BisnisEkonomi

Vanili Organik Lombok Tak Terdampak Krisis, Amerika Justru Minta Lebih

×

Vanili Organik Lombok Tak Terdampak Krisis, Amerika Justru Minta Lebih

Sebarkan artikel ini
Vanili Organik Lombok Tak Terdampak Krisis, Amerika Justru Minta Lebih

Lombok Timur, Jurnalekbis.com – Di tengah ketidakpastian pasar global akibat memanasnya konflik di Timur Tengah, ekspor vanili organik dari Lombok ke Amerika Serikat justru masih bertahan. Bahkan, permintaan untuk vanili organik disebut tetap tinggi dan relatif tidak terpengaruh dibanding vanili konvensional.

Pengusaha vanili dari UD Rempah Organik Lombok, Muhir Ali, mengatakan perusahaannya masih aktif melakukan ekspor ke Amerika Serikat. Terakhir, pengiriman dilakukan pada 1 April lalu, meski volumenya belum terlalu besar.

“Kebetulan perkembangan kita, kemarin tanggal 1 itu kita ada ekspor ke Amerika. Tidak banyak, tapi kita masih eksis,” kata Muhir, Kamis (9/4).

Saat ini, UD Rempah Organik Lombok juga tengah mempersiapkan ekspor lanjutan untuk tahun 2026. Salah satu langkah yang dilakukan ialah melakukan audit standar organik Amerika Serikat terhadap petani vanili binaan mereka.

Baca Juga :  Ini Cara IWAPI NTB Siasati Mahalnya Harga Komoditas di Pasar

Menurut Muhir, audit itu penting untuk memastikan vanili yang diproduksi petani di Lombok tetap memenuhi syarat pasar Amerika, khususnya untuk kategori organik.

“Sekarang ini kita juga masih mempersiapkan ekspor di tahun 2026. Jadi kita lagi mengaudit tentang standar organiknya USA. Insya Allah tahun ini ada ekspor lagi, makanya ini kita sedang audit di petani vanili, khususnya untuk organik,” ujarnya.

Muhir menuturkan, situasi geopolitik dunia, terutama dampak perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, memang mulai memengaruhi pola penjualan di pasar internasional. Namun, pengaruh itu lebih terasa pada produk jadi berbahan vanili, bukan pada permintaan bahan bakunya.

Ia menjelaskan, sejumlah konsumen di Amerika Serikat yang menggunakan vanili sebagai bahan baku industri kini bergerak lebih lambat. Meski demikian, kebutuhan terhadap vanili tetap ada.

Baca Juga :  Nilai Tukar Petani NTB April 2024: Petani Masih Mampu Beli Kebutuhan, Daya Beli Sedikit Turun

“Mungkin saja terganggu masalah penjualan dari konsumen kita di sana yang barang jadinya dari vanili itu agak lambat. Tapi tetap mereka butuh vanili, hanya saja tidak seperti sebelumnya,” katanya.

Muhir mengakui ada perubahan permintaan pada pasar vanili secara umum. Namun, kondisi itu tidak terjadi pada segmen vanili organik. Justru, kata dia, permintaan vanili organik dari pasar Amerika Serikat cenderung meningkat.

“Kalau yang organik itu tidak ada perubahan permintaan, bahkan minta lebih,” ujarnya.

Perbedaan paling terasa, lanjut Muhir, terlihat pada harga. Vanili konvensional dinilai lebih rentan terdampak gejolak global sehingga harganya mulai turun. Sementara vanili organik masih mampu menjaga kestabilan harga.

“Kalau konvensional, di luar organik itu pastilah harganya terganggu, ada penurunan harga. Tapi kalau kita di organik itu masih stabil harganya,” kata Muhir.

Baca Juga :  Kasus Lahan 80 Hektar Sekotong, LAZ: Harus Clear and Clean Dulu

Tahun ini, UD Rempah Organik Lombok menargetkan ekspor vanili organik hingga 4 ton ke Amerika Serikat. Jumlah itu berasal dari total produksi sekitar 6 ton vanili organik yang dihasilkan perusahaan bersama petani mitra.

Muhir optimistis target tersebut dapat tercapai seiring meningkatnya permintaan pasar organik dan tetap terbukanya akses ekspor ke Amerika Serikat.

“Mudah-mudahan bisa di angka 4 ton organik. Produksi kita sekitar 6 ton dan semuanya untuk pasar Amerika,” ujarnya.

Ketahanan vanili organik Lombok di tengah gejolak ekonomi global menunjukkan bahwa pasar produk ramah lingkungan dan bersertifikat masih memiliki prospek kuat. Bagi petani di Lombok, peluang itu sekaligus menjadi harapan agar komoditas vanili tetap menjadi sumber pendapatan di tengah tekanan pasar internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *