BRIN Siapkan Teknologi CNG Pengganti LPG, Bisa Hemat Rp26 Triliun

BRIN Siapkan Teknologi CNG Pengganti LPG, Bisa Hemat Rp26 Triliun

Jakarta, Jurnalekbis.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan teknologi penyimpanan gas alam yang berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. Teknologi tersebut mengubah compressed natural gas (CNG) menjadi absorbed natural gas (ANG) menggunakan material Metal-Organic Framework (MOF).

Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria mengatakan, teknologi tersebut memungkinkan CNG disimpan pada tekanan sekitar 30 bar dengan kapasitas penyimpanan yang lebih besar.

“Sekarang ini kita bisa menghasilkan satu terobosan penting, yaitu bagaimana menghasilkan ANG dari CNG dengan tekanan 30 bar,” kata Arif.

Menurut dia, teknologi tersebut saat ini masih dalam tahap uji coba. Namun, hasil awal menunjukkan potensi penggunaan gas yang lebih lama dibandingkan LPG.

Jika satu tabung LPG 3 kilogram selama ini digunakan sekitar 10 hari, teknologi baru tersebut ditargetkan mampu memperpanjang pemakaian hingga 15 hari atau sekitar 1,5 kali lebih lama.

BRIN masih melanjutkan riset untuk meningkatkan efisiensi penyimpanan hingga dua kali lipat. Jika berhasil diterapkan secara luas, teknologi tersebut diperkirakan dapat menghemat biaya energi hingga Rp26 triliun per tahun.

Baca Juga :  Pekan Kebudayaan Nasional 2023 Ajak Publik Telisik Kota

Arif menyebut riset energi menjadi salah satu perhatian utama karena Indonesia perlu memperkuat kemandirian energi di tengah perubahan geopolitik global.

“Resiliensi sebuah bangsa sangat penting. Dan resiliensi itu hanya bisa kita lakukan melalui terobosan teknologi untuk meningkatkan kemandirian energi,” ujarnya.

Selain energi, BRIN juga mengembangkan teknologi pengolahan sampah dari skala rumah tangga hingga skala besar.

Pada tingkat rumah tangga, BRIN memiliki teknologi Lasamor untuk mengolah sampah organik. Sementara di tingkat desa, teknologi pirolisis dikembangkan untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar yang dapat dimanfaatkan, termasuk untuk kebutuhan nelayan dan petani.

Teknologi pirolisis tersebut, kata Arif, telah diterapkan di sekitar 80 titik.

Untuk pengolahan skala besar, BRIN juga memiliki teknologi pengolahan sampah menjadi energi atau PSEL dengan kapasitas beragam, termasuk 50 ton dan 100 ton per hari.

Baca Juga :  Velg Marc Marquez Rusak di Thailand, Apa Fungsi Kerb di Sirkuit Mandalika?

Pengembangan teknologi tersebut diarahkan untuk mendukung lingkungan yang lebih bersih sekaligus menunjang sektor pariwisata.

“Bapak Presiden sangat berkepentingan terhadap pentingnya kota yang sehat, desa yang sehat, desa yang bersih, kota yang bersih, karena ini sangat penting untuk menunjang wisata,” katanya.

BRIN juga mengembangkan genteng berbahan limbah sawit dan serabut kelapa. Material tersebut diklaim lebih ringan dan ramah lingkungan. Teknologi genteng itu kini diuji coba di Nias melalui kolaborasi dengan TNI Angkatan Darat.

Di sektor konstruksi, BRIN mengembangkan rumah tahan gempa yang dapat dibangun dalam waktu sekitar 14 hari dan ditargetkan siap dihuni dalam 30 hari.

Sementara di sektor transportasi udara, BRIN bersama PT Dirgantara Indonesia mengembangkan pesawat N219 dan melanjutkan riset pesawat amfibi.

Pesawat amfibi dinilai berpotensi memperkuat konektivitas antarpulau karena tidak membutuhkan pembangunan landasan pacu konvensional untuk beroperasi.

Baca Juga :  ISA Lombok FC Sabet Juara Barcelona Football Festival 2023

BRIN juga diminta mengkaji secara menyeluruh dampak penerapan biodiesel B60 dan B100 serta biofuel E30. Kajian tersebut diperlukan untuk melihat konsekuensi teknis, ekonomi, dan kebijakan sebelum diterapkan lebih luas.

Arif mengatakan Presiden Prabowo Subianto juga mendorong para periset untuk bekerja keras dan tidak mudah menyerah.

“Untuk meraih Indonesia 2045 nomor 4 besar di dunia ini, dibutuhkan kerja keras dan kesabaran,” ujar Arif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *