Lombok Barat, Jurnalekbis.com — Mengakhiri rangkaian kegiatan sepanjang tahun 2025, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Lombok Barat menggelar doa bersama sebagai momentum refleksi dan penguatan nilai spiritual, Rabu (31/12). Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian terhadap para korban bencana alam sekaligus ajakan untuk menumbuhkan kesadaran kemanusiaan di lingkungan pemasyarakatan.
Doa bersama tersebut diikuti oleh warga binaan pemasyarakatan (WBP) bersama jajaran petugas Lapas Lombok Barat. Suasana berlangsung khidmat dan penuh ketenangan, menjadi penanda penutupan tahun yang sarat dengan refleksi, harapan, serta doa untuk masa depan yang lebih baik.
Kepala Lapas Kelas IIA Lombok Barat, M. Fadli, mengatakan kegiatan ini tidak sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari pembinaan kepribadian yang berkelanjutan bagi para warga binaan. Menurutnya, nilai spiritual, empati sosial, dan kesadaran diri merupakan fondasi penting dalam proses pembinaan di lembaga pemasyarakatan.
“Melalui doa bersama ini, kami mengajak warga binaan untuk merefleksikan perjalanan hidup selama setahun terakhir. Tidak hanya tentang kesalahan masa lalu, tetapi juga bagaimana menumbuhkan empati kepada saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah,” ujar Fadli.
Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran moral agar para warga binaan memiliki kesiapan mental dan spiritual ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat. Nilai kepedulian sosial, kata dia, menjadi salah satu bekal penting agar mereka mampu berkontribusi secara positif.

Selain mendoakan para korban bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia sepanjang 2025, doa bersama juga dimaknai sebagai wujud harapan agar tahun mendatang membawa kedamaian, keselamatan, serta keberkahan bagi seluruh masyarakat.
Kegiatan tersebut berlangsung dengan tertib dan aman di bawah pengawasan petugas Lapas. Seluruh rangkaian acara dijalankan dengan penuh kekhusyukan, mencerminkan suasana reflektif yang menjadi ciri khas penutupan tahun di lingkungan pemasyarakatan.
Menurut Fadli, pembinaan mental dan spiritual merupakan bagian penting dari sistem pemasyarakatan modern. Ia menekankan bahwa keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari kedisiplinan, tetapi juga dari perubahan sikap, cara berpikir, dan kepedulian sosial warga binaan.
“Harapannya, melalui momentum akhir tahun ini, tumbuh semangat baru, baik bagi warga binaan maupun petugas, untuk terus memperbaiki diri dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan,” katanya.
Doa bersama ini sekaligus menjadi simbol harapan baru menyongsong tahun 2026, agar lingkungan pemasyarakatan semakin kondusif, humanis, dan mampu menjalankan fungsi pembinaan secara optimal.
Dengan kegiatan tersebut, Lapas Kelas IIA Lombok Barat menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada aturan, tetapi juga pada pembangunan karakter, empati, dan spiritualitas sebagai bagian dari proses pemulihan sosial bagi warga binaan.













