Malang, Jurnalekbis.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur menjadikan susu sapi perah sebagai fokus utama Program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) 2026. Komoditas ini dipilih karena memiliki potensi ekonomi besar, didukung permintaan nasional yang terus meningkat, sekaligus dinilai mampu memperkuat akses pembiayaan bagi peternak.
Manajer Senior OJK Jawa Timur Parata Surya Adi Moeljowidjojo mengatakan Jawa Timur merupakan daerah dengan ekosistem pengembangan ekonomi yang relatif lengkap dibandingkan wilayah lain. Selain melibatkan sektor perbankan, program tersebut juga menggandeng industri asuransi, pegadaian, pasar modal, dana pensiun, hingga inovasi teknologi sektor keuangan.
“Seluruh komoditas unggulan di masing-masing daerah perlu mendapatkan perhatian untuk terus dikembangkan. Di Jawa Timur, kami memilih susu sapi perah karena memiliki potensi yang sangat besar,” ujar Parata.
Menurutnya, Program Pengembangan Ekonomi Daerah mulai dijalankan pada 2024 melalui komoditas melon di Kabupaten Lamongan. Program tersebut kemudian diperluas pada 2025 dengan pengembangan pisang mas kirana di Lumajang serta perluasan budidaya melon ke sejumlah wilayah lain.
Memasuki 2026, OJK mengalihkan fokus pengembangan ke kawasan Malang Raya yang menjadi sentra produksi susu sapi nasional.
Parata menjelaskan, terdapat sedikitnya delapan alasan yang menjadi dasar pemilihan komoditas tersebut. Salah satunya karena Jawa Timur merupakan penghasil susu sapi terbesar di Indonesia dengan populasi sapi perah terbanyak, terutama di Kabupaten Malang dan Pasuruan.
Selain itu, hasil analisis menunjukkan adanya kesenjangan cukup besar antara produksi susu nasional dengan kebutuhan pasar. Kondisi tersebut diperkirakan semakin meningkat seiring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan susu dalam jumlah besar.
“Kalau produksi susu sapi tidak kita tingkatkan, ke depan gap antara permintaan dan penawaran akan semakin besar,” katanya.
OJK juga melihat sektor peternakan masih membutuhkan dorongan setelah sempat terdampak wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada 2021–2022 yang menyebabkan penyaluran kredit peternakan melambat.
Melalui program ini, OJK tidak hanya menyediakan akses pembiayaan, tetapi juga membangun ekosistem usaha secara menyeluruh. Di antaranya melibatkan PT Pegadaian, perusahaan asuransi, BPJS Ketenagakerjaan, Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), platform Securities Crowdfunding (SCF), hingga lembaga pemeringkat kredit alternatif.
Pendampingan juga diperkuat melalui kerja sama dengan Universitas Airlangga dan Universitas Brawijaya untuk memberikan pelatihan, riset, serta peningkatan produktivitas peternakan.
Di sisi digitalisasi, OJK bersama International Labour Organization (ILO) dan dukungan Pemerintah Swiss mengembangkan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) bagi koperasi susu guna memperkuat tata kelola usaha peternak.
Parata menyebut kepastian pasar menjadi salah satu keunggulan sektor susu sapi di Jawa Timur. Sejumlah industri pengolahan susu besar seperti Nestlé, Greenfields, Indolakto, serta koperasi susu telah menjadi off-taker yang siap menyerap hasil produksi peternak.
OJK memperkirakan penambahan satu ekor sapi produktif mampu meningkatkan produksi sekitar 13 liter susu per hari atau hampir 400 liter per bulan. Dengan asumsi harga jual saat ini, tambahan produksi tersebut berpotensi meningkatkan pendapatan peternak hingga sekitar Rp3 juta setiap bulan.
“Kami berharap akses keuangan yang semakin terbuka dapat meningkatkan skala usaha peternak. Idealnya, usaha susu sapi mulai layak secara ekonomi ketika peternak memiliki minimal empat hingga lima ekor sapi,” ujar Parata.














