Lombok Barat, Jurnalekbis.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Lombok Barat terus mendorong pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dengan memanfaatkan sampah organik menjadi kompos dan pupuk cair. Melalui metode biopori, sampah sisa konsumsi warga binaan kini diolah kembali untuk mendukung lahan ketahanan pangan di dalam lapas sekaligus menekan ketergantungan pada pupuk kimia.
Program ini dijalankan sebagai respons atas tingginya volume sampah organik harian, terutama yang berasal dari dapur warga binaan. Alih-alih dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA), sampah tersebut kini dipilah dan diolah langsung di lingkungan lapas dengan melibatkan warga binaan secara aktif.
Kepala Lapas Kelas IIA Lombok Barat, M. Fadli, mengatakan pengolahan sampah berbasis biopori menjadi solusi ganda bagi lembaganya. Selain mengurangi beban sampah, program ini juga mendukung keberlanjutan lahan pertanian yang dikelola warga binaan.
“Biopori ini bukan hanya soal pengelolaan lingkungan. Kami ingin warga binaan memiliki keterampilan yang bisa mereka manfaatkan, sekaligus mengurangi penggunaan pupuk kimia di lahan ketahanan pangan lapas,” ujar Fadli, Selasa (13/1/2026).
Dalam pelaksanaannya, warga binaan mendapat pendampingan mulai dari proses pemilahan sampah organik hingga pengisian lubang biopori. Sampah berupa sisa sayur, buah, dan dedaunan dimasukkan ke dalam lubang vertikal yang dibuat khusus. Seiring waktu, material organik tersebut terurai secara alami dan menghasilkan kompos serta pupuk cair.

Pada tahap awal, Lapas Lombok Barat telah membangun 10 lubang biopori. Jumlah tersebut disesuaikan dengan rata-rata volume sampah organik harian dan dirancang mampu menampung kebutuhan pengomposan selama sekitar satu bulan.
Kepala Sub Seksi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja Lapas Lombok Barat, I Putu Ganesa, menjelaskan bahwa hasil dari biopori langsung dimanfaatkan kembali. Kompos dan pupuk cair digunakan untuk menyuburkan tanaman sayuran dan tanaman produktif lainnya yang menjadi bagian dari program ketahanan pangan lapas.
“Hasilnya tidak kami jual keluar. Semua kami gunakan sendiri untuk mendukung kegiatan pertanian di dalam lapas,” kata Ganesa.
Ia menambahkan, keterlibatan warga binaan menjadi poin penting dalam program ini. Selain belajar mengelola sampah, mereka juga mendapatkan pemahaman tentang pertanian ramah lingkungan dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.
Program pengolahan sampah organik ini sekaligus memperkuat pembinaan kemandirian warga binaan. Dengan keterampilan yang diperoleh, diharapkan mereka memiliki bekal pengetahuan yang bisa diterapkan setelah bebas nanti, khususnya di bidang pengelolaan lingkungan dan pertanian sederhana.
Melalui inovasi biopori, Lapas Lombok Barat menegaskan komitmennya tidak hanya dalam aspek pembinaan, tetapi juga dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan. Pengelolaan sampah yang sebelumnya menjadi persoalan kini diubah menjadi sumber daya yang bernilai, sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan pemberdayaan.













