BBM Langka di Bali, Puluhan Penumpang Bawa Bensin dalam Botol

BBM Langka di Bali, Puluhan Penumpang Bawa Bensin dalam Botol
BBM Langka di Bali, Puluhan Penumpang Bawa Bensin dalam Botol
Materi Iklan FINAL 2026

Jurnalekbis.com– Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali memicu praktik berbahaya di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Puluhan calon penumpang kapal kedapatan membawa BBM dalam kemasan tidak sesuai ketentuan, termasuk botol air mineral yang berisiko memicu kebakaran selama pelayaran menuju Pelabuhan Padangbai, Bali.

Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Lembar kini memperketat pemeriksaan terhadap kendaraan dan penumpang yang hendak menyeberang. Langkah ini bertujuan mencegah kebakaran kapal akibat penyimpanan BBM yang tidak memenuhi standar keselamatan.

Kepala KSOP Lembar, Syamsurizal, mengungkapkan petugas menemukan puluhan kasus sejak Jumat (16/10/2026). Temuan tersebut tersebar di sejumlah kapal yang melayani penyeberangan dari Lembar menuju Padangbai.

“Ada puluhan kasus yang kami temukan dari kemarin siang, rata-rata per kapal itu ada saja yang bawa. Sebagian besar dibawa penumpang dalam bentuk satu atau dua botol yang diisi dalam kemasan air mineral,” ungkap Syamsurizal, Sabtu (17/10/2026).

Syamsurizal menduga praktik membawa BBM dengan kemasan tidak sesuai ketentuan mulai marak sejak kelangkaan bahan bakar terjadi di Bali. Sebagian penumpang mengaku membawa bensin untuk memenuhi kebutuhan kendaraan mereka setibanya di Pulau Dewata.

Namun, petugas juga menemukan BBM dalam jeriken yang menimbulkan kecurigaan adanya upaya penjualan kembali di Bali.

“Rata-rata alasannya untuk dipakai sendiri, tapi ada juga yang bawa di jeriken yang dicurigai mau dijual di Bali,” jelasnya.

Meski begitu, dugaan penjualan kembali tersebut masih memerlukan pembuktian. KSOP Lembar menitikberatkan pengawasan pada kepatuhan terhadap ketentuan pengangkutan BBM dan potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan pelayaran.

Pengangkutan BBM menggunakan botol air mineral menjadi perhatian petugas karena kemasan tersebut bukan wadah standar untuk menyimpan bahan bakar. Uap bensin yang mudah terbakar dapat menimbulkan risiko serius apabila terpapar sumber panas atau percikan api.

Risiko tersebut semakin besar jika penumpang menyimpan BBM di lokasi dengan suhu yang tidak stabil atau berdekatan dengan aktivitas yang berpotensi menghasilkan percikan api.

“Bahayanya kalau misalkan ditempatkan pada tempat yang suhunya tidak stabil atau panas, atau misalnya mendapatkan percikan api dari kegiatan kapal. Itu dikhawatirkan bisa menyebabkan kebakaran,” tegas Syamsurizal.

Karena itu, KSOP mengimbau masyarakat agar tidak membawa BBM sembarangan saat menggunakan transportasi laut. Penumpang perlu mematuhi aturan pengangkutan bahan berbahaya demi melindungi diri sendiri, awak kapal, serta penumpang lainnya.

KSOP Lembar mulai meningkatkan pemeriksaan sejak Jumat pagi, 16 Oktober 2026. Petugas memeriksa kendaraan dan barang bawaan penumpang untuk memastikan tidak ada pengangkutan BBM yang berpotensi membahayakan keselamatan kapal.

Materi Iklan FINAL 2026

Syamsurizal menegaskan, pengawasan tersebut merupakan langkah antisipasi agar kelangkaan BBM di Bali tidak memicu persoalan keselamatan baru dalam layanan penyeberangan.

“Kami melakukan antisipasi, agar jangan sampai ada kejadian kebakaran di kapal gara-gara hal ini,” tandasnya.

Terhadap BBM yang ditemukan, petugas mengambil penanganan sesuai kondisi di lapangan. Sebagian penumpang diminta langsung memasukkan BBM ke tangki kendaraan masing-masing, sedangkan sebagian lainnya membawa BBM keluar dari area pelabuhan untuk dititipkan di kantor KSOP atau Polsek Pelabuhan (KP3).

KSOP Lembar mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil risiko dengan membawa BBM menggunakan wadah yang tidak sesuai standar. Keselamatan pelayaran harus menjadi prioritas, terutama ketika aktivitas penyeberangan tetap berjalan di tengah persoalan pasokan BBM di Bali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *