BisnisEkonomi

Ekspor NTB Melejit 774 Persen, Tembaga dan Perhiasan Jadi Andalan

×

Ekspor NTB Melejit 774 Persen, Tembaga dan Perhiasan Jadi Andalan

Sebarkan artikel ini
Ekspor NTB Melejit 774 Persen, Tembaga dan Perhiasan Jadi Andalan

Mataram, Jurnalekbis.com – Kinerja ekspor Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Februari 2026 melonjak tajam. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat nilai ekspor pada Februari 2026 mencapai US$ 63,70 juta atau naik 774,25 persen dibandingkan Februari 2025.

Lonjakan itu turut mendongkrak akumulasi ekspor NTB sepanjang Januari-Februari 2026 menjadi US$ 140,34 juta. Angka tersebut melonjak 1.155,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kepala BPS Provinsi NTB, Wahyudin, mengatakan peningkatan ekspor didorong oleh tingginya permintaan terhadap komoditas unggulan NTB, terutama tembaga dan perhiasan.

“Nilai ekspor Januari-Februari 2026 mencapai US$ 140,34 juta atau naik 1.155,29 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Sementara ekspor Februari 2026 sebesar US$ 63,70 juta atau naik 774,25 persen dibanding Februari tahun lalu,” ujar Wahyudin, Rabu (1/4).

Komoditas tembaga masih menjadi penyumbang terbesar ekspor NTB pada Februari 2026. Nilainya mencapai US$ 37,63 juta atau setara 59,08 persen dari total ekspor.

Baca Juga :  Bawa Kartu Anak Dapat Diskon 10 Persen di Rumah Bakso

Di posisi kedua, komoditas perhiasan dan permata menyumbang US$ 23,05 juta atau 36,19 persen. Sementara itu, ekspor ikan dan udang tercatat sebesar US$ 2,49 juta atau 3,91 persen.

Adapun komoditas lainnya yang turut menopang ekspor NTB adalah garam, belerang dan kapur sebesar US$ 232,2 ribu atau 0,36 persen, serta daging dan ikan olahan sebesar US$ 163,6 ribu atau 0,26 persen.

Dominasi tembaga dan perhiasan menunjukkan struktur ekspor NTB masih bertumpu pada sektor pertambangan dan industri pengolahan berbasis mineral. Meski demikian, kontribusi sektor perikanan mulai terlihat melalui peningkatan ekspor ikan dan udang.

Dari sisi negara tujuan, Thailand menjadi pasar utama ekspor NTB pada Februari 2026 dengan kontribusi 38,66 persen. Setelah itu disusul Uni Emirat Arab sebesar 30,59 persen.

Tiongkok menempati urutan ketiga dengan porsi 8,56 persen, diikuti Vietnam sebesar 8,29 persen dan Amerika Serikat sebesar 3,97 persen. Sisanya, sebesar 9,93 persen, dikirim ke sejumlah negara lain.

Baca Juga :  Target Pangan Nasional: NTB Bidik Serapan Gabah Sempurna Lewat Kolaborasi Kuat

Wahyudin menilai besarnya ekspor ke Thailand dan Uni Emirat Arab dipengaruhi oleh tingginya permintaan terhadap tembaga dan perhiasan dari kedua negara tersebut.

Di tengah lonjakan ekspor, nilai impor NTB justru mengalami penurunan tajam. BPS mencatat impor NTB sepanjang Januari-Februari 2026 hanya sebesar US$ 7,92 juta, turun 84,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Sementara pada Februari 2026, nilai impor tercatat sebesar US$ 5,70 juta atau turun 58,72 persen dibandingkan Februari tahun lalu.

Penurunan impor ini terutama disebabkan berkurangnya pemasukan barang modal dan bahan baku tertentu. Kendati demikian, impor terbesar masih berasal dari kelompok mesin-mesin atau pesawat mekanik.

Pada Februari 2026, impor mesin-mesin dan pesawat mekanik mencapai US$ 4,13 juta atau 72,43 persen dari total impor NTB. Selanjutnya, kendaraan dan bagiannya sebesar US$ 888,2 ribu atau 15,56 persen.

Baca Juga :  Peningkatan Pendapatan Dorong PLN Masuk Fortune Global 500

Komoditas impor lainnya berupa bahan bakar mineral sebesar US$ 436,7 ribu atau 7,65 persen, mesin dan peralatan listrik sebesar US$ 109,8 ribu atau 1,92 persen, serta benda-benda dari besi dan baja sebesar US$ 33,9 ribu atau 0,60 persen.

Berdasarkan negara asal, impor NTB paling banyak berasal dari Tiongkok dengan kontribusi 47,90 persen. Setelah itu disusul Finlandia sebesar 20 persen, Amerika Serikat 15,44 persen, Singapura 10,02 persen dan Australia 6,65 persen.

Dengan lonjakan ekspor yang jauh lebih besar dibanding impor, neraca perdagangan NTB pada Februari 2026 kembali mencatat surplus. Kondisi ini dinilai menjadi sinyal positif bagi perekonomian daerah, terutama di tengah upaya pemerintah mendorong peningkatan nilai tambah komoditas ekspor dan memperluas pasar internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *