JURNALEKBIS.com — LOMBOK TENGAH, Komisi IX DPR RI bersama Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menggelar sosialisasi “Edukasi Pelindungan dan Migran Aman” di SMK Anak Bangsa, Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini menjadi langkah konkret pemerintah dalam mendukung program SMK Go Global, guna mengubah paradigma pengiriman tenaga kerja Indonesia dari pekerja kasar menjadi tenaga kerja terampil (skilled worker).
Anggota Komisi IX DPR RI, H. Muazzim Akbar, S.I.P., yang hadir langsung sebagai pembicara utama menegaskan bahwa selama ini pengiriman pekerja migran Indonesia (PMI) kerap tidak dibekali keahlian memadai. Hal ini membuat banyak tenaga kerja Indonesia, termasuk yang berpendidikan sarjana, terpaksa bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau buruh perkebunan kelapa sawit di luar negeri.
“Selama ini kita sering mengirim TKI ke luar negeri tanpa dibekali kemampuan atau skill yang memadai. Akibatnya, orang-orang kita banyak yang dikirim hanya menjadi pembantu rumah tangga atau pekerja kasar karena tidak memiliki keterampilan,” ujar Muazzim Akbar dalam sambutannya.
Ia menekankan, jika PMI dibekali dengan keahlian dan keterampilan, mereka akan memiliki harga diri serta daya tawar yang tinggi di mata pemberi kerja.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), pemerintah saat ini tengah mematangkan program pelatihan vokasi berskala besar. Muazzim memaparkan, pemerintah telah menganggarkan dana sekitar Rp2,5 triliun untuk program SMK Go Global.
“Mulai besok, anak-anak lulusan SMK akan kita latih sesuai kebutuhan. Biaya pelatihan ini gratis, dan setelah dilatih mereka akan diberikan sertifikat resmi dari badan nasional yang berwenang,” jelasnya.
Pelatihan akan difokuskan pada bidang-bidang yang paling dicari di pasar internasional, seperti perhotelan dan tata boga. Nantinya, para peserta akan ditempatkan di negara-negara seperti Jepang, Korea, Malaysia, dan lainnya dengan jaminan perlindungan penuh dari negara.
“Target kita hingga tahun 2029 adalah melatih 500.000 orang, dengan rincian 300.000 dari lulusan SMK dan 200.000 dari masyarakat umum. Kita prioritaskan agar lulusan SMK tidak ada yang menganggur,” tambahnya.
Kepala SMKN Anak Bangsa Praya, Sahrizal Fahlawi, menyambut baik pemilihan sekolahnya sebagai lokasi sosialisasi. Menurutnya, tema edukasi migran aman sangat relevan dengan visi sekolah sebagai lembaga pendidikan vokasi yang menyiapkan peserta didik berdaya saing global.
“Sejak berdiri pada 2015 hingga hari ini, SMK Anak Bangsa telah menamatkan 819 alumni. Sekitar 6% di antaranya bekerja sebagai pekerja migran Indonesia di Jepang, beberapa negara Asia Tenggara, dan Timur Tengah,” ungkap Sahrizal.
Sahrizal berharap, melalui edukasi ini, para siswa yang berniat bekerja di luar negeri dapat memahami pentingnya keselamatan, kepastian hukum, serta terhindar dari risiko penipuan, eksploitasi, dan perekrutan ilegal.
Di akhir sambutannya, Muazzim Akbar memberikan motivasi kepada para siswa agar mengubah pola pikir (mindset). Ia mengingatkan generasi muda untuk tidak langsung menikah dan menganggur setelah lulus sekolah, melainkan harus berani mencari pengalaman dan membangun keahlian.
“Carilah pengalaman di luar negeri dulu. Bagaimana disiplinnya bekerja di sana, bagaimana jam kerjanya. Kalau sudah punya keterampilan dan pengalaman, insyaallah saat kembali ke tanah air, itu semua akan menjadi modal untuk mandiri di daerah sendiri,” pesannya.
Ia juga mencontohkan kisah sukses para mantan pekerja migran yang berhasil merintis usaha waralaba hingga menjadi anggota dewan, sebagai bukti nyata bahwa pengalaman dan keahlian dari luar negeri dapat menjadi modal kesuksesan di masa depan.
Kegiatan ini ditutup dengan yel-yel penyemangat kebanggaan vokasi: SMK Bisa! SMK Hebat! SMK Go Global! yang menggema di aula SMK Anak Bangsa. Turut hadir dalam acara tersebut Kepala BP3MI NTB, Kadir, S.Pd., perwakilan Disnakertrans NTB, serta jajaran pimpinan Yayasan Anak Bangsa Indonesia.












