Mataram, Jurnalekbis.com– Balai Taman Nasional (TN) Gunung Rinjani resmi menutup sementara seluruh aktivitas wisata pendakian Gunung Rinjani. Penutupan dilakukan sebagai langkah mitigasi risiko keselamatan pendaki sekaligus upaya menjaga kelestarian kawasan konservasi di tengah tingginya curah hujan.
Kepala Balai TN Gunung Rinjani, Budhy Kurniawan, menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan bentuk pelarangan permanen, melainkan bagian dari pengelolaan kawasan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
“Penutupan pendakian Gunung Rinjani bukanlah larangan, melainkan bentuk perlindungan. Perlindungan untuk pendaki, untuk alam, dan untuk masa depan Rinjani itu sendiri,” ujar Budhy dalam keterangannya, Senin.
Menurut Budhy, musim hujan membawa risiko tinggi bagi aktivitas pendakian. Curah hujan yang meningkat secara signifikan berdampak langsung pada kondisi jalur pendakian, mulai dari lintasan yang licin, kabut tebal yang membatasi jarak pandang, hingga aliran air yang menutup jalur tertentu.
“Kondisi ini meningkatkan potensi kecelakaan, termasuk risiko hipotermia. Dalam situasi seperti ini, keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama,” jelasnya.
Selain faktor keselamatan, penutupan sementara juga bertujuan memberi ruang bagi ekosistem Gunung Rinjani untuk memulihkan diri. Aktivitas pendakian yang intens, terutama pada musim ramai, memberikan tekanan besar terhadap tanah, vegetasi, dan satwa liar di kawasan tersebut.

“Alam juga butuh waktu beristirahat. Masa penutupan memberi kesempatan bagi tanah dan vegetasi untuk pulih, satwa kembali tenang, serta tekanan aktivitas manusia dapat dikurangi,” kata Budhy.
Balai TN Gunung Rinjani juga memanfaatkan masa penutupan untuk melakukan perawatan dan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan jalur pendakian. Sejumlah agenda telah disiapkan, mulai dari perbaikan jalur, pemeliharaan fasilitas pendukung, hingga evaluasi sistem pendakian dan standar operasional prosedur (SOP).
“Semua ini dilakukan agar ketika pendakian kembali dibuka, Rinjani berada dalam kondisi yang lebih aman dan lebih siap menyambut musim pendakian berikutnya,” ujarnya.
Budhy menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi tidak hanya bergantung pada pengelola, tetapi juga pada kesadaran dan partisipasi masyarakat serta para pendaki. Ia mengajak seluruh pihak untuk memahami dan mematuhi kebijakan penutupan sebagai bentuk tanggung jawab bersama.
“Dengan mentaati SOP dan kebijakan penutupan, masyarakat ikut menjaga keselamatan, melindungi alam, dan merawat masa depan Gunung Rinjani,” tegasnya.
Penutupan pendakian Gunung Rinjani ini, lanjut Budhy, merupakan bagian dari strategi jangka panjang pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan. Keselamatan manusia dan kelestarian alam, menurutnya, tidak dapat dipisahkan dan harus berjalan seiring.
“Mari bersama-sama memahami bahwa keselamatan dan kelestarian alam adalah prioritas utama,” pungkasnya.














