BisnisEkonomiIndustri

Inovasi Bangunan Ramah Lingkungan: Ruang Kelas Dibangun dari Sampah Plastik

×

Inovasi Bangunan Ramah Lingkungan: Ruang Kelas Dibangun dari Sampah Plastik

Sebarkan artikel ini
Inovasi Bangunan Ramah Lingkungan: Ruang Kelas Dibangun dari Sampah Plastik

Mataram, Jurnalekbis.com– Persoalan sampah plastik di Indonesia dinilai kian mendesak. Di tengah tingginya timbunan sampah nasional, CEO PT Block Solutions Indonesia Jimmy Hutasoit menyebut perusahaannya mencoba menjawab persoalan itu lewat inovasi bahan bangunan berbahan 100 persen plastik daur ulang rumah tangga.

“Kalau kita bicara keresahan, ada dua. Pertama soal perubahan iklim global. Kedua soal sampah plastik di Indonesia yang sangat urgent,” kata Jimmy, Selasa (10/3).

Mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2023, Jimmy menyebut Indonesia menghasilkan sekitar 56 juta ton sampah per tahun. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 39 persen yang diproses secara layak, sementara 60 persen lainnya belum tertangani dengan baik.

“Dari 56 juta ton itu, 20 persennya adalah sampah plastik. Artinya jutaan ton plastik berpotensi berakhir di TPA atau bahkan di perairan,” ujarnya.

Baca Juga :  Meriahkan Hari Pelanggan Nasional 2023, PLN NTB Gelar Promosi di Acara Car Free Day

Ia menggambarkan, 60 persen sampah plastik yang tak tertangani setara dengan sekitar 2.000 truk sampah plastik yang berujung ke laut. Kondisi inilah yang mendorong Block Solutions memanfaatkan sampah plastik rumah tangga sebagai bahan baku utama produk blok bangunan mereka.

Berbeda dengan material konvensional, blok produksi perusahaan ini diklaim lebih ringan dan mempercepat proses konstruksi. “Untuk membangun satu ruang kelas dengan bahan bangunan biasa bisa memakan waktu 3 sampai 6 bulan. Dengan inovasi kami, bisa selesai kurang dari satu sampai dua bulan,” jelas Jimmy.

Menurutnya, seluruh produk telah melalui uji laboratorium, baik di dalam negeri maupun di Eropa. Ia menegaskan keamanan bangunan tetap terjaga selama proses konstruksi mengikuti panduan teknis yang telah ditetapkan perusahaan.

Isu mikroplastik juga menjadi sorotan. Jimmy mengatakan justru dengan mengolah plastik menjadi bahan bangunan, potensi plastik terurai di alam dan menjadi mikroplastik dapat ditekan. “Apa yang kami lakukan adalah mengurangi sampah plastik yang berakhir di TPA maupun perairan, yang justru bisa memicu persoalan mikroplastik,” katanya.

Baca Juga :  Posko Nataru Ditutup, Penumpang Bandara Lombok Tembus 171 Ribu

Sejauh ini, sekitar 300 ruang kelas di berbagai daerah, dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur (NTT), telah dibangun menggunakan blok berbahan plastik daur ulang tersebut. Setiap ruang kelas rata-rata memanfaatkan hingga dua ton sampah plastik.

“Kalau dikalikan, berarti sekitar 600 ton sampah plastik sudah kami daur ulang menjadi bangunan yang bermanfaat,” ujarnya.

Dampak sosialnya juga diklaim signifikan. Satu ruang kelas dapat digunakan 30 hingga 40 siswa, sekaligus melibatkan lima sampai sepuluh pekerja dalam proses pembangunannya. Di Lombok, kebutuhan ruang belajar masih tinggi pasca gempa 2018 yang merusak sekitar 1.200 sekolah.

“Kami ingin berkontribusi di Lombok, terutama dalam pemulihan fasilitas pendidikan. Bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal akses pendidikan yang layak,” kata Jimmy.

Baca Juga :  Beras Bansos Pemerintah Dikawal Polisi di Lombok Utara, Ini Alasannya!

Ke depan, Block Solutions berharap dapat memperluas produksi ke berbagai wilayah di Indonesia. Targetnya, selain menyerap lebih banyak sampah plastik di daerah, juga menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas.

“Harapan kami, produksi tidak hanya di Lombok, tapi di pulau-pulau lain. Supaya dampaknya lebih masif, baik untuk lingkungan maupun masyarakat,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *