Mataram, Jurnalekbis.com – Harga kedelai impor di Nusa Tenggara Barat (NTB) melonjak tajam hingga menembus Rp13.500 per kilogram. Kenaikan ini mulai menekan pelaku usaha tahu dan tempe di sejumlah wilayah, termasuk Kota Mataram, karena biaya produksi naik sementara harga jual sulit dinaikkan.
Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB, Afgan, mengatakan harga kedelai saat ini sudah jauh di atas harga normal. Berdasarkan pantauan di lapangan, harga kedelai impor bahkan sudah melampaui harga acuan yang biasa digunakan perajin tahu dan tempe.
“Harga kedelai sangat tinggi sekali. Sudah di atas Rp10 ribu. Tadi kami wawancara dengan perajin tahu-tempe, harga acuannya Rp12.500 per kilogram, tapi setelah kami cek di pasar pantauan harganya sudah Rp13.500 per kilogram,” kata Afgan, Senin (6/4/2026).
Menurut Afgan, lonjakan harga tersebut dipicu karena pasokan kedelai nasional masih sangat bergantung pada impor, terutama dari Amerika Serikat. Ketergantungan itu membuat harga di daerah ikut terdampak ketika terjadi gangguan suplai atau perubahan kebijakan perdagangan internasional.
Ia mengingatkan, kondisi serupa pernah terjadi pada 2020. Saat itu, pasokan kedelai dari Amerika terganggu sehingga pemerintah pusat mengambil langkah alternatif dengan membuka impor dari China.
“Dulu pernah terjadi seperti ini pada 2020. Karena kedelai impor itu suplai utamanya dari Amerika. Waktu itu pemerintah pusat sempat mengambil kebijakan impor dari China untuk substitusi,” ujarnya.
Afgan menilai kenaikan harga kali ini tidak lepas dari memanasnya perang dagang antara China dan Amerika Serikat. Situasi tersebut memengaruhi arus perdagangan global, termasuk pasokan dan harga kedelai yang masuk ke Indonesia.
“Ini sebenarnya dampak perang dagang antara China dan Amerika. Jadi pasokan dan harga kedelai ikut terdorong naik,” katanya.
Di tingkat pelaku usaha, kenaikan harga kedelai dikhawatirkan akan membuat banyak perajin tahu dan tempe kesulitan bertahan. Sejumlah sentra produksi di Kota Mataram, seperti Abian Tubuh dan Kekalik, disebut mulai merasakan tekanan karena biaya bahan baku terus meningkat.
Namun, menurut Afgan, mayoritas perajin belum berani menaikkan harga jual tahu dan tempe ke konsumen. Mereka lebih memilih mengurangi ukuran produk atau menekan volume produksi agar tetap bisa bertahan.
“Biasanya mereka tidak langsung menaikkan harga. Kalau harga dinaikkan, bisa menimbulkan gejolak di tingkat konsumen. Jadi yang dilakukan biasanya ukuran tempe diperkecil atau produksinya dikurangi,” ujarnya.
Langkah tersebut dinilai sebagai pilihan paling aman agar produk tetap terjual di pasaran. Meski demikian, jika harga kedelai terus naik dalam beberapa pekan ke depan, tidak menutup kemungkinan sebagian perajin akan menghentikan produksi sementara.
Disperindag NTB mengaku belum bisa mengambil langkah langsung karena kebijakan impor berada di tangan pemerintah pusat. Namun, pihaknya akan segera berkoordinasi dan melaporkan kondisi harga kedelai di NTB agar ada respons cepat.
“Kami akan menyampaikan ke pemerintah pusat bahwa harga kedelai impor di daerah sudah melonjak tinggi. Nanti kami akan koordinasi terkait langkah apa yang bisa dilakukan,” kata Afgan.
Ia menambahkan, Disperindag NTB juga akan meminta arahan apakah pemerintah pusat akan kembali membuka opsi impor dari China atau mengambil kebijakan lain untuk menstabilkan harga.
“Kami akan hubungi pusat dulu. Setelah ada langkah dari sana, baru kami sampaikan lagi seperti apa tindak lanjutnya,” pungkasnya.














