempat.

Hingga kini, genangan masih bertahan di sebagian besar permukiman. Warga terus berupaya bertahan sembari menanti penanganan yang lebih menyeluruh agar Dusun Sungkun terbebas dari banjir berkepanjangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *