Mataram, Jurnalekbis.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi banjir rob di wilayah pesisir Lombok dan pesisir Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Peringatan ini berlaku mulai 1 Februari 2026 pukul 08.00 WITA hingga 5 Februari 2026 pukul 20.00 WITA, seiring terjadinya pasang maksimum air laut yang berpotensi menggenangi kawasan pesisir dan dataran rendah.
Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Lombok, Satria Topan Primadi, S.Si, mengatakan fenomena pasang laut maksimum yang terjadi dalam beberapa hari ke depan dapat memicu banjir rob, terutama di wilayah pesisir yang berdekatan dengan bantaran sungai dan permukiman rendah.
“Dengan adanya pasang air laut maksimum, masyarakat yang tinggal di pesisir Lombok dan pesisir Bima diimbau untuk tetap waspada dan siaga terhadap potensi banjir rob,” kata Satria dalam keterangannya, Sabtu (31/1/2026).
BMKG mencatat, kondisi cuaca selama periode peringatan dini umumnya berawan hingga hujan sedang. Sementara itu, arah angin didominasi dari Barat Daya hingga Barat Laut dengan kecepatan berkisar 5 hingga 20 knot. Kondisi tersebut turut memengaruhi dinamika gelombang laut di perairan NTB.
“Tinggi gelombang laut diprakirakan berada di kisaran 1,25 hingga 2,5 meter, sehingga masyarakat, khususnya nelayan dan pengguna transportasi laut, perlu meningkatkan kewaspadaan,” ujar Satria.

BMKG juga memprakirakan tinggi pasang maksimum mencapai sekitar 1,9 meter. Untuk wilayah Sape dan sekitarnya, waktu pasang diperkirakan terjadi pada pukul 14.00 hingga 02.00 WITA, sementara di wilayah lain terjadi pada pukul 21.00 hingga 02.00 WITA.
Adapun wilayah yang berpotensi terdampak banjir rob meliputi sejumlah daerah pesisir di NTB. Di Pulau Lombok, kawasan yang perlu diwaspadai antara lain Ampenan, Sekarbela, Gerung, Lembar, Pemenang, Jerowaru, dan Labuhan Lombok. Di Pulau Sumbawa, potensi dampak meliputi Sumbawa dan Labuhan Badas. Sementara di wilayah Bima, daerah rawan mencakup Palibelo, Woha, Bolo, Langgudu, Soromandi, Sape, Rasanae Barat, Hu’u, dan Asakota.
BMKG mengingatkan, banjir rob tidak hanya berpotensi menggenangi permukiman warga, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, termasuk transportasi laut, tambak, dan aktivitas pelabuhan.
“Masyarakat diharapkan tidak mengabaikan peringatan dini ini, terutama saat pasang maksimum, serta mengamankan barang-barang penting dan membatasi aktivitas di kawasan pesisir,” tegas Satria.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi gelombang laut terkini melalui kanal resmi BMKG, termasuk situs maritim.bmkg.go.id serta media sosial @infobmkgntb di Instagram, Facebook, dan Twitter.
BMKG menegaskan akan terus melakukan pemantauan intensif dan memperbarui informasi jika terjadi perubahan signifikan pada kondisi cuaca dan laut di wilayah NTB.













