Jurnalekbis.com – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai menggeser fokus pengembangan bawang putih dari sekadar penyediaan bibit menuju pembesaran umbi untuk kebutuhan konsumsi. Empat kelompok tani disiapkan mengikuti program pengembangan yang melibatkan Universitas Mataram (Unram), dengan demplot seluas 2 hektare.
Konsultan PUMKM Kantor Perwakilan BI NTB, Edy Suhardiman, mengatakan empat kelompok yang menjadi sasaran pengembangan tersebut yakni Kelompok Tani Lendang Luar, Pelangi, Gumilang, dan Maju Wangi.
“Tujuan kenapa kita mengembangkan klaster bawang putih ini, yang pertama tentunya terkait dengan komoditas unggulan. Kemudian yang kedua terkait dengan inflasi, karena bawang putih salah satu penyumbang inflasi,” kata Edy, Sabtu (3/10).
Program tersebut tidak berhenti pada pemberian bibit. Mulai 2026 dan berlanjut ke tahap berikutnya, BI menggandeng Unram untuk mendampingi petani dalam meningkatkan produksi umbi bawang putih hingga memenuhi kebutuhan konsumsi.
Menurut Edy, pendekatan itu menjadi bagian penting dalam pengembangan klaster. Teknologi dan pendampingan teknis dari Unram diharapkan membantu petani menghasilkan umbi dengan ukuran yang lebih optimal.
BI juga telah menyalurkan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) kepada empat kelompok tersebut. Bantuan antara lain berupa alat dan mesin pertanian (alsintan) yang dapat digunakan petani untuk mengurangi biaya produksi.
Edy menjelaskan, penggunaan alsintan menjadi salah satu cara menekan ongkos pengolahan lahan. Petani selama ini harus menyewa hand tractor untuk menggarap lahan. Biayanya berkisar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per hektare.
“Ini kenapa BI mendukung untuk alsintan tersebut? Untuk mengurangi cost biaya,” ujarnya.
Pengembangan lapangan akan dilakukan melalui demonstration plot atau demplot seluas sekitar 2 hektare. Empat kelompok tani masing-masing mendapat porsi sekitar 0,5 hektare.
Namun, pelaksanaan demplot tidak langsung dimulai pada November 2026. Manajer BI NTB, Rahardian Luthfan Ihtifazhuddin, mengatakan waktu tanam perlu disesuaikan dengan kondisi musim.
“Berdasarkan diskusi dengan Pak Haji Rusmaini dan rekan-rekan di kelompok tani, bulan November bukan bulan yang optimal untuk menanam bawang putih karena musim penghujan,” kata Rahardian.
Karena itu, BI dan Unram menggeser pelaksanaan demplot ke awal tahun berikutnya, saat kondisi musim dinilai lebih sesuai untuk budidaya bawang putih.
Sambil menunggu musim tanam, BI bersama Unram akan menggelar capacity building sekitar November. Kegiatan tersebut mencakup penyuluhan dan pelatihan bagi petani, terutama mengenai teknik pengembangan umbi bawang putih untuk konsumsi.
Program ini sekaligus memperkuat posisi bawang putih sebagai komoditas pertanian unggulan sekaligus komoditas yang berkaitan dengan pengendalian inflasi di NTB.












