Saniah Gagal Jual Rumah, TKI Asal Lombok Timur Dipulangkan Gratis Berkat Campur Tangan Pemerintah

Saniah Gagal Jual Rumah, TKI Asal Lombok Timur Dipulangkan Gratis Berkat Campur Tangan Pemerintah

Lombok Timur, Jurnalekbis.com – Harapan keluarga Saniah untuk mempertahankan rumah akhirnya terwujud. TKI asal Dusun Bagek Polak, Desa Batu Putik, Kecamatan Keruak, Lombok Timur, itu batal menjual rumah keluarga setelah pemerintah bersama sejumlah lembaga memberikan bantuan penuh untuk biaya perawatan dan pemulangannya dari Malaysia ke Indonesia.

Sebelumnya, keluarga Saniah menghadapi beban yang sangat berat. Biaya perawatan di Hospital Segamat, Malaysia, diperkirakan mencapai Rp300 juta, sementara biaya pemulangan ke Lombok dengan pendampingan dokter dan perawat melalui penerbangan khusus diperkirakan mencapai Rp80 juta. Karena tidak memiliki kemampuan finansial, keluarga bahkan telah menawarkan rumah untuk dijual demi menyelamatkan Saniah.

Namun, rencana tersebut akhirnya tidak terjadi setelah berbagai instansi pemerintah dan lembaga terkait mengambil langkah cepat sehingga seluruh proses perawatan hingga pemulangan dapat dilakukan tanpa membebani keluarga.

Juru bicara keluarga, Muhrim, menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membantu Saniah sejak menjalani perawatan di Malaysia hingga kini mendapatkan penanganan lanjutan di Rumah Sakit Provinsi NTB.

Baca Juga :  Target Pangan Nasional: NTB Bidik Serapan Gabah Sempurna Lewat Kolaborasi Kuat

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran Pemerintah Republik Indonesia yang telah hadir membantu saudara kami. Berkat perhatian semua pihak, Saniah dapat pulang tanpa keluarga harus menjual rumah atau mengeluarkan biaya ratusan juta rupiah,” ujar Muhrim, Jumat (17/7/2026).

Menurut Muhrim, Saniah mengalami kecelakaan serius saat bekerja di Malaysia. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 19.00 waktu setempat. Korban kemudian ditemukan dan dievakuasi menggunakan ambulans yang melintas sebelum dibawa ke Hospital Segamat sekitar pukul 07.00 pagi untuk mendapatkan penanganan medis.

Ia mengatakan, pengalaman yang dialami Saniah menjadi pelajaran penting bagi masyarakat, khususnya warga Nusa Tenggara Barat yang ingin bekerja di luar negeri.

“Kami berharap kejadian ini menjadi pembelajaran agar masyarakat menggunakan jalur resmi ketika ingin bekerja ke luar negeri. Dengan prosedur yang benar, proses administrasi dan perlindungan akan jauh lebih mudah apabila terjadi keadaan darurat,” katanya.

Baca Juga :  Rachmat Hidayat : Generasi Muda Harus Implementasikan Empat Pilar Kebangsaan

Muhrim juga menyampaikan penghargaan kepada Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia melalui BP2MI, Gubernur NTB H. Lalu Muhammad Iqbal, Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin, jajaran Dinas Tenaga Kerja Lombok Timur, Baznas Lombok Timur, Bupati Lombok Tengah H. L. Fathul Bahri, Baznas Lombok Tengah, Baznas Provinsi NTB, Baznas Batam, BP3MI, Direktur Rumah Sakit Provinsi NTB dr. H. Asrul Sani, manajemen Lion Air, Direktur Rumah Sakit Awal Bros Batam beserta dokter dan perawat, serta jajaran KJRI Malaysia dan KBRI Kuala Lumpur yang ikut mendampingi proses pemulangan.

Seluruh biaya pemulangan Saniah dari Batam menuju Lombok dilakukan menggunakan pesawat dengan pendampingan tenaga medis sehingga kondisi pasien tetap terpantau selama perjalanan hingga tiba di Nusa Tenggara Barat untuk menjalani perawatan lanjutan.

Muhrim menegaskan, keluarga tidak memiliki kata-kata yang cukup untuk membalas seluruh bantuan yang diberikan. Ia berharap seluruh pihak yang telah membantu mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT atas kepedulian dan kerja sama yang diberikan.

Baca Juga :  Ganjar Mahfud Dapat Dukungan Insan Pariwisata Lombok

Kasus Saniah juga menjadi gambaran pentingnya kehadiran negara dalam memberikan perlindungan kepada pekerja migran Indonesia. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, rumah sakit, lembaga kemanusiaan, hingga perwakilan Indonesia di luar negeri berhasil meringankan beban keluarga sekaligus menyelamatkan aset satu-satunya yang hampir dijual untuk membiayai pengobatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *