Gaya HidupNewsNusantara

Kartini Masa Kini dari NTB: Kisah Babinsa Perempuan Pertama di Karang Bayan

×

Kartini Masa Kini dari NTB: Kisah Babinsa Perempuan Pertama di Karang Bayan

Sebarkan artikel ini
Kartini Masa Kini dari NTB: Kisah Babinsa Perempuan Pertama di Karang Bayan
Pelda (K) Nyoman Dewi Tri Ary Susanti, Babinsa Desa Karang Bayan

Mataram, Jurnalekbis.com– Tugas sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa) dikenal berat, menuntut fisik prima dan mental kuat dalam menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat. Namun di Desa Karang Bayan, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, sosok Babinsa perempuan justru hadir menjadi inspirasi baru.

Adalah Pelda (K) Nyoman Dewi Tri Ary Susanti, Babinsa dari Koramil 1608/Narmada, Kodim 1606/Mataram, yang kini dikenal sebagai salah satu “Kartini masa kini” di wilayah tersebut. Ia menjadi Babinsa perempuan pertama di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), sebuah peran yang selama ini identik dengan laki-laki.

“Saya merupakan Babinsa perempuan pertama di NTB. Ini suatu kehormatan karena pimpinan memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengemban tugas ini,” ujar Pelda Dewi, Selasa (21/4).

Ia mengakui, tugas Babinsa bukanlah pekerjaan mudah. Selain menjaga keamanan wilayah, Babinsa juga harus terjun langsung ke tengah masyarakat, memahami persoalan sosial, hingga membantu penyelesaian berbagai masalah di desa.

Baca Juga :  Aksi Kemanusiaan untuk Palestina di Mataram: Ribuan Warga Gaza Diharapkan Bisa Dibawa ke Indonesia

“Menjadi Babinsa itu luar biasa. Kita tidak hanya bekerja dengan hati nurani, tapi juga harus langsung bersentuhan dengan masyarakat. Tantangannya pasti ada, karena di masyarakat banyak persoalan yang harus kita hadapi,” katanya.

Pelda Dewi mulai bertugas sebagai Babinsa sejak 2025 dan telah menjalani tugasnya selama kurang lebih enam bulan. Dalam waktu singkat tersebut, ia mengaku menemukan banyak pengalaman baru, terutama saat berinteraksi langsung dengan masyarakat desa.

Di Desa Karang Bayan sendiri, Pelda Dewi menjalankan sejumlah program yang fokus pada isu sosial. Salah satunya adalah upaya penanganan stunting yang masih menjadi persoalan di wilayah tersebut.

“Saya melihat masih banyak anak-anak yang kekurangan gizi. Itu yang menjadi fokus utama saya, bagaimana bisa membantu menurunkan angka stunting,” ujarnya.

Selain itu, ia juga berupaya mendorong peningkatan ekonomi masyarakat melalui potensi desa, khususnya di sektor pariwisata dan pengolahan sumber daya alam.

Baca Juga :  Bule Irlandia Ditemukan Tewas di Perairan Gili Trawangan

Menurutnya, Desa Karang Bayan memiliki potensi besar, mulai dari hasil pertanian seperti durian dan manggis, hingga pohon aren yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

“Selama ini nira sering hanya dijadikan gula atau difermentasi. Padahal bisa diolah menjadi produk lain yang lebih bernilai dan tidak beralkohol. Ini yang ingin saya dorong,” jelasnya.

Desa Karang Bayan sendiri terdiri dari lima dusun dengan karakter masyarakat yang beragam. Tidak hanya dihuni oleh umat Muslim, tetapi juga Hindu dan Nasrani, menjadikannya contoh nyata kehidupan multikultural.

“Yang luar biasa di sini adalah kebersamaan masyarakatnya. Tidak ada perbedaan. Mereka hidup rukun dan gotong royong sangat kuat,” kata Pelda Dewi.

Kehadiran Babinsa perempuan di desa tersebut juga mendapat sambutan positif dari masyarakat. Bahkan, menurut Pelda Dewi, kehadirannya menjadi motivasi bagi generasi muda, khususnya perempuan.

Baca Juga :  Banjir Bandang Terjang Kota Bima, Ratusan Warga Terdampak dan Satu Rumah Hanyut

“Selama ini masyarakat berpikir tentara itu hanya laki-laki. Sekarang mereka tahu perempuan juga bisa. Saya berharap ini bisa memotivasi anak-anak muda untuk mengejar cita-cita mereka,” ujarnya.

Dalam menjalankan tugasnya, Pelda Dewi mengaku tidak jarang harus siap siaga kapan pun, termasuk di malam hari. Dukungan keluarga, terutama suami dan anak-anak, menjadi kekuatan utama baginya.

“Babinsa tidak mengenal waktu. Kapan pun dibutuhkan, kita harus siap. Saya bersyukur keluarga selalu mendukung,” katanya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Nyoman mengaku bangga dapat menjalankan tugas sebagai Babinsa. Ia berharap kehadirannya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, meski dalam skala kecil.

“Saya mungkin tidak bisa membantu banyak, tapi saya ingin kehadiran saya bisa memberi warna dan manfaat bagi desa,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *