Kebakaran 30 Hektare Mengancam Kawasan Rinjani

Kebakaran 30 Hektare Mengancam Kawasan Rinjani

Lombok TImur, Jurnalekbis.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), tepatnya di wilayah Resort Sembalun, Nusa Tenggara Barat, Jumat (7/8/ 2026). Api yang awalnya terdeteksi dari tiga titik berkembang dan meluas hingga diperkirakan berdampak pada sekitar 30 hektare areal kawasan.

Luas lahan yang terbakar tersebut masih dalam proses konfirmasi oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR). Vegetasi yang terdampak sementara didominasi semak, perdu, dan liana.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha BTNGR, Astekita Ardiaristo, menjelaskan penanganan kebakaran melibatkan unsur taman nasional, masyarakat, aparat keamanan, hingga pemadam kebakaran. Total personel yang terlibat mencapai sekitar 22 orang.

“Keselamatan dan kesehatan kerja menjadi prioritas utama selama kegiatan pengendalian dan pemadaman,” kata Astekita, Sabtu (8/8).

Tiga Titik Api Terdeteksi

Kebakaran pertama kali diketahui setelah petugas Resor Sembalun menerima laporan masyarakat melalui WhatsApp sekitar pukul 16.48 WITA.

“Titik api terlihat di kawasan Maletan, Resort Sembalun, pada bagian batas kawasan sebelah kiri atas” jelasnya.

Baca Juga :  Final Round Pertamina Enduro Mandalika Racing Series 2023, Menobatkan Juara Nasional

Petugas Resor Sembalun bersama siswa praktik kerja lapangan (PKL) SKMA kemudian melakukan pengecekan langsung ke lokasi. Hasil pemeriksaan menemukan tiga titik api aktif.

“Tim selanjutnya kembali ke Resor Sembalun untuk mengambil peralatan pemadaman, termasuk pompa punggung, racun api, dan parang. Konsolidasi personel dilakukan sebelum seluruh tim kembali bergerak menuju lokasi,” ungkapnya.

Personel yang terlibat terdiri dari tiga petugas BTNGR, satu anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP), tujuh warga, empat siswa PKL SKMA, serta unsur Polsek Sembalun, Koramil Sembalun dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Lombok Timur.

Sebelum menuju lokasi, seluruh personel mengikuti apel dan pengarahan terkait keselamatan kerja.

Api Masih Berkembang hingga Malam

Setelah perjalanan sekitar 15 menit, tim tiba di lokasi dan langsung melakukan pengendalian serta pemadaman.

“Namun, kondisi di lapangan tidak mudah. Hingga pukul 18.30 WITA, api masih berkembang dan merambat ke areal di sekitarnya, “ terangnya.

Satu jam kemudian, tepat pukul 19.00 WITA, api belum berhasil dikendalikan. Dengan mempertimbangkan kondisi medan dan keselamatan personel, tim memutuskan kembali ke Pos Jaga sesuai prosedur keselamatan petugas pemadaman.

Baca Juga :  Gita Ajak Warga Nobar Timnas U-23: NTB Siap Jadi Tuan Rumah PON 2028!

Pemantauan tidak berhenti setelah tim meninggalkan lokasi. Sekitar pukul 20.30 WITA, pilot drone bersama tim pengendalian melakukan pemantauan udara untuk melihat perkembangan titik api sekaligus memetakan kondisi areal terdampak.

Upaya pemadaman kembali dilakukan sekitar pukul 20.40 WITA dengan dukungan Pemadam Kebakaran Lombok Timur, Polsek Sembalun dan Koramil Sembalun.

Mobil pemadam dikerahkan untuk menjangkau titik api. Dari posisi kendaraan, pemadaman berhasil dilakukan hingga radius sekitar 100 meter.

Pemadaman Dilanjutkan 8 Agustus

Seluruh tim kemudian kembali ke Pos Resor Sembalun sekitar pukul 22.00 WITA.

Dua puluh menit kemudian, koordinasi dilakukan untuk menyusun strategi pemadaman lanjutan. Rapat tersebut dihadiri Kapolres Lombok Timur dan Kepala SPTN Wilayah II.

Pemadaman diputuskan berlanjut pada Sabtu, 8 Agustus 2026, mulai pukul 07.00 WITA.

Tim gabungan yang disiapkan melibatkan Manggala Agni BTNGR, Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Pos Mataram, Polsek Sembalun, Koramil Sembalun, Brimob Lombok Timur, serta Pemadam Kebakaran Kabupaten Lombok Timur.

Baca Juga :  Polres Lombok Timur Raih Predikat A, Tertinggi di NTB

Pemantauan menggunakan drone dan pengamatan langsung tetap dilakukan untuk menentukan perkembangan api dan strategi penanganan berikutnya.

BTNGR juga meminta masyarakat di sekitar kawasan Rinjani meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta segera melaporkan jika menemukan titik api, asap, atau aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di dalam maupun sekitar kawasan taman nasional.

Penanganan karhutla ini menjadi perhatian karena kawasan Rinjani memiliki tutupan vegetasi yang mudah terdampak ketika api berkembang. Selain mempercepat pemadaman, pemantauan kondisi lapangan menjadi penting untuk memastikan api benar-benar terkendali dan tidak kembali menyebar ke kawasan lain

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *