Jakarta, Jurnalekbis.com – Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani Chaniago, melontarkan kritik tajam terhadap pengelolaan anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) setelah menemukan perbedaan mencolok antara anggaran yang diajukan dan realisasi belanja pegawai. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan lemahnya perencanaan anggaran sekaligus menjadi sinyal perlunya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola lembaga pelaksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam rapat kerja Komisi IX DPR RI bersama BGN, Irma menyoroti data pada halaman tiga laporan keuangan yang menunjukkan anggaran belanja pegawai mencapai Rp3,384 triliun, sementara realisasinya hanya sekitar Rp117 miliar.
“Ini menjadi catatan kritis bagi kita semua. Bagaimana bisa BGN meminta anggaran yang begitu besar, tetapi realisasinya hanya Rp117 miliar. Ke depan, cara BGN mengajukan anggaran dan merencanakan penyerapannya harus dikaji ulang secara mendalam,” kata Irma.
Menurut legislator tersebut, selisih anggaran yang sangat besar bukan sekadar persoalan administratif, tetapi mencerminkan lemahnya proses perencanaan dan penghitungan kebutuhan riil. Jika kondisi serupa terus berulang, efektivitas penggunaan APBN dikhawatirkan semakin sulit dipertanggungjawabkan.
Selain anggaran, Irma juga menyoroti berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, termasuk sejumlah kasus keracunan makanan yang terjadi di beberapa daerah. Ia menilai persoalan tersebut berakar dari laju pembentukan kemitraan yang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan pemerintah melakukan pengawasan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurutnya, percepatan pembentukan SPPG yang didukung dana masyarakat tidak dibarengi sistem kontrol kelayakan yang memadai. Akibatnya, pengawasan menjadi longgar sehingga membuka ruang munculnya berbagai persoalan di lapangan.
Irma mengakui jajaran pimpinan BGN saat ini menghadapi tantangan besar karena harus menyelesaikan berbagai persoalan yang ditinggalkan pengurus sebelumnya. Namun demikian, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menunda pembenahan tata kelola.
Ia menegaskan evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh melalui tiga aspek utama, yakni penataan sistem penganggaran agar lebih rasional, pembenahan administrasi dan regulasi internal, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia yang menjalankan program di lapangan.
“Perbaikan tata kelola harus berjalan bersamaan dengan penyelesaian masalah yang sudah terjadi. Jangan sampai administrasi diperbaiki, tetapi persoalan mitra di lapangan dibiarkan tanpa kepastian,” ujarnya.
Irma juga meminta BGN menghentikan sementara rencana pembangunan dapur-dapur baru sebelum seluruh persoalan yang ada terselesaikan. Menurutnya, penambahan fasilitas baru justru berpotensi memperbesar beban organisasi apabila persoalan lama belum dituntaskan.
Dalam kesempatan itu, ia mempertanyakan urgensi sejumlah pengadaan yang dinilai belum memiliki dasar kebutuhan yang jelas, seperti motor listrik, tablet, sepatu, dan berbagai pengadaan lainnya. Ia meminta BGN mampu menjelaskan manfaat langsung dari setiap belanja tersebut terhadap keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis.
Meski melontarkan kritik keras, Irma menegaskan Komisi IX DPR RI tetap memberikan dukungan penuh terhadap Program Makan Bergizi Gratis karena manfaatnya dinilai sangat besar bagi peningkatan kualitas gizi masyarakat. Namun, dukungan tersebut harus diiringi dengan pengelolaan yang profesional, transparan, dan akuntabel.
“Kami mendukung penuh Program Makan Bergizi Gratis. Tetapi dukungan bukan berarti menutup mata terhadap berbagai persoalan. Kami ingin tata kelolanya berubah menjadi lebih profesional, akuntabel, dan responsif terhadap persoalan di lapangan,” tegasnya.
Menutup penyampaiannya, Irma meminta BGN menjelaskan komitmen konkret dalam menyelaraskan reformasi tata kelola dengan penyelesaian persoalan para mitra SPPG yang telah berinvestasi dan menunggu kepastian dari pemerintah. Menurutnya, langkah tersebut menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan publik sekaligus memastikan Program Makan Bergizi Gratis berjalan sesuai tujuan awalnya.













