Prabowo Sentil Sepak Bola RI: Negara Besar, Kok Gagal ke Piala Dunia?

Prabowo Sentil Sepak Bola RI: Negara Besar, Kok Gagal ke Piala Dunia?

Jakarta, Jurnalekbis.com – Presiden Prabowo Subianto menyoroti kegagalan Indonesia menembus Piala Dunia. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi bahan introspeksi, bukan alasan untuk mencari kambing hitam.

Prabowo menyampaikan hal itu saat menyinggung berbagai persoalan yang dihadapi Indonesia. Sepak bola dipilih sebagai salah satu contoh untuk menggambarkan pentingnya keberanian melihat fakta dan mencari penyebab sebuah kegagalan.

“Masalah sepak bola saja, kita tidak mampu masuk Piala Dunia,” kata Prabowo.

Presiden mengaku sedih melihat kondisi tersebut. Ia menilai Indonesia memiliki modal besar berupa jumlah penduduk yang mencapai sekitar 287 juta jiwa, tetapi belum mampu mengantarkan tim nasional ke panggung sepak bola dunia.

Prabowo kemudian membandingkan Indonesia dengan sejumlah negara berpenduduk jauh lebih kecil yang mampu lolos ke Piala Dunia, salah satunya Cape Verde.

“Ini fakta yang tidak enak. Masa negara kecil seperti Cape Verde masuk,” ujarnya.

Ia bahkan bergurau bahwa jumlah penduduk Cape Verde tidak sebanyak daerah di Indonesia. Menurut Prabowo, perbandingan tersebut seharusnya tidak menjadi bahan untuk meremehkan negara lain, melainkan pemicu evaluasi.

Baca Juga :  Prabowo Perintahkan PLN Atasi Listrik Padam, BBM Subsidi Tetap Tak Naik

Bagi Prabowo, ukuran negara dan jumlah penduduk bukan jaminan sebuah negara akan berprestasi dalam sepak bola. Yang lebih penting adalah bagaimana sistem pembinaan, kualitas pelatih, pendidikan pemain, hingga strategi kompetisi dibangun secara serius.

“Tidak ada gunanya kita mengeluh. Tidak ada gunanya,” tegasnya.

Prabowo Minta Jangan Cari Kambing Hitam

Prabowo juga menyinggung jajaran pengelola sepak bola nasional. Ia mengatakan tidak ingin pernyataannya dianggap sebagai serangan kepada pihak tertentu, termasuk Menteri Pemuda dan Olahraga.

“Mungkin yang tersinggung Menpora mungkin. Tapi beliau juga baru Menporanya,” kata Prabowo.

Ia mengakui perjuangan membawa Indonesia mendekati Piala Dunia bukan perkara mudah. Menurutnya, Timnas Indonesia sebelumnya sudah berjuang keras dan berada dalam posisi yang hampir membawa Indonesia lolos.

Namun, hasil tersebut tetap harus dievaluasi secara objektif.

“Mungkin strateginya harus lebih pintar kita,” ujarnya.

Prabowo meminta seluruh pihak berani melihat kenyataan, kemudian mencari akar persoalan. Evaluasi, menurut dia, harus diarahkan pada pertanyaan mendasar: mengapa negara lain bisa lolos, sementara Indonesia belum?

Baca Juga :  Prabowo Tegaskan Peran Himbara, Bank BUMN Diminta Tak Hanya Kejar Laba

Ia mendorong pembelajaran dilakukan secara konkret, mulai dari sistem pembinaan usia muda, kualitas guru atau pelatih, hingga metode yang diterapkan negara-negara yang berhasil mengembangkan sepak bolanya.

“Kenapa kok bisa negara itu masuk? Apa yang dilakukan? Pelatihnya dari mana? Guru-gurunya dari mana?” tutur Prabowo.

Sepak Bola Jadi Cermin Evaluasi Nasional

Presiden menegaskan, persoalan sepak bola hanyalah contoh kecil. Prinsip yang sama, kata dia, dapat diterapkan dalam berbagai sektor pembangunan nasional.

Ia juga mengaitkan pentingnya kualitas sumber daya manusia dengan kemajuan sains dan teknologi.

Prabowo mengingat kembali gagasan Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie, mengenai potensi besar sumber daya manusia Indonesia.

Ia mengutip pemikiran Habibie bahwa jika hanya satu persen penduduk Indonesia tergolong orang pintar, jumlahnya sudah mencapai jutaan orang.

“Enggak usah takut. Satu persen saja orang pintar di Indonesia, satu persen saja, itu hampir tiga juta orang,” kata Prabowo.

Pesan tersebut menjadi penekanan bahwa kegagalan seharusnya tidak berhenti pada kekecewaan. Indonesia, menurut Prabowo, harus berani mengakui kekurangan, mencari penyebab, belajar dari negara lain, lalu mengambil langkah perbaikan.

Baca Juga :  Sekda NTB: Reforma Agraria Bukan Sekadar Bagi Sertifikat Tanah

Dalam konteks sepak bola, sorotan itu kembali mengarah pada kebutuhan membangun sistem yang lebih kuat. Bukan sekadar mengandalkan talenta, tetapi memastikan pembinaan, pelatih, strategi, teknologi, dan manajemen berjalan dalam satu arah.

Bagi Prabowo, negara sebesar Indonesia tidak boleh puas hanya karena “hampir” mencapai target.

Fakta kegagalan, menurutnya, harus menjadi titik awal untuk berbenah.

“Jadi kita cari penyebabnya apa, baru kita harus berani berbuat,” tegas Prabowo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *