Gaya HidupNewsNusantara

WBP Hindu di Lapas Lombok Barat Gelar Odalan, Jadi Ruang Menata Diri

×

WBP Hindu di Lapas Lombok Barat Gelar Odalan, Jadi Ruang Menata Diri

Sebarkan artikel ini
WBP Hindu di Lapas Lombok Barat Gelar Odalan, Jadi Ruang Menata Diri

Lombok Barat, Jurnalekbis.com – Di tengah kehidupan yang serba terbatas di balik tembok penjara, warga binaan pemasyarakatan (WBP) umat Hindu di Lapas Kelas IIA Lombok Barat mendapatkan ruang untuk menenangkan diri melalui pelaksanaan Odalan di Pura Padmasana Bajra Satwa, Kamis (2/4/2026). Kegiatan keagamaan itu dinilai menjadi salah satu cara efektif membangun kesadaran dan memperbaiki kondisi mental para warga binaan.

Pelaksanaan Odalan dipimpin Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Nusa Tenggara Barat, Agung Krisna. Ia menegaskan bahwa pembinaan di lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada keterampilan dan kedisiplinan, tetapi juga menyentuh sisi batin warga binaan.

“Kadang yang paling dibutuhkan itu bukan sesuatu yang besar, tapi ruang untuk tenang. Di situ mereka bisa mulai berdialog dengan diri sendiri, dan itu penting untuk proses perubahan,” kata Agung saat menghadiri kegiatan di Pura Padmasana Bajra Satwa.

Baca Juga :  11 Tuntutan KAMMI NTB: Dari Tambang, Petani, hingga Isu Perempuan

Menurut Agung, kegiatan keagamaan seperti Odalan memiliki peran penting dalam proses pembinaan karena memberi kesempatan bagi warga binaan untuk melakukan refleksi. Dari proses itu, mereka diharapkan mampu memahami kesalahan, memperbaiki diri, dan membangun harapan untuk menjalani hidup yang lebih baik setelah bebas.

Ia mengatakan, pembinaan spiritual merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari program pemasyarakatan. Sebab, perubahan perilaku tidak cukup hanya dibentuk melalui aturan dan hukuman, tetapi juga melalui pendekatan yang menyentuh kesadaran pribadi.

“Odalan ini bukan sekadar ritual. Ini menjadi sarana bagi warga binaan untuk menemukan kembali makna hidup dan membangun ketenangan dalam dirinya,” ujarnya.

Kepala Lapas Kelas IIA Lombok Barat, M. Fadli, mengatakan kegiatan pembinaan berbasis keagamaan selama ini menunjukkan hasil yang nyata. Menurut dia, warga binaan yang rutin mengikuti kegiatan spiritual cenderung lebih tenang, lebih terbuka, dan mampu mengendalikan emosi.

Baca Juga :  Pencarian Balita Hilang di Lombok Timur Dihentikan Setelah 7 Hari

“Kami melihat sendiri perubahan itu. Mereka jadi lebih tenang, lebih terbuka, dan perlahan mulai menata diri,” kata Fadli.

Fadli menuturkan, Lapas Lombok Barat selama ini berupaya menyediakan ruang pembinaan yang seimbang antara pelatihan keterampilan dan penguatan mental. Selain kegiatan keagamaan, warga binaan juga mengikuti berbagai program pembinaan lain, mulai dari pelatihan kerja hingga kegiatan sosial.

Namun, menurut dia, pembinaan spiritual tetap menjadi salah satu fondasi penting. Sebab, ketenangan batin sering kali menjadi titik awal perubahan sikap dan perilaku warga binaan.

Pelaksanaan Odalan di Pura Padmasana Bajra Satwa berlangsung khidmat. Prosesi dipimpin oleh Ida Pedanda Gede Nyoman Dwija Putra Demung dan diikuti seluruh pegawai serta warga binaan umat Hindu di lingkungan Lapas Lombok Barat.

Baca Juga :  Brimob Polda NTB Turun Tangan Bersihkan Sekolah Pascabencana di Aceh Tamiang

Sejak pagi, warga binaan tampak mengikuti setiap tahapan persembahyangan dengan tertib. Mereka mengenakan pakaian adat sembari membawa sarana persembahyangan ke pura yang berada di area lapas.

Suasana hening dan penuh penghayatan terlihat selama prosesi berlangsung. Di tengah keterbatasan ruang gerak dan rutinitas di dalam lapas, kegiatan itu menjadi momen yang memberi kesempatan bagi warga binaan untuk sejenak menenangkan pikiran.

Lapas Lombok Barat menilai pendekatan semacam ini perlu terus dilakukan secara berkelanjutan. Selain membantu menjaga stabilitas psikologis warga binaan, pembinaan spiritual juga diharapkan mampu mendorong mereka untuk kembali ke masyarakat dengan sikap yang lebih baik.

Melalui kegiatan Odalan tersebut, lapas ingin menunjukkan bahwa proses pembinaan tidak berhenti pada hukuman, tetapi juga membuka jalan bagi setiap warga binaan untuk memperbaiki diri dan memulai kehidupan baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *