Beijing, Jurnalekbis.com — Presiden Tiongkok, Xi Jinping, kembali menegaskan komitmennya terhadap reunifikasi China dan Taiwan dalam pidatonya pada pertemuan tahunan Partai Komunis China (PKC) di Beijing. Dalam pernyataannya, Xi menyatakan bahwa “reunifikasi China-Taiwan adalah bagian dari revitalisasi besar bangsa Tiongkok” dan menekankan bahwa hal ini “pasti akan terjadi.”
Xi Jinping menyebut reunifikasi sebagai tugas sejarah yang tidak dapat dihindarkan dan merupakan tujuan strategis jangka panjang Tiongkok. “Kami tidak akan pernah meninggalkan opsi untuk menggunakan kekuatan jika diperlukan,” tegas Xi dalam pidato yang disiarkan langsung oleh media pemerintah. Namun, ia juga menekankan bahwa Tiongkok lebih mengutamakan jalan damai dalam proses reunifikasi.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Tiongkok dan Taiwan, terutama setelah kunjungan delegasi tingkat tinggi dari Amerika Serikat ke Taipei dalam beberapa bulan terakhir. Beijing menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri dan menentang segala bentuk pengakuan internasional terhadap status kedaulatan pulau tersebut.
Pemerintah Taiwan di bawah Presiden Tsai Ing-wen langsung merespons pernyataan Xi Jinping dengan menegaskan bahwa masa depan Taiwan hanya bisa ditentukan oleh rakyatnya sendiri. “Kami akan terus memperkuat pertahanan nasional kami dan bekerja sama dengan mitra internasional untuk melindungi kebebasan serta demokrasi di Taiwan,” kata Tsai dalam konferensi pers di Taipei.
Tsai juga menyebutkan bahwa Taiwan siap berdialog dengan Beijing, tetapi tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman militer. “Kami mencari hubungan damai dan stabil, tetapi tekanan tidak akan membuat kami menyerah,” tambahnya.
Sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa, telah menyatakan dukungan mereka terhadap Taiwan, terutama dalam menjaga kebebasan navigasi di Selat Taiwan. Dalam pernyataan terpisah, juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa Washington tetap berkomitmen pada kebijakan “Satu China” tetapi menentang upaya sepihak untuk mengubah status quo di Selat Taiwan.
Ketegangan antara Tiongkok dan Taiwan juga menjadi perhatian utama dalam berbagai forum internasional. NATO dan G7, dalam pernyataan bersama baru-baru ini, menggarisbawahi pentingnya stabilitas di kawasan Indo-Pasifik dan mengingatkan semua pihak untuk menahan diri dari tindakan provokatif.
Sebagai bagian dari tekanan terhadap Taiwan, Tiongkok telah meningkatkan aktivitas militernya di sekitar pulau tersebut. Data dari Kementerian Pertahanan Taiwan menunjukkan bahwa Tiongkok secara rutin mengerahkan pesawat tempur dan kapal perang ke zona identifikasi pertahanan udara Taiwan.
Analis menilai langkah ini sebagai bagian dari strategi tekanan militer dan psikologis Beijing untuk memaksa Taiwan menerima reunifikasi. Namun, beberapa pengamat juga memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat memicu konflik besar di kawasan Asia Timur.
Menurut Dr. Li Ming, pakar hubungan internasional dari Universitas Peking, pidato Xi Jinping menegaskan kembali prioritas utama Partai Komunis China. “Reunifikasi bukan hanya soal kedaulatan, tetapi juga simbol keberhasilan visi ‘China Dream’ yang dicanangkan oleh Xi Jinping,” ujarnya.
Namun, pengamat lain seperti Prof. Susan Thornton dari Yale University mengingatkan bahwa sikap keras Beijing dapat memperburuk isolasi internasional Tiongkok. “Pendekatan militer hanya akan meningkatkan solidaritas negara-negara demokrasi dengan Taiwan,” katanya.














