BisnisIndustri

Harga Kedelai Tembus Rp10 Juta per Ton, Perajin Tahu-Tempe di Kekalik Berguguran

×

Harga Kedelai Tembus Rp10 Juta per Ton, Perajin Tahu-Tempe di Kekalik Berguguran

Sebarkan artikel ini
Harga Kedelai Tembus Rp10 Juta per Ton, Perajin Tahu-Tempe di Kekalik Berguguran

Mataram, Jurnalekbis.com – Kenaikan harga kedelai impor dan sulitnya perajin mendapatkan modal membuat usaha tahu dan tempe di Kelurahan Kekalik, Kota Mataram, kian terpuruk. Dalam beberapa bulan terakhir, puluhan perajin disebut menghentikan produksinya karena tidak lagi sanggup menutup biaya operasional.

Ketua Koperasi Perajin Tahu dan Tempe, Syafrudin, mengatakan kondisi para perajin saat ini jauh lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Menurut dia, banyak pelaku usaha kecil mulai gulung tikar karena tidak memiliki modal untuk membeli bahan baku.

“Banyak yang mati usahanya. Karena modal pinjaman tidak jalan, ditambah harga bahan baku semakin tinggi,” kata Syafrudin saat ditemui, Senin.

Ia menyebut harga kedelai impor saat ini sudah menembus Rp10 juta hingga Rp10,1 juta per ton. Padahal sebelumnya harga kedelai masih berada di bawah Rp10 juta per ton atau sekitar Rp9 juta.

Kenaikan itu membuat para perajin kesulitan membeli stok dalam jumlah besar. Jika sebelumnya mereka mampu membeli dua hingga tiga ton kedelai untuk kebutuhan produksi, kini membeli satu ton saja sudah terasa sangat berat.

Baca Juga :  Transisi Energi, PLN Jalin 28 Kerjasama pada EBTKE Conex 2023

“Dulu bisa beli dua ton, tiga ton. Sekarang satu ton saja berat sekali,” ujarnya.

Syafrudin menjelaskan, sebagian besar kedelai yang digunakan perajin berasal dari impor, terutama dari Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina. Sementara kedelai lokal dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan industri rumahan.

Menurut dia, kedelai lokal sebenarnya bisa digunakan. Namun pasokannya sangat terbatas dan hanya tersedia dalam waktu singkat. Selain itu, banyak petani enggan menanam kedelai karena biaya produksi lebih besar dibanding harga jual.

“Kalau kedelai lokal sebenarnya bisa, tapi di sini tidak ada. Paling ada satu bulan. Petani juga bilang biaya tanam lebih besar daripada harga jual,” katanya.

Tidak hanya dihantam harga kedelai, para perajin juga menghadapi persoalan bahan bakar untuk proses produksi. Bahan bakar yang biasa digunakan berupa tongkol jagung dan kayu kini semakin sulit diperoleh.

Baca Juga :  Bank Indonesia Dorong Ekonomi Hijau di NTB

“Tongkol jagung sekarang juga tidak ada. Dari kayu juga susah. Jadi pengeluaran semakin banyak,” ujar Syafrudin.

Kondisi itu diperparah dengan lemahnya penjualan di pasar. Syafrudin mengatakan keuntungan yang diperoleh perajin saat ini sangat tipis. Dalam kondisi normal, keuntungan bersih dari setiap cetakan tahu atau tempe hanya sekitar Rp10 ribu.

Namun ketika pasar sedang sepi, banyak dagangan tidak habis terjual dan terpaksa dibawa pulang. Situasi tersebut membuat para perajin semakin sulit memutar modal.

“Kalau ramai mungkin masih bisa dinaikkan sedikit. Tapi sekarang sepi, banyak yang bawa pulang karena tidak habis,” katanya.

Berdasarkan data koperasi, sebelumnya terdapat sekitar 80 perajin tahu dan tempe yang tersebar di empat lingkungan di Kelurahan Kekalik. Namun kini jumlah yang masih aktif diperkirakan tinggal sekitar 50 orang.

Baca Juga :  Toko Baru MR.D.I.Y. Sambangi Sumbawa, Belanja Hemat Kini Lebih Dekat

Sebagian lainnya memilih mengurangi volume produksi, bahkan berhenti total. Syafrudin memperkirakan jumlah perajin aktif masih bisa terus berkurang apabila harga bahan baku dan bahan bakar terus naik.

“Sekarang tinggal sekitar 50-an yang masih aktif. Itu pun banyak yang sudah mengurangi produksi. Kalau kondisi begini terus, kemungkinan akan terus berkurang,” ujarnya.

Akibat kondisi tersebut, Koperasi Perajin Tahu dan Tempe yang selama ini menjadi wadah perajin di Kekalik juga terpaksa dinonaktifkan sementara sejak akhir tahun lalu.

Syafrudin mengaku hingga kini belum ada solusi konkret yang bisa dilakukan. Ia berharap pemerintah dapat turun tangan, terutama untuk membantu akses permodalan dan menjaga stabilitas harga kedelai impor agar usaha kecil tetap bertahan.

Tanpa langkah cepat, bukan tidak mungkin industri tahu dan tempe rumahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan puluhan keluarga di Kekalik akan semakin banyak yang tutup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *